Setiap individu dalam mempertahankan dirinya agar terlepas dari rasa stres, cemas, ataupun konflik akan melakukan sebuah strategi yaitu mekanisme pertahanan dirinya. Setiap individu perlu memahami dirinya lebih jauh misalnya dengan cara defence mechanism tersebut, apalagi bagi orang yang bekerja. Selain itu pembahasan tentang pertahanan diri ini akan menyinggung juga mengenai konsep keluarga.

Pengertian mekanisme pertahanan (defence mechanism)

Mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism) adalah strategi psikologis yang dilakukan seseorang, sekelompok orang, atau bahkan suatu bangsa untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan citra-diri. Orang yang sehat biasa menggunakan berbagai mekanisme pertahanan selama hidupnya.

Mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism) dapat diartikan cara bagaimana individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stres atau pun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak sadar.[1]Defence mechanism adalah cara yang digunakan seseorang agar dapat beradaptasi untuk menghilangkan stress dalam kehidupan sehari-hari, termasuk didalamnya kemampuan manusia dalam perubahan pertukaran sikap, pikiran, proses memperoleh informasi, pengetahuan dan ingatan (Haber & Runyon, 1984).[2]

Menurut Stuart dan Sundeen (1997)[3] mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) adalah setiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stres termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. Menurut Keliat (1999) defense mechanism adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam. Sedangkan menurut Lazarus (1984), defense mechanism adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.

Dengan demikian defence mechanism merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.

Fungsi mekanisme pertahanan (Defence mechanism)

Faktor utama penyebab perlunya dilakukan mekanisme pertahanan (defence mechanism) adalah kecemasan. Bila kecemasan sudah membuat seseorang merasa sangat terganggu, maka diri perlu menerapkan mekanisme pertahanan untuk melindungi individu. Rasa bersalah dan malu sering menyertai perasaan cemas. Kecemasan dirasakan sebagai peningkatan ketegangan fisik dan mental. Perasaan demikian akan terdorong untuk bertindak defensif terhadap apa yang dianggap membahayakannya. Penggunaan mekanisme pertahanan dilakukan dengan membelokan impuls id ke dalam bentuk yang bisa diterima, atau dengan tanpa disadari menghambat impuls tersebut.

Menurut Stuart dan Sundeen (1987)[3] individu dapat mengatasi stres dan ansietas dengan menggerakkan sumber defence di lingkungan. Sumber defence tersebut sebagai modal ekonomik, kemampuan penyelesaian masalah, dukungan sosial, dan keyakinan budaya. Jadi fungsi mekanisme defence adalah untuk mengatasi atau melindungi diri dari serangan atau hal-hal yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan.

Fungsi mekanisme pertahan diri adalah untuk melindungi pikiran/diri/diri dari kecemasan, sanksi sosial atau untuk menjadi tempat “mengungsi” dari situasi yang tidak sanggup untuk dihadapi. Selain itu mekanisme defence juga bermanfaat untuk menambah rasa memiliki kontrol terhadap situasi-situasi yang mencemaskan dan berupaya mengurangi perasaan takut terhadap orang yang tidak dikenal (Friedman, 1998).[4]

Jenis-jenis Mekanisme pertahanan (defense mechanism)

Mekanisme pertahanan atau defense mechanism adalah hal yang normal dan merupakan bagian alami dari perkembangan psikologis seseorang. Ada banyak jenis mekanisme pertahanan yang bisa dilakukan, beberapa bentuk self defense mechanism , antara lain:

Penyangkalan (denial)

Bentuk defense mechanism yang paling umum dilakukan adalah menyangkal atau denial terhadap realita atau fakta yang ada.[5] Dengan cara ini, seseorang menutup akses terhadap situasi tertentu sehingga tak akan ada dampak secara emosional. Sederhananya, seseorang memilih untuk menghindari situasi yang menyakitkan.

