Pernahkah kita melihat orang yang berargumen dengan percaya diri padahal tidak mengetahui apa-apa? Sebaliknya pernahkah kita melihat orang-orang pintar yang kurang percaya diri atas kepintarannya sendiri? Pernahkah kita menonton acara pencarian bakat menyanyi lalu ada peserta yang saat menyanyi ternyata suaranya sumbang banget tapi tetap percaya diri untuk terus bernyanyi? Lalu, saat ditanya dia bilang cita-citanya memang ingin jadi Penyanyi Internasional. 

Pernahkah kita menjumpai seseorang yang inkompeten tapi kok percaya diri banget? Mirip dengan “tong kosong nyaring bunyinya” walaupun tidak semua orang inkompeten banyak ngomongnya, karena ada juga yang hanya merasa PD saja. Pastinya hal ini bukanlah hal yang jarang terjadi. Atau kita sering melihat netizen di kolom komentar yang yang sudah jelas-jelas salah tapi tetap merasa kalau dia benar? Bisa jadi orang-orang seperti itu mengalami Dunning-Kruger Effect

Sejak virus corona COVID-19 menyebar ke banyak negara, sejumlah teori konspirasi berkembang luas di masyarakat. WHO memperingatkan, teori konspirasi tentang virus corona dapat menyulitkan penanganan penyakit karena menyebarkan pemahaman yang salah pada masyarakat.

Michael J Spivey menuliskan dalam Psychology Today, masyarakat harus percaya pada dokter dan ilmuwan yang berkecimpung dalam bidang virus, alih-alih percaya pada teori yang sebagian besar mengandung disinformasi dan misinformasi yang bisa menyesatkan masyarakat. Menurut Spivey, ada ribuan orang Amerika Serikat yang seharusnya tidak mati karena virus ini. Banyak orang yang mempercayai saran dari politikus atau tokoh tertentu untuk tidak tinggal di rumah dan tidak mengenakan masker di depan umum. Anggota keluarga korban kehilangan orang yang mereka cintai, bukan karena itu tidak bisa dihindari, tetapi karena beberapa tokoh meyakinkan mereka bahwa coronavirus “tidak lebih buruk dari flu biasa.” Sains harus lebih dipercaya dalam penanganan virus sebab seorang ahli dalam ilmu kedokteran tahu, biokimia sel manusia dan partikel virus memiliki beberapa kesamaan penting. Namun, seorang politikus atau tokoh tanpa latar belakang ilmu kedokteran tidak mengetahui hal ini.

Di dunia ini, tentu ada saja orang yang merasa sok pintar. Dalam psikologi, orang-orang yang merasa dirinya pintar bisa saja terkena Dunning-Kruger Effect. Orang yang mengalami efek tersebut akan merasa unggul dari segi pengetahuan maupun kemampuan yang dimilikinya. Memang menjadi sebuah kecenderungan bahwa orang yang baru memiliki sedikit pengetahuan atau keterampilan merasa dirinya paling jago di bidang itu.

Orang yang memiliki pengetahuan terbatas menanggung dua beban. Mereka tidak hanya telah menarik kesimpulan yang salah, melainkan juga memiliki ketidakmampuan untuk menyadari kesalahan tersebut

Dunning dan Kruger

Apa itu Dunning-Kruger Effect?

Dunning-Kruger Effect adalah fenomena dalam psikologi yang dapat didefinisikan sebagai bias kognitif di mana seseorang keliru menilai kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Individu yang mengalami Dunning-Kruger Effect akan merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya. Bias ini dikaitkan dengan ketidakmampuan metakognitif untuk mengenali kemampuan mereka sendiri. 

Pengertian Dunning-Kruger Effect adalah suatu bias kognitif atau kekeliruan dalam menilai dan berpikir mengenai kemampuan yang dimiliki. Orang tersebut percaya bahwa dia lebih pintar dan lebih mampu daripada kenyataannya. Ini terjadi karena kombinasi antara kesadaran diri yang buruk dan kemampuan kognitif yang rendah sehingga membuatnya terlalu tinggi dalam menilai kemampuan diri sendiri.

