Apa itu toxic relationship

Toxic Relationship adalah ketika hubungan yang dijalani tidak lagi menyenangkan dan tidak membuat aman bagi diri sendiri ataupun orang lain. Hubungan ini akan membuat kamu yang merasa lebih buruk. Toxic Relationship seringkali terjadi karena akibat dari masalah yang sudah berlangsung lama atau sebagai akibat dari masalah yang belum pernah terselesaikan dengan baik, sehingga masalah yang terjadi terus menerus dibahas tanpa ada jalan keluar.

Toxic relationship merupakan kondisi di mana salah satu pihak dalam hubungan telah merasa dirugikan baik fisik maupun mental oleh pihak lainnya, namun tetap ingin meneruskan hubungan tersebut walaupun tau bahwa ada kerugian yang menanti di hadapan.

toxic poison-43

Sunk Cost Fallacy seringkali dijumpai pada pasangan toxic yang putus nyambung berkali-kali. Dimana hubungan tersebut tetap dipertahankan dengan alasan karena merasa hubungannnya sudah lama, sudah banyak waktu, tenaga, uang, bahkan seks sudah dikorbankan kemudian berharap pasangannya berubah atau berharap nanti hubungannya akan membaik. Padahal hubungan tersebut sudah tidak bisa dipertahankan. Satu studi bahkan pernah mengungkap fakta bahwa satu pasangan toxic mengalami putus nyambung hingga 5-7 kali, sebelum mereka benar-benar menyatakan putus[1].

Ada banyak penyebab seseorang bertahan dalam toxic relationship. Namun alasan yang paling umum biasanya datang dari hal yang paling tak rasional, yakni merasa sudah terlalu banyak berinvestasi dalam hubungan tersebut. Waktu, uang, tenaga, dan perasaan yang tercurah dalam waktu tertentu membuat seseorang merasa berat untuk merelakan hubungan yang telah dibangun meski itu menyakitkan.

Rasa sayang diakhiri biasanya menjadi alasan bagi pasangan tersebut untuk tetap mempertahankan hubungan mereka, meskipun mereka tahu itu hubungan yang sedang dijalani adalah toxic. Sayang untuk putus, karena hubungan sudah berjalan lama, menguras tenaga yang luar biasa, waktu yang lama, atau mungkin juga menghabiskan besaran materi yang dirasa cukup besar. Sehingga, tetap saja menjalin hubungan meskipun terasa melukai atau dilukai.

Bagi kita yang tidak sedang dalam hubungan toxic, adalah mudah untuk mengatakan atau memutuskan pilihan mengakhiri sesuatu yang kita pandang merugikan. Tapi, ingat, bagi mereka yang berada dalam hubungan ini, tidak sedang menggunakan logikanya. Ini tentang manusia emosional yang berusaha menggunakan rasionya, agar dapat hidup seimbang. Kalau masalah cinta, entah itu man from Mars atau woman from Venus pada dasarnya semua sama, it’s all about feeling, emosi seseorang. Sama-sama ambyar bila harus putus di saat sayang-sayangnya.

Memang tidak mudah untuk mempertahankan sebuah hubungan. Belajar berproses itu baik. Tapi, akan jadi lain soal bila hubungan tersebut melukai kita. Coba bandingkan sebelum kita berada dalam hubungan itu. Lebih baik, atau lebih buruk?

Coba pahami, bila kita terus menjalin sebuah hubungan yang melukai. Kita akan kehilangan waktu untuk melakukan sesuatu yang lebih membangun bagi diri kita. Cepat atau lambat, maka kita pasti akan menjalaninya. Kita akan tetap melalui fase kehilangan.  Kehilangan hubungan tersebut saat ini atau kehilangan diri kita di waktu mendatang? Bukankah kita sama-sama dalam fase kehilangan?

