Jatuh cinta dan patah hati? Siapa yang belum pernah merasakannya? Hampir semua orang pernah mengalami salah satunya atau bahkan keduanya. Richards Scwhartz dari Harvard Medical School mengungkapkan jatuh cinta dan patah hati merupakan respons biologis yang alami sebagai seorang manusia. Oleh karenanya, pengalaman tersebut sangat memengaruhi seluruh bagian tubuh manusia, khususnya pada bagian otak yang berperan sebagai regulator tubuh.

brokenheart

Apa yang terjadi pada otak kita ketika kita sedang jatuh cinta?

Ketika kita jatuh cinta untuk pertama kalinya, kiya akan merasakan aliran hormon dalam otak, yaitu oksitosin (hormon cinta), dopamine (hormon kebahagiaan), dan ‘hormon seks’ seperti estrogen dan testosteron. Hormon lain, seperti adrenalin akan membuat jantung berdetak lebih cepat. Kadar hormon di dalam otak merupakan penyebab utama dalam menimbulkan perasaan yang ‘intens’ seperti rasa gembira, gugup, dan euforia.

Jatuh cinta dapat mengakibatkan pikiran obsesif dan keinginan untuk menghabiskan waktu dengan pasangan setiap saat. Terdengar seperti kecanduan? Itu karena, berdasarkan penelitian neuroscience, menunjukkan bahwa rasa cinta secara harfiah seperti obat.

Jatuh cinta mengaktifkan sistem yang sama di otak manusia mirip seperti ‘kecanduan kokain’. Terkait hal tersebut, Dr. Helen Fisher, Antropolog dan penulis ‘Why We Love’, mengatakan dalam sebuah TED tentang otak dan cinta.

“Anda tidak bisa berhenti memikirkan manusia lain. Cinta romantis adalah salah satu zat yang paling adiktif di Planet Bumi,”[1]

https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2016.00687/full

Cinta romantis dan daya tarik seksual dapat mengaktifkan sistem opioid otak manusia yang tepat, seperti heroin dan rasa sakit opioid yang merupakan bagian dari otak, dalam “keinginan” akan sesuatu. Para ilmuwan berpendapat bahwa sistem ini berevolusi untuk membantu manusia memilih pasangan terbaik. Selain itu, akan timbul perasaan bahagia ketika kita melihat bahwa seseorang adalah calon pasangan kita.

Sebuah studi 2011 menemukan, aktivitas serupa di daerah otak tertentu di antara pasangan bahagia yang sudah menikah dan di antara pasangan yang baru saja jatuh cinta. Para peneliti menyatakan, bahwa daerah otak ini bisa memberikan petunjuk tentang bagaimana beberapa pasangan tetap saling mencintai selama beberapa dekade.[2]

Bagaimana proses yang terjadi di otak ketika patah hati?

Pengalaman jatuh cinta yang dilalui oleh seseorang menimbulkan efek yang sama seperti mengkonsumsi kokain, maka patah hati dapat dianalogikan seperti pecandu yang berhenti mengkonsumsi zat adiktif apapun. Ketika seseorang kehilangan cinta, seketika tubuh akan kehilangan neurotransmitter pengantar perasaan bahagia yang mulanya banyak membanjiri tubuh. Rasa sakit yang muncul pada saat patah hati bukan hanya sekadar rasa sakit emosional, namun juga fisik.

Secara ilmiah patah hati, perasaan dicampakkan, dan kekecewaan mengaktifkan bagian otak yang merespons rasa sakit pada bagian tubuh meski tidak ada luka fisik. Pada tahun 2011, Edward seorang ahli neurologi kognitif dari Columbia University melakukan pemindaian pada otak orang-orang yang baru saja mengalami patah hati. Hasil pemindaian membuktikan bahwa bagian paling aktif dari otak ketika seseorang melalui proses patah hati adalah bagian otak yang sama dalam merespon rasa sakit yang terjadi saat terdapat luka fisik pada tubuh.[3]

“This tells us how serious rejection can be sometimes. When people are saying ‘I really feel in pain about this breakup,’ you don’t want to trivialize it and dismiss it by saying ‘It’s all in your mind.’ Our ultimate goal is to see what kind of therapeutic approach might be useful in relieving the pain of rejection. From everyday experience, rejection seems to be one of the most painful things we experience. It seems the feelings of rejection can be sustained even longer than being angry.”