Bila individu menyangkal kenyataan, maka dia menganggap tidak ada atau menolak adanya pengalaman yang tidak menyenangkan (sebenarnya mereka sadari sepenuhnya) dengan maksud untuk melindungi dirinya sendiri. Penyangkalan kenyataan juga mengandung unsur penipuan diri.

Proyeksi

Terkadang, perasaan atau asumsi tentang orang lain membuat diri sendiri tak nyaman. Pada defense mechanism proyeksi, pola pikirnya cenderung dibalik sebagai bentuk pembenaran atas asumsi yang ada. Individu yang menggunakan teknik proyeksi ini, biasanya sangat cepat dalam memperlihatkan ciri pribadi individu lain yang tidak dia sukai dan apa yang dia perhatikan itu akan cenderung dibesar-besarkan.[6] Defense mechanism ini mungkin dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan karena dia harus menerima kenyataan akan keburukan dirinya sendiri. Dalam hal ini, represi atau supresi sering kali dipergunakan pula.

Baca Juga:  Apa itu Barnum Effect, Penyebab Orang Percaya Ramalan, Benar atau Omong Kosong?

Misalnya, ketika kita membenci seseorang, kita akan melakukan proyeksi bahwa orang tersebut juga membenci kita. Proyeksi ini bekerja dengan mengekspresikan keinginan atau dorongan hati kita, namun dengan cara yang tidak dikenali oleh diri untuk mengurangi kecemasan.

Represi

Represi merupakan upaya meredam suatu dorongan yang dihasilkan, dimana diri merasa terancam kemudian dorongan tersebut ditekan ke dalam alam bawah sadar manusia sehingga tidak memungkinkan orang yang bersangkutan dapat mengolahnya secara rasional. [7]

Repression (represi) juga merupakan mekanisme pertahanan diri yang tanpa disadari sering dimiliki seseorang. Ketika seseorang mengalami pengalaman menyakitkan, tanpa sadar ia berusaha untuk menyembunyikan kenyataan tersebut. Padahal, memori tersebut selalu berada dalam ingatannya.

Tak sedikit pula orang yang memilih menghindari perasaan, kenangan, atau prinsip yang tidak mengenakkan. Harapannya, suatu saat nanti semua hal yang kurang menyenangkan itu bisa terlupakan sepenuhnya. Mekanisme pertahanan represi ini bisa berpengaruh terhadap cara seseorang menjalin hubungan dengan sesama.

Misalnya, seseorang mengalami pengalaman buruk dalam hubungan asmara namun ia tidak ingin menerima kenyataan tersebut. Akhirnya, ia menjadi sulit untuk menjalani hubungan baru di kemudian hari. Contoh lain dari defense mechanism represi adalah saat seseorang bermimpi jika seseorang yang berarti dalam hidupnya meninggal, maka ini bisa menyebabkan rasa cemas dalam diri orang tersebut. Agar rasa cemas tersebut bisa ditekan, maka ia akan menutupinya dengan selalu berpikir positif dan beranggapan jika hal buruk yang ia pikirkan tidak akan menjadi kenyataan.

Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustrasi, konflik batin, mimpi buruk, krisis keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Bila represi terjadi, hal-hal yang mencemaskan itu tidak akan memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya terhadap perilaku. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang sebagai bukti akan adanya represi. Tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak terlalu menekan. Bahwa individu merepresikan mimpinya, karena mereka membuat keinginan tidak sadar yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Sudah menjadi umum banyak individu pada dasarnya menekankan aspek positif dari kehidupannya. Beberapa bukti, misalnya:

  1. Individu cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali sesuatu yang tidak menyenangkan, dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan,
  2. Berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar kejadian yang menyesakkan dada,
  3. Lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk,
  4. Lebih mudah mengingat hal-hal positif daripada yang negatif,
  5. Lebih sering menekankan pada kejadian yang membahagiakan dan enggan menekankan yang tidak membahagiakan.