Tanda-tanda hubungan toxic

Banyak yang tidak menganggap serius toxic relationship. Padahal, dampaknya cukup besar pada diri kita. Agar tidak terjebak dalam toxic relationship yang berlarut-larut, kita harus kenali tanda toxic relationship yang harus segera diakhiri! Ada beberapa tanda toxic relationship yang bisa kamu temukan jika kamu berada di dalamnya. Tanda tersebut antara lain:

Baca Juga:  Penjelasan Ilmiah Kesurupan dan Penyebab Kesurupan

Selalu dikontrol oleh pasangan

Tanda yang paling terlihat jelas dari toxic relationship adalah salah satu pihak selalu mengontrol pihak lainnya. Sebagai contoh, pasanganmu akan memaksakan kehendaknya terhadap hidup yang kamu jalani. Jadi, apa pun yang kamu lakukan semuanya berdasarkan perintah atau persetujuan dari dia, walaupun mungkin keinginanmu tidak sejalan.

Dia juga mungkin akan mengutarakan kalimat yang membuat kamu harus menuruti kemauannya, misalnya “Aku bersikap seperti ini karena aku sayang sama kamu.” Jika kamu tidak menurutinya, dia bisa saja menuding kamu tidak menyayanginya. Hal ini membuatmu mau tidak mau mengikuti keinginannya.

Sulit untuk menjadi diri sendiri

Karena terlalu sering dikontrol, kamu tidak dapat menjadi diri sendiri. Kamu akan selalu bersikap seperti apa yang dia inginkan, bukan apa yang kamu inginkan. Bahkan, untuk sekadar berpendapat saja kamu bisa sampai berpikir berkali-kali karena takut apa yang kamu ucapkan menjadi kesalahan di mata dia.

Dalam sebuah hubungan, perubahan adalah hal yang tak bisa dihindari. Ketika kamu menjalani hubungan, maka kamu dan pasanganmu akan mengalami perubahan. Perubahan yang baik akan memberikan versi dirimu yang lebih baik, tetapi jika perubahan itu membuatmu merasa kehilangan dirimu sendiri dan tidak lagi mengenali siapa dirimu, maka itu bukanlah sesuatu yang sehat dan perlu dihindari.

Cemburu Berlebihan

Ada orang yang mengatakan, cemburu itu tanda pasanganmu menyayangimu, tapi bagaimana jika cemburu berlebihan? Ladies, jika kamu masih memiliki pemikiran seperti ini, segera hentikan. Pasalnya, tindakan yang mengatasnamakan cemburu seperti marah ketika kamu berinteraksi, baik telepon, mengirim pesan, atau bermain dengan orang lain, sehingga membenarkan tindakan memeriksa handphone-mu, meng-hack akun e-mail-mu, mengetahui seluruh password media sosialmu, bahkan mengikuti kemana pun kamu pergi, bukanlah tanda sayang, melainkan sebuah bentuk ketidakpercayaan terhadapmu.

Hal ini juga merupakan bentuk kendali dan manipulasi yang dilakukan pasanganmu. Di mana, untuk menghindari drama dan pertengkaran yang tak perlu, kamu cenderung akan mengikuti apa kemauan pasanganmu sepenuhnya, sehingga kehilangan kebebasan dan kedirianmu, bukannya menyelesaikan masalah kepercayaan dalam hubunganmu. Inilah ciri lain dari toxic relationship.

Hubungan juga dikatakan toxic saat pasangan sudah terlalu posesif. Dia selalu mau tahu tentang segala kegiatan sehari-hari kamu dan akan marah jika kamu tidak segera menjawab pesan singkatnya. Selain itu, terkadang dia juga melarang kamu untuk tidak lagi memakai jenis pakaian tertentu yang mungkin menarik perhatian orang lain.

Tidak mendapat dukungan

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang selalu memberi dukungan satu sama lain. Namun pada toxic relationship, setiap pencapaian yang diperoleh akan dianggap menjadi kompetisi.

Bahkan, pasanganmu bisa tidak senang jika kamu berhasil melakukan sesuatu yang seharusnya membuat ia bangga. Alih-alih mendapat dukungan dan apresiasi, kamu malah mendapatkan perkataan kasar dan kritik tidak membangun yang malah menghambat kesuksesanmu.

Sering dibohongi

Kejujuran merupakan salah satu pondasi untuk membentuk hubungan yang sehat. Namun, jika pasangan kamu sering berbohong dan menutupi banyak hal, itu tandanya saat ini kamu sedang berada dalam toxic relationship.

