Ketulusan yang kita berikan kepada orang lain memang tidak selalu mendapatkan balasan yang sama. Kita tentu sering kali memberikan hal-hal, misalnya waktu, tenaga, dan pikiran demi orang-orang yang kita sayangi. Namun, orang tersebut tidak menganggapnya sebagai suatu pengorbanan besar. Hal tersebut didefinisikan sebagai sunk cost fallacy.

Memaksakan diri menonton film di bioskop yang sangat membosankan sampai habis. Dalam benak mikir “Duh nanggung. Udah setengah jalan nih.” Atau bisa jadi juga karena sayang udah keluar uang untuk bayar bioskop.

Sunk Cost Fallacy
Original Illustration by OMG I’m Thirty

Atau ketika maksakan makan sampai begah di restaurant All You Can Eat, meskipun sadar itu mungkin gak baik untuk kesehatan. Pikiran yang sering terlintas “Udah bayar ini, kudu cuan!”

Pengertian Sunk Cost Fallacy

Sunk cost fallacy adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi seseorang yang telah “menginvestasikan” sesuatu pada orang lain. Investasi tersebut dapat berupa waktu, tenaga, perasaan, hingga uang. Hal tersebut biasanya dilakukan karena perasaan menyayangi secara tulus. Meskipun sebenarnya belum tentu orang yang menerima investasi tersebut benar-benar memahami dan dapat memberikan balasan yang setimpal dengan perhatianmu.

Sunk cost adalah konsep yang dipakai di dunia ekonomi dan bisnis di mana biaya yang dikeluarkan tidak bisa dikembalikan. Dalam penerapannya di kehidupan, sunk cost membuat kita tidak mau menyerah hanya karena kita sudah mengeluarkan biaya yang berupa uang, tenaga, waktu, dan juga emosi di masa lalu.

YouTube video

Meskipun kita percaya bahwa konsisten melakukan sesuatu adalah hal yang baik, kita juga harus ingat bahwa itu harus diimbangi dengan konteks yang baik juga. Jika konteksnya sudah kacau dan mengubah keadaan adalah hal yang tidak mungkin, menyerah pada rencana yang sudah tidak bisa bekerja adalah keputusan yang lebih baik daripada tetap melanjutkan rencana dengan perasaan yang buruk.

Kita akhirnya terdorong untuk melanjutkan usaha pada hal yang sebenarnya membuat kita tidak bahagia bahkan lebih buruk. Sama seperti dalam sebuah hubungan yang toksik. Kita sudah tahu bahwa tetap tinggal di dalam hubungan hanya akan membuat kita makan hati, tetapi karena kita merasa sudah menginvestasikan uang untuk kado ulang tahunnya, tenaga untuk mengobrol di tengah malam, waktu untuk menemani si doi, atau emosi untuk kesalahan besarnya, kita sulit merelakannya.

Jadi, pengambilan keputusan untuk tetap bertahan adalah hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Menjalin hubungan tetapi tidak bahagia. Kenyataannya, jumlah investasi di masa lalu tidak selalu sejalan dengan apa yang kita inginkan. Karena sangat berat bagi kita, sebagai manusia normal, untuk mengakhiri segala sesuatu yang telah kita korbankan untuk suatu hal lain (walaupun hal itu mungkin lebih bagus).

Baca Juga:  Schadenfreude adalah penyebab manusia bahagia melihat kemalangan dan penderitaan orang lain

Pada dasarnya manusia lebih takut kehilangan daripada mendapatkan sesuatu dengan value yang sama. Dalam psikologi kognitif dan teori keputusan, Daniel Kahneman bersama temannya Amos Tversky menamakan fenomena di atas dengan Loss aversion yaitu kecenderungan di mana keinginan untuk menghindari rugi lebih besar daripada keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Itu jugalah yang menjelaskan mengapa kita sulit merelakan dan akan lebih memilih melanjutkan keadaan yang tidak bisa membaik. Tentu sebelum mengambil keputusan, kita sudah menimbang dengan baik. Namun, ketika sudah berjalan tapi dalam hati kecil kita mulai terbersit hal-hal sejenis ini:

Kita sudah sampai tahap ini, sayang banget kalau…. “

Sudah bayar sekiann, cobain dulu deh….“

Tanggung, buku ini sudah setengah saya baca… “

Sudah 6 bulan kita melakukan ini, sebentar lagi pasti terlihat hasilnya….”

Mungkin ada baiknya kita mulai merefleksikan. Apakah benar kita perlu melanjutkan karena hal ini memang baik. Atau karena kita menghindari dilema ketika kita harus membuang segala sesuatu yang telah kita korbankan sebelumnya.