Regresi

Regresi adalah keadaan dimana seseorang mundur secara mental ke tahap perkembangan sebelumnya. Hal ini dilakukan karena seseorang tidak sanggup atau mengalami kesulitan untuk maju ke tahap perkembangan selanjutnya dan kurang matang dalam beradaptasi.[8]

Regresi merupakan respon yang umum bagi individu bila berada dalam situasi frustasi, setidaknya-tidaknya pada anak-anak. Ini dapat pula terjadi bila individu yang menghadapi tekanan kembali lagi kepada metode perilaku yang khas bagi individu yang berusia lebih muda. Ia memberikan respon seperti individu dengan usia yang lebih muda (anak kecil).

Contoh defense mechanism regresi yaitu seorang pria paruh baya yang tidak merasa dirinya semakin tua, kembali ke fase phallic sehingga ia menunjukkan kegenitan dan seductiveness. Contoh lain defense mechanism regresi misalnya, anak yang baru memperoleh adik, akan memperlihatkan respons mengompol atau menghisap jempol tangannya, padahal perilaku demikian sudah lama tidak pernah lagi dilakukannya. [9]

Regresi barangkali terjadi karena kelahiran adiknya dianggap sebagai krisis bagi dirinya sendiri. Dengan Contoh defense mechanism regresi (mundur), individu dapat lari dari keadaan yang tidak menyenangkan dan kembali lagi pada keadaan sebelumnya yang dirasakannya penuh dengan kasih sayang dan rasa aman, atau individu menggunakan strategi regresi karena belum pernah belajar respon-respon yang lebih efektif terhadap problem tersebut atau dia sedang mencoba mencari perhatian.

Displacement/Pemindahan

Sesuai namanya, displacement  berusaha memindahkan perasaan negatif yang mengancam kepada hal-hal yang kurang mengancam.[10] Alih-alih mengungkapkan kemarahan kepada objek yang bersangkutan, kita malah menyerang hal lain yang terasa kurang mengancam.

Displacement merupakan tindakan pengalihan objek sasaran atau seseorang untuk memuaskan kebutuhan yang sebelumnya tidak dapat dilakukan kepada objek atau orang lain. Contoh: seseorang sangat marah atas penghinaan yang dilakukan atasannya dan untuk melampiaskannya, ia memarahi bawahannya

Apakah kamu pernah mengalami hari yang buruk, lantas kamu menuangkan emosi dan kemarahanmu kepada keluarga atau temanmu? Apabila kamu sering melakukan ini maka kamu memiliki mekanisme pertahanan diri berupa displacement (pemindahan).

Reaksi Formasi/Pembentukan Reaksi

Pembentukan reaksi merupakan dorongan-dorongan yang ditekan ke dalam alam bawah sadar manusia dapat menembus alam sadar dengan melakukan hal yang bertolak belakang dengan dorongan tersebut. Contoh: seorang ibu yang tak menginginkan anak dalam kandungannya kemudian dalam membesarkannya, ia memberi perhatian yang
berlebihan.[11]

Baca Juga:  Fenomena Bucin alias Budak Cinta dari Perspektif Sains

Individu dikatakan mengadakan pembentukan reaksi adalah ketika dia berusaha menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya (mungkin dengan cara represi atau supresi), dan menampilkan ekspresi wajah yang berlawanan dengan yang sebetulnya. [12]Dengan cara ini individu tersebut dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi ciri-ciri pribadi yang tidak menyenangkan.

Kebencian, misalnya tak jarang dibuat samar dengan menampilkan sikap dan tindakan yang penuh kasih sayang. Sebagai contoh, seorang pemuka sedang ceramah tentang seks bebas di kalangan remaja namun sebenarnya ia sendirilah yang melakukan hal tersebut. Dorongan seksual yang besar dibuat samar dengan sikap sok suci, dan permusuhan ditutupi dengan tindakan kebaikan. Pembentukan reaksi ini menjadi jenis mekanisme pertahan diri yang biasanya sangat banyak digunakan oleh masing masing individu.