Menerima kekerasan fisik

Selain kekerasan verbal, suatu hubungan dikatakan toxic jika sudah ada kekerasan fisik di dalamnya. Pasangan yang tidak sehat secara emosional sering kali akan “main tangan” jika terjadi perselisihan dalam hubungan. Apa pun konfliknya, kekerasan fisik tidak bisa dibenarkan, ya.

Penyebab sulit menghakhiri hubungan yang toxic

Manusia lebih cenderung memilih sesuatu yang nyaman dan menghindari ancaman. Manusia lebih menyukai goal, tujuan sebuah hubungan dari pada makna hubungan tersebut. Tanpa sadar bahwa sebenarnya ekspektasi sebagai pembentuk tujuan pencapaian kadang berlebihan, terlalu imajinatif dan liar. 

Dalam psikologi kognitif dan teori keputusan, Daniel Kahneman, seorang pemenang hadiah Nobel 2002 dalam ilmu ekonomi bersama temannya Amos Tversky menamakan fenomena di atas dengan Loss aversion yaitu kecenderungan di mana keinginan untuk menghindari rugi lebih besar daripada keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Itu jugalah yang menjelaskan mengapa kita sulit merelakan dan akan lebih memilih melanjutkan keadaan yang tidak bisa membaik.

Baca Juga:  Pengertian Efek Dunning-Kruger, Orang Sok Pintar yang Merasa Tahu Segalanya

Seseorang tak bisa atau enggan melepaskan diri dari hubungan toxic karena berpegang teguh pada kenangan indah di masa lampau. Kamu percaya bahwa dirinya bisa berubah dan akan melakukan kenangan manis itu sekali lagi. Kamu berharap jika nantinya, dia akan berubah menjadi penyabar ketika kini sering membanting barang ketika marah hingga melukaimu. Tak ada seorang pun yang bisa mengubah seseorang, selain dirinya sendiri.

Kita tetap menonton film yang payah daripada pulang yang sebenarnya memberi kesempatan untuk melakukan pekerjaan produktif lainnya. Kita tetap mempertahankan hubungan yang toksik daripada mengakhiri kisah yang sebenarnya memberi kesempatan untuk mengenal batasan dan belajar cara mencintai diri. Semakin lama kita tinggal, semakin sulit kita merelakan.

Cara Keluar dari Toxic Relationship

Ketika sudah masuk dalam suatu toxic relationship, banyak orang tidak berkutik atau sulit keluar dari situasi sulit tersebut karena berbagai pertimbangan. Jangan menyerah begitu saja jika saat ini kamu berada dalam situasi ini. Lakukan beberapa hal berikut untuk keluar dari toxic relationship:

  1. Meluangkan me time agar dapat berpikir jernih sebelum mengambil keputusan.
  2. Mengalihkan perhatian dari orang-orang yang menyakiti. Sebaiknya kamu mulai menyibukkan diri sendiri dengan aktivitas yang positif dan membuatmu bahagia.
  3. Belajar melepas perlahan-lahan supaya dapat meminimalkan perasaan kehilangan.
  4. Mencurahkan isi hati dan perasaan penuh beban kepada orang-orang terdekat yang dapat dipercaya.
  5. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri.
  6. Berhenti mengharapkan akhir yang baik.

Intinya untuk keluar dari toxic relationship harus mencicipi kebahagiaan. Begitu orang tersebut bisa merasa happy tanpa pasangannya, dia bisa menjauh dari hubungan tersebut Bila kondisi hubungan toxic benar-benar terasa mengganggu, jangan ragu berkonsultasi kepada psikolog agar kamu lekas mendapatkan solusinya. Jangan sampai perasaan tak nyaman tersebut membuatmu terlalu bergantung kepada orang lain dan tidak leluasa menjalani hari-hari.

Kapan Waktu yang Tepat Mengakhiri Sebuah Hubungan Toxic?

Kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri sebuah hubungan? Banyak di antara kita yang terus bertanya-tanya perihal masalah ini. Akibat kita tak benar-benar paham dengan kondisi, kita kerap tak mengambil keputusan yang tepat. Pikiran yang selalu menyatakan: saya sudah menghabiskan banyak waktu dan usaha dalam hubungan ini, saya tak ingin menyerah sekarang. Namun perlu bagi kita untuk memahami tanda-tanda sebuah hubungan akan hancur dibanding terlalu mudah percaya jika semua baik-baik saja, padahal itu hanyalah pembelaan dari diri sendiri.