Efek ini pertama kali dikembangkan oleh dua orang yang menjadi cikal bakal namanya, yaitu David Dunning dan Justin Kruger dari Cornell University, dalam penelitian ilmiah yang dilakukan sejak tahun 1999. Satu kesimpulan yang mereka kemukakan adalah orang dengan tingkat keahlian rendah cenderung menilai dirinya melebihi kenyataan, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan membentuk khayalan bahwa dirinya hebat (illusory superiority).

Psikolog David Dunning dan Justin Kruger dari Universitas Cornell telah mempelajari efek ini yang menunjukkan kemampuan dan pengetahuan yang hanya parsial pada suatu subjek dapat menyebabkan tingkat kepercayaan diri yang terlalu tinggi dalam keterampilan seseorang. David dan Justin awalnya terinspirasi kasus McArthur Wheeler, seorang pria yang merampok 2 bank yang menutupi wajahnya dengan perasan air jeruk dan yakin bahwa wajahnya akan tidak terlihat dan tidak terekam oleh kamera pengawas, sama seperti menulis dengan tinta perasan air jeruk maka tulisannya akan tidak terlihat.

Baca Juga:  Sunk Cost Fallacy Dalam Wujud Toxic Relationship dan Cara Mengakhiri Hubungan Toxic

David Dunning dan Justin Kruger melakukan eksperimen di tiga bidang: humor, logika penalaran, dan grammar bahasa Inggris. Di tes grammar bahasa Inggris, 84 responden yang berpartisipasi di eksperimen itu diminta memberi penilaian terhadap diri mereka sendiri selepas mengerjakan soal. Hasilnya, ternyata orang-orang yang kemampuannya rendah (para responden yang berada di10 persen nilai terbawah) menilai kemampuan berbahasa Inggris mereka amat tinggi dan bisa diandalkan, sebaliknya orang yang memiliki pengetahuan lebih luas cenderung menilai kemampuan mereka lebih rendah daripada skor yang mereka peroleh. Penelitian ini dipublikasikan pertama kali di Journal of Personality and Social Psychology pada 1999 dan bertajuk “Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One’s Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments“. Hingga sekarang bias kognitif tersebut populer dengan nama efek Dunning-Kruger. Grafik perbandingan tingkat kepercayaan diri dengan kompetensi digambarkan sebagai berikut

Dunning-Kruger Effect adalah suatu fenomena psikologi di mana seseorang merasa dirinya memiliki kemampuan atau pengetahuan yang tinggi padahal tak sesuai dengan realitas. Orang dengan kondisi ini juga menganggap orang lain salah dan bodoh.

Apa Penyebab Efek Dunning-Kruger?

Dunning dan Kruger menemukan fakta bahwa mereka yang punya skill di bawah rata-rata ternyata tidak punya cukup skill untuk mendeteksi kekurangan mereka dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dengan kata lain, mereka tidak tahu bahwa mereka tidak mampu dan punya banyak hal yang mereka tidak tahu. Sebaliknya, mereka yang punya kemampuan rata-rata dan cukup baik, biasanya tahu betul kekurangan mereka karena mereka punya cukup skill untuk mendeteksinya.

Salah satu alasan kenapa efek Dunning-Kruger dapat terjadi disebabkan karena adanya problem metakognisi pada individu tersebut. Orang yang terkena bias kognitif ini sering kali merupakan orang yang abai, ceroboh, dan kurang peduli secara mendalam terhadap bidang yang tidak ia kuasai. Karenanya, secara tiba-tiba ia sok pintar dan merasa tahu segalanya.

Mereka yang tidak sadar bahwa dirinya terkena efek Dunning-Kruger juga bisa mendapatkan informasi atau pengetahuan yang keliru. Sayangnya, mereka tidak tahu dan tidak sadar bahwa sumber itu salah. Alhasil, mereka terlanjur “memegang teguh” dan menyebarluaskan informasi tersebut, meski sebenarnya informasi tersebut tidak akurat.