Sublimasi

Sublimasi adalah mengubah atau mentransformasikan dorongan-dorongan primitif yang tidak dapat diterima norma dan masyarakat luas menjadi dorongan atau aktivitas yang sesuai dengan norma dan budaya yang berlaku. Menurut Freud, Sublimasi adalah bentuk mekanisme pertahanan diri yang menunjukkan proses kedewasaan. Ia mengubah hal buruk yang ia miliki menjadi hal yang lebih bermanfaat dan dapat diterima orang lain. 

Jika ada defense mechanism yang dianggap strategi positif, sublimasi adalah salah satunya. Orang yang menerapkan mekanisme ini memilih melampiaskan emosi atau perasaannya pada objek atau aktivitas yang lebih aman. Misalnya, seseorang sadar bahwa ia memiliki emosi tinggi. Oleh karena itu ia melampiaskan emosinya tersebut dengan berlatih bela diri. 

Contoh lainnya, seorang atasan yang marah terhadap perilaku bawahannya akan memilih melampiaskan emosinya dengan berolahraga. Selain itu, ada juga yang memilih sublimasi ke aktivitas lain yang berhubungan dengan musik atau kesenian.

Kompensasi

Kompensasi adalah upaya mengatasi suatu kekurangan dalam suatu bidang dengan cara mengupayakan kelebihannya di bidang lain. Menutupi kelemahan dengan menonjolkan sifat yang baik atau karena frustrasi dalam suatu bidang, lalu dicari kepuasan secara berlebihan dalam bidang yang lain (kompensasi berlebihan). Kompensasi dilakukan terhadap perasaan kurang mampu (inferior). Contoh : anak yang tidak pandai di sekolah, menjadi anak jagoan atau ditakuti oleh teman-temannya.

Fantasi

Dengan berfantasi pada apa yang mungkin menimpa dirinya, individu sering merasa mencapai tujuan dan dapat menghindari dirinya dari peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan kecemasan dan yang mengakibatkan frustasi. Individu yang seringkali melamun terlalu banyak kadang-kadang menemukan bahwa reaksi lamunannya itu lebih menarik dari pada kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi bila fantasi ini dilakukan secara proporsinal dan dalam pengendalian kesadaran yang baik, maka fantasi terlihat menjadi cara sehat untuk mengatasi stress, dengan begitu berfantasi tampaknya menjadi strategi yang cukup membantu.

Individu nantinya akan sering melamun tentang banyak hal dan terkadang akan menemukan jika lamunan yang dikreasikan jauh lebih menarik dibandingkan dengan kenyataan yang sedang terjadi. Namun, jika fantasi memang dilakukan dalam batasan yang normal dan berada dibawah pengendalian kesadaran baik, maka fantasi bisa berbuah sehat untuk mengatasi stres yang cukup membantu.

Rasionalisasi

Rasionalisasi sering dimaksudkan sebagai usaha individu untuk mencari-cari alasan yang dapat diterima secara sosial supaya membenarkan atau menyembunyikan perilaku yang buruk. Rasionalisasi juga muncul ketika individu menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura menganggap yang buruk adalah baik, atau yang baik adalah yang buruk.

Rasionalisasi terjadi ketika individu akan berusaha untuk mencari alasan yang baik demi menjelaskan diri dan jenis emosi yang dimiliki. Rasionalisasi ini nantinya akan membantu individu tersebut untuk membenarkan tingkah laku spesifik sekaligus melemahkan rasa kekecewaan yang terjadi.

Sebagai contoh, Seorang murid yang datang telat ke sekolah dan saat ditanya oleh guru maka ia akan berkata jika terjebak kemacetan. Namun, hal yang sebenarnya terjadi adalah ia telat bangun tidur dan memakai alasan kemacetan tersebut sebagai sebuah bentuk agar bisa diterima akal atau rasional.