Edward E. Smith, director of cognitive neuroscience at Columbia University

Bisa dibilang, kita bukannya mencintai pasangan. Kita mencintai berbagai biokimia positif yang tubuh kita produksi karena kehadiran dia. Kita menikmati biokimianya, bukan orangnya. Sama seperti kita bisa kecanduan dengan alkohol, demikian juga kita bisa sebegitu kecanduan dengan biokimia cinta. Pada awal hubungan dan masa dimana segala sesuatunya masih menyenangkan, otak kita dibanjiri berbagai hormon cinta. Kita menikmati ‘suntikan’ oxytocin, dopamine, vasopresin, serotonin, dsb setiap kali berinteraksi dengan sang kekasih hati[1].

Baca Juga:  Apa itu Barnum Effect, Penyebab Orang Percaya Ramalan, Benar atau Omong Kosong?

Siapa orangnya tidak begitu penting, karena dia selalu bisa tergantikan. Orang yang sudah pernah berpacaran beberapa kali pasti tahu bagaimana rasanya cinta sekali pada pacar pertama, lalu pada pacar kedua merasakan yang sama lagi, lalu pacar ketiga, dst. Too dark, too much? Oke, maaf. Saya hanya menyampaikan informasi, Anda tidak perlu menerima ataupun mempercayainya.

Ketika hubungan terputus (apalagi saat lagi sayang-sayangnya), kita mendadak kehilangan itu semua suguhan senyawa kimia tersebut; atau lebih tepatnya, otak kita kehilangan sosok yang bisa memicu candu-candu tersebut. Pasokan yang terhenti membuat tubuh kita berantakan selama berminggu-minggu, kadang bisa sampai sekian tahun: cemas, depresi, dan terisolasi. [4]

Bagi otak kita, rasa sakit akibat patah hati adalah sangat nyata. Maksudnya adalah, otak kita tidak dapat segera memproses peristiwa sakit hati, sehingga berkurangnya hormon dopamine tersebut diartikan sebagai kesakitan fisik dan kelelahan. Patah hati juga menyebabkan bagian prefrontal cortex seseorang menjadi tidak berfungsi, yang berpengaruh pada kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif.

Ketika dihadapkan pada kondisi ini, otak akan memasuki kondisi panik, dan tubuh akan dibanjiri oleh hormon stress seperti kortisol dan epinephrine yang mengakibatkan kram, sakit kepala, nyeri dada, dan kelelahan. Terkadang kondisi ini bertahan cukup lama bergantung pada seberapa cepat orang tersebut untuk “move on”. Namun kabar baiknya, otak kita terprogram untuk dapat beradaptasi dengan kondisi ini sehingga seiring berjalannya waktu kita terutama otak dapat menyesuaikan diri dan otak tahu bagaimana melakukannya.[5]

Baca Juga:  Sunk Cost Fallacy Dalam Wujud Toxic Relationship dan Cara Mengakhiri Hubungan Toxic

Kita mengalami fase withdrawal cinta, persis ketika seorang pecandu kehilangan zat adiksinya. Itu sebabnya tidak sedikit orang jadi sakit, menggila cari cara apapun demi bisa balikan dengan mantan. Kalaupun tidak mau (atau bisa) balikan, kita terdorong untuk mengecek media sosial, mengenang kejadian masa lalu, seolah mengais-ngais sisa candu apapun yang masih bisa dicari untuk melipur lara. Sayangnya, semua upaya itu malah makin menambah kesakitan, baik secara psikis dan juga fisik[6].

YouTube video

Sebegitu sakitnya, dunia medis mengenal fenomena stress cardiomyopathy alias broken heart syndrome, dimana orang yang patah hati memiliki jumlah adrenaline dan noradrenaline 2-3 kali lipat lebih banyak daripada orang yang serangan jantung beneran, dan 7 – 34 kali lebih banyak dibanding orang yang tidak sakit jantung. Saat kesakitan begitu, kita merasa terluka di hati. Namun karena hati hanyalah manifestasi impuls listrik di otak, maka upaya manipulasi biologis pun bisa mengurangi hati yang patah itu. Ada dua studi yang menyatakan paracetamol atau acetaminophen mampu meminimalisir rasa sakit hati, walau itu sangat tidak dianjurkan karena zat yang sama juga menumpulkan perasaan positif.[7]