Kurangnya kemampuan yang mereka miliki (tidak kompeten) adalah penyebab utama efek Dunning-Kruger. Untuk menutupi ketidakmampuan tersebut, mereka justru membuat dirinya tampak ahli. Mereka enggan dianggap bodoh dan enggan mengakui kesalahan sehingga mereka lebih memilih menginjak “pedal” percaya diri kuat-kuat.

Penyebab lain yang dari Dunning-Kruger Effect adalah ego. Orang yang sok tahu pun biasanya punya gengsi besar. Tentu, setiap orang tidak ingin berpikir bahwa ia adalah orang yang tidak memiliki kemampuan. Hal ini membuat orang meningkatkan penilaian terhadap dirinya dan mengabaikan (ignorance) kelemahan diri.

Ciri-ciri Dunning-Kruger Effect

Siapa yang paling rentan akan delusi ini? Semua orang sebenarnya ada kemungkinan untuk mengalami efek Dunning-Kruger, sekalipun dia adalah orang yang pintar. Ternyata kita semua tanpa kecuali, karena tidak ada orang yang serba bisa alias bisa segalanya. Sebab, informasi dan pengetahuan itu cenderung berubah (dinamis), sehingga kita sering kali tidak mengikuti perkembangannya, terlanjur memakai ilmu lama, dan merasa paling tahu.

Namun, ketika kita bersikukuh dengan apa yang kita ketahui tanpa mau dikritik dan menjadikan kondisi tersebut sebagai tameng supaya kita dianggap paling pintar, maka bisa jadi kita mengalami Dunning-Kruger effect. Apalagi kalau ujung-ujungnya kita meremehkan kemampuan orang lain. Ya, itulah ciri orang sok pintar.

Apakah semua orang yang selalu merasa benar mengalami Dunning-Kruger Effect? Nah, menurut David dan Justin orang yang mengalami Dunning-Kruger Effect biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: cenderung berlebihan menilai tingkat keahliannya, tidak mampu untuk mengenali keahlian diri orang lain, tidak mampu untuk mengenali aspek buruk dari ketidakcakapannya, serta tidak mampu mengenali dan mengakui kekurangan dari diri sendiri. 

Dalam penelitian Dunning dan Kruger, mereka melakukan pengujian terhadap partisipan dengan rangkaian tes logika, tata bahasa, dan humor. Hasil dari penelitian ini cukup mengejutkan yaitu:

“Orang-orang yang memiliki nilai rendah cenderung menilai diri mereka mendapat nilai yang tinggi. Sebagai contoh: orang-orang yang mendapat nilai 12% justru menganggap kemampuan mereka sebesar 62%. Hal ini mengungkapkan bahwa tidak hanya mereka kurang mampu mengerjakan tes tersebut, mereka juga tidak mampu menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat”.

Contoh penelitian lain yang serupa dilakukan pada tahun 2018. Ian Anson, seorang asisten profesor di Universitas Maryland Amerika Serikat, Melakukan survei dengan judul “Exploring Survey Repositories to Analyze Partisans’ Perceptions of Reality” terhadap 2.606 orang Amerika dewasa. Ian Anson melakukan survei tentang pemahaman politik warga amerika serikat.

“Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang Amerika yang menganggap dirinya sedikit mengetahui tentang politik justru lebih pintar atau paham pengetahuan politik dibandingkan orang-orang yang mengaku paham politik”.

Lebih lanjut, untuk memahami bagaimana tolak ukur perbedaan orang pintar dan orang bodoh, kita harus memahami fase-fase kompetensi. Menurut Martin M. Broadwell, setiap individu harus melalui 4 fase tertentu untuk mencapai kemampuan yang ahli dalam suatu bidang. 4 Fase tersebut adalah sebagai berikut.