Layaknya proses hidup lainnya, hubungan romantis juga kerap kali tidak berjalan mulus. Ada beberapa keadaan yang menyebabkan hubungan romantis menjadi neraka. Diantaranya dating violence, ambivalen relationship, pasangan yang manipulatif, dan hal-hal lain yang membuat hubungan romantis menjadi hal yang menyakitkan. Apabila keadaan sudah berubah menjadi beban dan menyebabkan lebih banyak ketidak bahagiaan kerap kali semakin digenggam akan semakin menyakitkan.

Sulit sekali untuk menjawab kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri sebuah hubungan. Namun, Dr. John M. Gottman, salah seorang psikolog Amerika, telah menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk meneliti topik ini. Penelitiannya telah memperlihatkan tanda-tanda yang cukup konsisten dalam menjawab pertanyaan di atas. 

Gottman akhirnya menemukan bahwa peluang perceraian sekitar 83 persen saat muncul empat perilaku dalam sebuah pasangan. Bahkan bagi Gottman, cukup untuk menilai pasangan setelah berbicara selama tiga menit. Mendapatkan peluang 83 persen tersebut telah diuji dan dikonfirmasi berulang kali. Temuan ini menjadi hal yang penting dalam perkembangan penelitian di topik hubungan.

https://www.gottman.com/blog/the-four-horsemen-recognizing-criticism-contempt-defensiveness-and-stonewalling/

Gottman menyebut empat perilaku ini “the four horsemen of marriage apocalypse”. Dan meskipun Gottman secara khusus mengumpulkan data pada pasangan yang telah menikah, empat hal ini pun dapat ditemukan pada pasangan yang belum menikah, yaitu:

First Horseman: Criticism, terus-menerus mengkritik pasangan

Kritik berbeda dengan keluhan. Kritik dalam hubungan lebih mengarah pada diri pribadi daripada tentang tindakan atau perilaku yang bermasalah.

Berikut ini contoh sebuah keluhan:
“Saya berharap kamu bisa membantu saya cuci piring. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, saya harus tetap terjaga dan membersihkan. Ini akan membutuhkan waktu yang lebih singkat andaikan kita berdua melakukan tugas bersama-sama, atau sesekali saja kamu ikut membantu.”

Baca Juga:  Konsep Taktik Bertahan Psikologi (Defense Tactic)

Sedangkan contoh kritik:
“Kamu kurang ajar. Kamu itu egois. Kamu tidak pernah berpikir tentang bagaimana perasaanku atau semua pekerjaan yang kulakukan untukmu.”

Perbedaan dari kedua hal di atas adalah yang pertama berfokus tentang perilaku tertentu dan yang kedua fokus tentang kepribadian pasangan. Ketika kritik hadir dalam suatu hubungan, itu tidak berarti bahwa kritik itu akan berakhir. Sekali-sekali, ketika kita marah, kita bisa menggunakan kritik. Tetapi ketika itu meresap dan ketika itu adalah satu-satunya cara Anda dapat mengemukakan masalah satu sama lain, itu dapat menjadi sebuah masalah besar.
Jika Anda terus-menerus mengkritik pasangan Anda atau merasa bahwa pasangan Anda terus-menerus mengkritik Anda, ini jadi pertanda bahwa hubungan anda tak lama lagi akan berakhir. 

Second Horseman: Contempt, pasangan berhenti untuk saling menghormati

Dalam situasi yang penuh amarah atau saat ada masalah, kita kerap menghina pasangan, menggunakan sarkasme atau mengejek mereka. Tujuan dari perilaku ini adalah untuk menjatuhkan lawan bicara, atau untuk membuat mereka merasa tidak berharga. 

Jika anda pernah diperlakukan secara hina, anda tentu tahu betapa menyakitkannya hal tersebut. Dalam lingkup sebuah pasangan, penghinaan memperlihatkan jika anda atau dia tak lagi menghormati satu sama lain. Ini akan jadi tanda besar. Pasangan yang telah berhenti untuk saling menghormati hanya akan terus menerus memperlihatkan dominasi pada pasangan. Hal ini akan membunuh cinta yang ada dan menumbuhkan kebencian satu sama lain. 