Contoh lain seperti, seseorang yang ditolak kencan akan mengatakan pada orang-orang bahwa ia tidak tertarik dengan pasangan kencannya tersebut. Rasionalisasi ini dilakukan untuk melindungi harga dirinya yang ditolak.

Intelektualisasi

Terkadang ketika sedang berada di fase berusaha, seseorang akan menanggalkan seluruh emosi dan fokus pada fakta kuantitatif. Strategi ini bisa diterapkan kapan saja ketika dirasa perlu. Harapannya, dengan tidak mencampurkan emosi maka pekerjaan akan selesai dengan tuntas dan optimal.

Mekanisme ini memungkinkan kita untuk terhindar dari stres akan situasi dan lebih berfokus kepada penyelesaian secara intelek. Sebagai contoh, seseorang yang didiagnosis menderita suatu penyakit akan berusaha mencari berbagai informasi terkait penyakitnya dan cara-cara menyembuhkannya. Hal ini dilakukan untuk terhindar dari perasaan cemas dan stres akibat penyakitnya.

Baca Juga:  Trauma Bonding, Alasan Korban Bertahan dan Membenarkan Pelaku Kekerasan

Apabila individu menggunakan teknik intelektualisasi, maka dia menghadapi situasi yang seharusnya menimbulkan perasaan yang amat menekan dengan cara analitik, intelektual dan sedikit menjauh dari persoalan. Dengan kata lain, bila individu menghadapi situasi yang menjadi masalah, maka situasi itu akan dipelajarinya atau merasa ingin tahu apa tujuan sebenarnya supaya tidak terlalu terlibat dengan persoalan tersebut secara emosional. Dengan intelektualisasi, manusia dapat sedikit mengurangi hal-hal yang pengaruhnya tidak menyenangkan bagi dirinya, dan memberikan kesempatan pada dirinya untuk meninjau permasalah secara obyektif.

Disosiasi (Dissociation)

Perilaku disosiasi diartikan sebagai memisahkan memori atau emosi yang dirasa tidak menyenangkan dari kesadaran utama, seperti amnesia. Seperti mekanisme pertahanan diri lainnya, disosiasi terjadi secara tidak sadar[13]. Disosiasi dapat disebabkan oleh pengasuhan atau lingkungan rumah yang tidak berjalan baik, sering melakukan kekerasan, atau biasa dengan obat-obatan terlarang. Keadaan ini dapat mendorong munculnya disosiasi karena anak tidak dapat menghadapi kondisi tersebut dengan mudah.

Disosiasi ditandai dengan adanya depersonalisasi dan derasionalisasi. Depersonalisasi adalah perasaan bahwa seseorang tidak berada dalam tubuhnya dan tidak terhubung dengan jiwanya. Derealisasi adalah perasaan bahwa dunia dan lingkungan tidak nyata bagi seseorang.[14] Disosiasi dapat menjadi sesuatu yang membantu bagi orang yang mengalami trauma akibat kekerasan seksual atau eksploitasi.

Beban emosi dalam suatu keadaan yang menyakitkan diputus atau diubah. Mekanisme dimana suatu kumpulan proses-proses mental dipisahkan atau diasingkan dari kesadaran dengan bekerja secara merdeka atau otomatis, afek dan emosi terpisah, dan terlepas dari ide, situasi, objek, misalnya pada selektif amnesia. Contohnya : rasa sedih karena kematian seorang kekasih dikurangi dengan mengatakan “sudah nasibnya” atau “sekarang ia sudah tidak menderita lagi”.

Menghapuskan (Undoing)

Mekanisme dimana seseorang secara simbolis melakukan kebalikan sesuatu yang telah dikerjakannya, atau pikiran yang tidak dapat diterima oleh dirinya dan masyarakat. Dia secara simbolis menghapus pikiran, perasaan, atau keinginan yang tidak dapat diterima dirinya atau masyarakat.

Undoing berarti menghilangkan pikiran atau impuls yang tidak baik,seolah-olah menghapus suatu kesalahan.Misalnya pacar yang berselingkuh tiba-tiba bertindak manis didepan kekasihnya dengan demikian ia merasakan ketidaksetiaannya terhapus.