Baca Juga:  Kebohongan, Bias Konfirmasi dan Suburnya Berita Bohong (Hoax)

Fase Pertama: Unconscious Incompetence (Secara tidak sadar kurang mampu)  

Ini merupakan fase awal sebelum kita mempelajari apa pun dalam bidang apa pun. Hal yang pertama yang cenderung dilakukan adalah ketika kita melakukan kesalahan dan tidak mengetahui bahwa kita telah melakukan kesalahan. Orang-orang yang berada di tahap ini akan menunjukkan rasa percaya diri tinggi dan mencoba menolak segala kritikan terhadap orang yang mencoba meluruskan pemikiran mereka. Gampangnya, pada fase ini kita akan merasa sok tahu tentang apa yang orang lain bicarakan.

Fase Kedua: Conscious Incompetence (Secara sadar kurang mampu) 

Fase selanjutnya adalah ketika kita melakukan kesalahan dan kita sadar akan kesalahan itu. Seiring bertambahnya pengalaman mungkin kita akan merasa begitu putus asa karena tidak mengetahui apa pun terhadap yang kita pelajari. kita akan merasa kurang mampu untuk bisa melakukan sesuatu dengan benar. Secara sederhana, kita mengetahui kesalahanmu tetapi tidak tahu apa yang harus kita lakukan.

Fase Ketiga: Conscious Competence (Secara sadar mampu) 

Ketika memasuki fase ini, kita sadar bahkan telah mampu mempelajari kesalahan-kesalahan masa lalu. Kita telah mempelajari cara melakukan sesuatu dengan benar dan sadar akan batas-batas kebenaran tersebut. Kita telah mendapatkan pencerahan untuk fokus terhadap hal yang kita kerjakan.

Fase Keempat: Unconscious Competence (Secara tidak sadar telah mampu atau Expert)

Kita telah mencapai puncak tertinggi ketika kita secara tidak sadar telah mampu mengerjakan sesuatu dengan benar. Kita melakukan sesuatu dengan benar tanpa harus berpikir panjang terhadap apa saja yang harus diperbuat. Dapat dikatakan kita telah memahami instruksi tanpa harus berpikir mengenai instruksi tersebut. Peningkatan kemampuan ini tentunya harus dicapai dengan belajar dari kesalahan, melakukan berbagai latihan, dan bimbingan dari orang yang lebih ahli.

Dampak Dunning-Kruger Effect

Umumnya, orang dengan Dunning-Kruger Effect memang memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Ketika ia memiliki secuil informasi mengenai suatu topik, ia merasa sangat berpengetahuan dan menjadi ahli. Ia juga bisa saja memercayai informasi yang salah dan dengan percaya diri menyebarkannya pada orang lain.

Jika dibiarkan, kekeliruan informasi dari orang yang mengalami Dunning-Kruger Effect bisa menyebar dan mungkin menyebabkan keresahan. Fenomena ini dapat muncul di mana saja dalam berbagai bidang. Tanpa mempelajarinya lebih jauh, ia juga bisa langsung menyuarakan atau mengambil keputusan. Ketika seseorang memiliki pengetahuan yang minim mengenai suatu hal, maka hal tersebut memang akan tampak sederhana sehingga enteng baginya untuk mengatakan apa pun. Sayangnya, orang dengan Dunning-Kruger Effect tak mudah dikritik karena merasa dirinya benar.

Pengetahuan memang dapat menarik perhatian, Alhasil, itu akan menjadikan kita sebagai pusat perhatian. Sayangnya, itu semua cuma sementara. Ketika apa yang kita katakan itu ternyata salah atau tidak memberikan efek yang baik, seperti apa yang dijanjikan sebelumnya, maka kita akan ditinggalkan. Kita justru jadi orang yang sulit untuk dipercaya, dianggap sok pintar, sok tahu, dan bisa jadi dianggap pembual. Bahkan, ini bisa menambah jumlah hoaks yang beredar di dunia maya maupun dunia nyata.