Sebuah studi di tahun 2010 menemukan orang-orang yang patah hati selalu teringat akan mantannya 85% dari sepanjang waktu bangun, dan selalu dibayangi keinginan untuk balikan. Mereka menunjukkan, “signs of lack of emotion control on a regular basis since the initial breakup, occurring regularly for weeks or months. This included inappropriate phoning, writing or e-mailing, pleading for reconciliation, sobbing for hours, drinking too much and/or making dramatic entrances and exits into the rejecter’s home, place of work or social space to express anger, despair or passionate love.[8]

Ketika dipindai oleh MRI, terlihat bahwa otak mereka masih menganggap hubungan itu tetap ada. Otak yang sudah kecanduan itu tidak tahu bahwa hubungannya telah kandas. Jadi semua syaraf di sana masih menunggu suntikan neurotransmitter yang tidak pernah kunjung datang itu. Ketika melihat foto mantan, terlihat aktivitas pada bagian otak yang biasanya menyala ketika pecandu nikotin atau kokain sedang sakau.[8]

Menurut sebuah studi, ada tiga strategi umum yang orang lakukan untuk mengurangi efek kehancuran saat patah hati: memikirkan keburukan mantan, mengevaluasi perasaan, dan mengalihkan perhatian. Cara pertama memang terbukti bisa mengurangi perasaan sayang, namun ternyata itu juga menambah rasa sakit dan merasa diri bersalah telah menyudutkan dia.[9]

Baca Juga:  Fenomena Bucin alias Budak Cinta dari Perspektif Sains

Selain itu, menyakini mantan sebagai orang yang buruk tidak memperbaiki struktur otak yang sudah kecanduan dia. Jika hubungan itu sudah berjalan lama, maka pihak yang ditinggal memiliki ribuan sirkuit syaraf yang sudah melekat terkoneksi dan menciptakan memori yang sangat kuat. Mustahil berusaha menghilangkan atau melupakannya; mengingat-ingat keburukan juga akan sekaligus memicu memori kebaikannya.

YouTube video

Hal tersebut juga menyebabkan kadang kita bisa terhempas perasaan-perasaan manis ketika bertemu dengan mantan dari bertahun-tahun yang lalu. Sebagian sirkuitnya masih melekat di otak. Kita sering membayangkan hati kita berlubang besar berbentuk mantan ketika hubungan kandas. Bayangan itu tidak sepenuhnya salah, tapi itu terjadi di otak kita dan bentuknya bukan lubang hampa, melainkan rangkaian sinapsis. Otak kita tidak dengan cepat dan mudah melepaskan rangkaian itu, walau kita sudah bahagia membangun kelekatan dengan pasangan yang baru.

Justin Garcia, associate director untuk riset dan edukasi di Kinsey Institute, mengatakan kangen dan terpercik lagi itu reaksi normal, sama seperti seorang mantan pemabuk yang sudah bebas alkohol satu dekade bisa mudah tersugesti lagi ketika melihat minuman. “It doesn’t mean you still want to be with that person, It doesn’t mean there’s something wrong with you. It means there’s a complex physiology associated with romantic attachments that probably stays with us for most of our lives — and that’s not something to be afraid of, particularly if you had a great run.[10]

Itu alasan kita masih terus dibayangi rasa cinta dan sayang yang menggebu-gebu, khususnya pada minggu-minggu awal patah hati. Bukan tanda jodoh, bukan juga tanda cinta sejati. Murni efek jaringan otak yang masih terkoneksi.Tidak ada satu atau dua tehnik untuk cepat mengatasi patah hati, karena seluruh otak dan tubuh kita sudah merekam keberadaan sang mantan. Sistem itu akan terus ‘meraung-raung’ kehilangan, dan akan tetap demikian sampai kebutuhannya terpenuhi.

Referensi:
  1. Fisher, H. E., Xu, X., Aron, A., & Brown, L. L. (2016). Intense, Passionate, Romantic Love: A Natural Addiction? How the Fields That Investigate Romance and Substance Abuse Can Inform Each Other. Frontiers in psychology, 7, 687.[][]
  2. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2016673/[]
  3. https://www.medicalnewstoday.com/articles/220427#1[]
  4. https://www.cbc.ca/life/wellness/broken-heart-broken-brain-the-neurology-of-breaking-up-and-how-to-get-over-it-1.4608785[]
  5. https://news.umich.edu/study-illuminates-the-pain-of-social-rejection/[]
  6. https://www.pnas.org/content/108/15/6270[]
  7. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21510517/[]
  8. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28857575/[][]
  9. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28857575/[]
  10. https://www.discovermagazine.com/mind/your-brains-response-to-your-ex-according-to-neuroscience[]