Contoh : seorang suami yang berselingkuh lalu ia memberi bermacam-macam hadiah kepada istrinya.

Simpatisme

Simpatisme adalah suatu mekanisme pertahanan diri, yang untuk meredakan atau menghilangkan kecemasan tersebut, dengan cara mencari sokongan emosi atau nasihat dari orang lain. Seseorang yang melakukan mekanisme pertahanan diri seperti ini akan mencari teman dekatnya untuk membicarakan masalah-masalah atau kecemasan yang telah diterimanya. Dia berusaha mendapatkan kata-kata yang bisa membangkitkan gairah untuk menghadapinya.[15]

Sebagai contoh, seorang wanita yang menangis terlalu berlebihan sebagai bentuk ciri ciri depresi berat pada sahabatnya tentang masalah perselingkuhan yang dilakukan oleh kekasihnya dengan harapan agar sahabatnya bisa bersimpati kemudian menegur kekasih individu tersebut.

Contoh lainnya, seorang siswa yang mengeluh bahwa dia tidak mempunyai buku2 pelajaran karena orangtuanya miskin dan tidak bisa membelikannya, lagipula ibunya sakit-sakitan.

Dalam ilmu psikiatri, mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism) merupakan salah satu bentuk penyesuaian diri untuk melindungi seorang individu dari kecemasan, meringankan penderitaan saat mengalami kegagalan, dan untuk menjaga harga diri.

Namun jika mekanisme ini terus-menerus dilakukan, justru bukannya mendapatkan perlindungan tapi akan menjadi ancaman, karena sebenarnya mekanisme pembelaan diri ini tidak redustik, mengandung banyak unsur penipuan diri-sendiri, dan distorsi realitas atau memutarbalikan fakta. Sebagian besar mekanisme ini bersifat unconcious atau di bawah sadar, sehingga sukar dinilai dan dievaluasi secara sadar.

Referensi:
  1. Vaillant, George Eman (1992). Ego Mechanisms of Defense: A Guide for Clinicians and Researchers. American Psychiatric Publishing. p. 238. ISBN 978-0-88048-404-6.[]
  2. Haber, A. & Runyon, R.P. (1984). Psychology of Adjustment. Homewood : The Dorsey Press.[]
  3. Stuart GW, Sundeen SJ (1987) Principles and practice of psychiatric nursing. C.V. Mosby, St Louis[][]
  4. https://books.google.co.id/books/about/Family_Nursing.html?id=1T9tAAAAMAAJ&redir_esc=y[]
  5. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/denial/art-20047926[]
  6. Sigmund Freud, Case Histories II (PFL 9) p. 132[]
  7. Janet Malcolm, Psychoanalysis: The Impossible Profession (1998) []
  8. Apter, A., Plutchik, R., Levy, S., Korn, M., Brown, S., & van Praag, H. (1989). Defense mechanism in risk of suicide and risk of violence. American Journal of Psychiatry, 146, 1027–1031.[]
  9. Diehl, M., Chui, H., Hay, E. L., Lumley, M. A., Gruhn, D., & Labouvie-Vief, G. (2014). Change in coping and defense mechanisms across adulthood: Longitudinal findings in a European-American sample. Developmental Psychology, 50, 634–648.[]
  10. Salman Akhtar, Comprehensive Dictionary of Psychoanalysis (2009) []
  11. http://www.psychpage.com/learning/defenses.html[]
  12. Charles Rycroft, A Critical Dictionary of Psychoanalysis (London, 2nd Edn, 1995) []
  13. https://www.psychologytoday.com/blog/pathological-relationships/201211/dissociation-isnt-life-skill[]
  14. Abigail Christine Wright. “Dissociation as a Psychological Defense Mechanism[]
  15. Poduska, Benard. 2000. Empat Teori Kepribadian. Jakarta: Restu Agung.[]