Orang yang sok tahu dan sok pintar akan mengambil keputusan dengan ekstra cepat tanpa berpikir panjang. Dan orang yang tidak mengakui kekeliruannya, tetapi masih saja ngeles alias banyak alasan, justru akan menjadi bahan bercandaan orang lain (secara negatif).

Pada level pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi, Dunning-Kruger Effect ini malah membahayakan arah strategi organisasi. Efek ini juga bisa dimiliki oleh mereka yang telah berposisi tinggi namun punya keterbatasan dalam memahami hal-hal tertentu.

Dunning-Kruger Effect sebenarnya merupakan fenomena umum karena studi menunjukkan lebih dari 88 persen individu mempunyai kecenderungan untuk overestimasi kemampuan diri sendiri. Yang mencengangkan, mereka yang mempunyai kemampuan rendah biasanya termasuk yang sangat overestimasi. Dengan kata lain, mereka yang “kurang punya kemampuan merasa diri super.” Bahkan, tidak jarang yang tidak mampu merasa diri sebagai “pakar.”

Cara menghindari Dunning-Kruger Effect

Lalu apa yang bisa kita lakukan agar tidak terkena efek Dunning-Kruger ini? Ada beberapa cara nih yang bisa kita coba. Berikut hal yangbisa lakukan untuk menghindari Dunning-Kruger Effect dan memperoleh penilaian realistis tentang kemampuan kita sendiri:

Teruslah belajar dan berlatih 

Alih-alih merasa tahu segalanya tentang suatu topik, teruslah menggali lebih dalam. Setelah kita mendapatkan pengetahuan yang lebih besar, teruslah belajar dan mencari tahu lebih dalam. Jangan berasumsi bahwa kita sudah mengetahui segalanya. Ketika kita mendapatkan lebih banyak informasi mengenai suatu topik, kita akan menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Hal ini akan mengurangi kecenderungan untuk berasumsi bahwa kita sudah Ahli, padahal sebenarnya yang kita ketahui belum seberapa. Hal tersebut dapat melawan kecenderungan untuk menganggap diri kita sebagai seorang yang tahu segalanya.

Baca Juga:  Penjelasan Ilmiah Kesurupan dan Penyebab Kesurupan

Terus tingkatkan kemampuan di bidang tersebut, karena mereka yang mempunyai skill sedikit di atas rata-rata atau lebih biasanya punya kemampuan observasi diri cukup. Observasi cukup ini penting agar dapat belajar baik untuk mencapai kemampuan lebih mumpuni.

Belajar untuk lebih obyektif akan kemampuan diri dapat dilakukan dengan membandingkan hasil (result), bukan hanya prosesnya. Gunakan indera dengan lebih jeli agar setiap problem dapat ditangkap dengan jelas.

Evaluasi dan meminta masukan orang lain

Strategi lainnya agar tidak terkena efek Dunning-Kruger ialah dengan meminta kritik yang konstruktif dari orang lain. Pertama, pastikan untuk mendapatkan feedback akan apa yang dapat kita perbaiki. Tidak jarang seseorang mengharapkan input dari orang lain namun malah menyebabkan pertikaian jika masukannya kurang enak didengar. Pada awalnya mungkin akan sulit bagi kita untuk menerima kritik dari orang lain, namun umpan balik dari orang lain akan membuka pikiran dan dapat memberi wawasan bagi kita mengenai bagaimana orang lain memandang kemampuan diri kita. Apabila penyampaiannya negatif, lakukan reframing pikiran agar negatifitas dapat berubah menjadi positif.

Bertanya dan berfikir kritis terhadap keyakinan kita sendiri

Orang-orang cenderung merasa percaya diri ketika mereka diminta membuat keputusan dalam waktu singkat. Jika ingin menghindari efek Dunning-Kruger, maka berhentilah sejenak dan ambil jeda waktu untuk berpikir mengenai keputusan yang akan kita ambil ataupun pernyataan yang akan disampaikan di publik.