Third Horseman: Defensiveness, terus-menerus bersikap defensif dalam suatu hubungan

Menjadi defensif berarti berusaha menghindari tanggung jawab atas tindakan Anda. Kita bisa bersikap defensif dengan mengalihkan kesalahan ke situasi eksternal, tetapi lebih sering kita defensif dengan mengalihkan kesalahan ke pasangan yang meminta pertanggungjawaban.

Berikut ini contoh reaksi defensif:
“Saya rasa kau tak mengurusi anak-anak kita dengan baik!”
“Ya, itu karena kau terus menerus marah hanya karena masalah hidang di meja makan dan urusan rumah. Aku tak punya waktu banyak untuk anak-anak.”

Menjadi defensif dapat muncul melalui penghinaan. Pasangan kedua tidak mendengarkan kekhawatiran pasangan pertama dan hanya mencoba untuk membelokkan kesalahan kembali pada pasangan pertama. Orang-orang defensi tidak ingin bertanggung jawab karena kurang memperhatikan kebutuhan pasangannya.

Secara umum, manusia tidak suka diberi tahu bahwa mereka melakukan sesuatu yang salah atau menyakiti orang lain. Kita memiliki kecenderungan untuk ingin berpikir baik tentang diri kita sendiri, dan percakapan seperti ini mengancam harga diri kita.

Namun, berada dalam suatu hubungan berarti menavigasi perasaan, kebutuhan, keinginan, nilai-nilai, dan ambisi dua orang; itu berarti menyadari bahwa kita mungkin melakukan hal-hal yang dapat menyakiti orang lain, bahkan ketika kita tidak bermaksud demikian.

Terus-menerus bersikap defensif dalam suatu hubungan adalah pertanda buruk. Ini berarti bahwa pasangan defensif tidak mau melihat perilaku mereka sendiri dan menyesuaikannya untuk menghentikan apa pun yang merugikan pasangan lain. Ini berarti bahwa pasangan defensif memperlakukan orang lain hanya sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan mereka,

Jika pasangan Anda terus-menerus menggunakan pembelaan diri atau Anda bereaksi secara defensif terhadap upaya mereka untuk mendiskusikan berbagai hal dengan Anda, mungkin inilah saatnya Anda memperhatikan hubungan Anda dengan seksama. Mungkin ini saatnya mengakhiri sebuah hubungan.

Fourth Horseman: Stonewalling, Tidak mau berinteraksi dan berhenti merespon pasangan

Ketika usaha untuk terus menghalangi atau membatasi muncul dalam sebuah hubungan, komunikasi kerap akan terganggu. Stonewalling (halangan) dapat muncul dalam berbagai bentuk: mematikan percakapan, tidak peduli, menarik diri, dan tak bertanggungjawab lagi. 

Ini adalah perasaan ketika Anda lebih suka melakukan hal lain daripada melakukan percakapan dengan pasangan. Anda hanya berbicara ketika benar-benar diperlukan. Ketika suatu hubungan telah mencapai tahap stonewalling, sangat sulit (walaupun bukan tidak mungkin) untuk pulih. Tetapi itu harus menjadi pertanda yang sangat kuat bahwa mungkin inilah saatnya untuk mengakhiri sebuah hubungan. 

Pada akhirnya, Anda adalah orang terbaik untuk menilai dan memutuskan hubungan dan situasi Anda sendiri. Tetapi ketika satu atau lebih dari empat tanda ini hadir dalam suatu hubungan, sudah saatnya anda berpikir lebih jernih dan bijak.  

Referensi:

https://link.springer.com/article/10.1007/s12144-016-9529-9

https://medium.com/mindful-muse/how-the-sunk-cost-fallacy-keeps-you-in-bad-relationships-7bea6742f51d

https://www.psychologytoday.com/us/blog/anxiety-files/201409/letting-go-sunk-costs

https://www.npr.org/2015/02/13/385948508/how-sunk-cost-fallacy-applies-to-love

Referensi:
  1. https://www.thehealthy.com/family/relationships/couples-back-together-breakup/[]