Meski telah belajar lebih banyak dan mendapat umpan balik dari orang lain, cobalah bertanya pada diri sendiri apakah yang kita ketahui sudah tepat. Masih ada kemungkinan bagi kita untuk fokus hanya pada hal-hal yang sesuai dengan selera kita. Ini merupakan contoh lain dari bias psikologis yang disebut Bias Konfirmasi. Mulailah biasakan diri untuk melakukan hal tersebut. Carilah informasi yang berlawanan dengan pengetahuan yang kita yakini, hal ini akan menimbulkan pertanyaan, “Hmm, Apa benar? Mungkin selama ini aku salah?

Ubah cara kita berlogika, cobalah untuk mencari alasan lain yang menopang sebuah argumen. Mencoba cara berlogika baru akan mengembangkan kemampuan penalaran kita menjadi lebih fleksibel, serta menambah kemampuan metakognisi.

Kita pasti memiliki asumsi terhadap suatu hal berdasarkan informasi yang kita peroleh. Cobalah untuk melakukan pertanyaan kritis terhadap asumsi kita sendiri, terutama asumsi tentang kejadian sehari-hari yang bisa dinilai tidak hanya secara baik atau buruk.

Jika selama ini kita memiliki asumsi yang diterima begitu saja, tantang asumsi tersebut. Jangan percaya pada insting ataupun perasaan mengenai hal baik atau buruk. Cobalah mencari kontradiksi dari keyakinan yang kita miliki. Carilah argumen penopang atau tanyakan kepada orang dekat atau guru kita mengenai suatu klaim pengetahuan, sampai pada detail bukti-bukti spesifik yang mendasarinya.

Misalnya, ada orang yang terbiasa berterus terang dalam mengungkapkan pendapat, ada yang malu-malu mengungkapkannya. Dua gaya berpendapat tadi tentulah dipengaruhi lingkungan dimana orang tersebut berkembang. Tidak bisa kita memberi asumsi negatif terhadap salah satu gaya berpendapat tersebut. Bila kita tipe yang berterus terang, maka kritislah terhadap ketidaksukaan kita terhadap gaya yang malu-malu. Bisa jadi lingkungannya yang membentuk bahwa kalau terus terang bukan merupakan sikap yang sopan.

Sebaliknya, bila kita tipe yang malu-malu, kritislah terhadap pemahaman kita yang mengganggap bahwa gaya berterus terang itu tidak sopan. Lihatlah lawan bicara berasal dari mana, pahami bahwa lawan bicara kita bukan bermaksud tidak sopan, tapi memang tidak bisa mengungkapkannya dengan bahasa yang tersamarkan. Dengan saling memahami seperti itu, kita akan lebih mudah menyesuaikan diri di situasi apapun.

Rasa percaya diri obyektif dan yang semu ini sering kali mirip dirasakan oleh diri kita dan sulit dibedakan di dalam diri orang lain. Padahal, dengan mengenali kemampuan sebenarnya, kita baik dalam pengambilan keputusan. Ingatlah! bahwa jika kita belum mengetahui sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakan tidak tahu dan bertanya mengenai hal tersebut. Ketidak tahuan bukanlah suatu kelemahan, melainkan sebagai pendorong semangat untuk terus belajar!

Itulah kira-kira 3 cara yang dapat kita lakukan untuk menghindari Efek Dunning-Kruger. Tetaplah berpikir kritis dan logis terhadap apa yang menjadi kemampuan diri kita sendiri dan juga orang lain. Percaya diri boleh kok, tapi tetap rendah hati dan jangan sombong. 

Referensi

https://www.psychologytoday.com/us/contributors/michael-j-spivey-phd

https://www.researchgate.net/publication/12688660_Unskilled_and_Unaware_of_It_How_Difficulties_in_Recognizing_One’s_Own_Incompetence_Lead_to_Inflated_Self-Assessments

http://methods.sagepub.com/case/exploring-survey-repositories-to-analyze-partisans-perceptions-of-reality

https://en.wikipedia.org/wiki/Four_stages_of_competence