Contoh Sunk cost fallacy

Sunk cost bias adalah masalah umum bagi individu namun juga bisa menjadi masalah serius bagi bisnis dan instansi pemerintah. Sebagai contohnya:

  1. Kita adalah pengusaha atau pemilik usaha kecil yang sudah menginvestasikan waktu, uang, dan harga diri pribadi dalam produk yang kinerjanya buruk dan sepertinya tidak akan pernah menghasilkan keuntungan. Jadi, kita memilih untuk mengeluarkan semua aset kita yang tersisa ke produk tersebut, daripada mengakui bahwa pilihan pertama adalah buruk, menariknya, dan kita berpindah ke yang baru.
  2. Kita adalah tentara militer pemerintah nasional  dan kita telah menenggelamkan jutaan atau miliaran dolar untuk sebuah pesawat militer yang sudah usang sebelum mencapai landasan pacu. Jadi, kita lebih memilih mengeluarkan jutaan lebih untuk menyelesaikan proyek ini, daripada melihat opsi yang lebih baik untuk kekuatan udara militer.
  3. kita adalah eksekutif perusahaan yang memperjuangkan kampanye iklan meskipun  gagal total. Jadi, kita akan memberi tahu staf kita untuk menghabiskan lebih banyak uang untuk meningkatkan konsep kampanye yang sama.
  4. Ketika design dari staff bergaji rendah dibandingkan dengan konsultan Branding berbiaya mahal. Pengambil keputusan cenderung akan lebih memilih ide dari konsultan berbiaya mahal tersebut, meski mungkin menurut penilaian banyak orang hasil staff bergaji rendah lebih bagus.
  5. Katakanlah aku mempunyai sebuah koin. Jika setelah aku lempar koin itu jatuh dalam keadaan angka di atas, maka kamu akan aku beri uang Rp. 50.000, tetapi jika sebaliknya, kamu harus membayarku Rp. 50.000. Mau? Kebanyakan orang akan menolak taruhan tersebut karena tidak kehilangan Rp.50.000 lebih menyenangkan daripada mendapatkan Rp. 50.000 yang belum pasti.
  6. Bagaimana kalau karier? Bayangkan kita sudah bekerja selama 15 tahun di sebuah perusahaan. Baiknya pengabdianmu tidak sejalan dengan baiknya kehidupanmu. Pekerjaanmu tidak memberikan kebahagiaan, tidak memberikan kepuasan dan membuatmu lupa arah. Jika aku bertanya padamu apakah kamu mampu untuk keluar dari pekerjaan itu, apa yang akan kamu jawab? Aku tidak yakin kamu akan melakukannya karena pertimbangan terbesarmu adalah jumlah investasimu selama 15 tahun.
  7. Kita tetap menonton film yang payah daripada pulang yang sebenarnya memberi kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
  8. Kita tetap mempertahankan hubungan yang toksik daripada mengakhiri kisah yang sebenarnya memberi kesempatan untuk mengenal batasan dan belajar cara mencintai diri. Semakin lama kita tinggal, semakin sulit kita merelakan. Kita pengambil keputusan yang buruk, bukan?
Baca Juga:  Stockholm Sindrom, Ketika Korban Mencintai Pelaku Kekerasan

Penyebab Sunk Cost Fallacy.

Apa sih yang membedakan Manusia dengan makhluk hidup lainnya?” Kita memiliki akal dan budi. Jawaban yang gampang waktu ulangan PPKn waktu SD. Manusia memang dibekali dengan kemampuan untuk berpikir secara logis. Namun, sebenarnya manusia bukan makhluk yang logis dalam mengambil keputusan. Manuasi adalah makhluk Impulsif, tidak serasional yang kita bayangkan.

Kita memang memiliki pikiran. Kita juga menyebut diri kita sebagai makhluk rasional. Mungkin, sekarang sudah saatnya kita melepaskan identitas tersebut. Kita berpikir bahwa kita selalu memutuskan segala sesuatu berdasarkan data atau konsekuensi jangka panjang, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kita lebih sering memutuskan sesuatu berdasarkan emosi dan investasi yang sudah kita berikan.

Daniel Kahneman, psikolog paling terkenal di era modern membuktikan hal ini di era 70-an. Cognitive Bias adalah istilah yang digunakan Kahneman untuk mendeskripsikan fenomena pengambilan keputusan yang mengesampingkan logika. Fenomena yang membuat kita terus mengambil keputusan yang salah seperti contoh yang saya ceritakan di awal artikel ini yaitu Sunk Cost Fallacy.

Sunk Cost ini sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan baik personal maupun bisnis. Sunk Cost adalah segala usaha (effort) dan resources yang telah kita keluarkan. Resource disini bukan sekedar uang, namun mencakup waktu, tenaga atau hal lainnya yang memiliki value. Untuk perusahaan, tentu hal ini sangat berbahaya, karena resource yang dikeluarkan tentu tidak sedikit. Sehingga Sunk Cost Fallacy terkadang muncul tanpa kita sadari.

Cara Keluar dari Sunk Cost Fallacy

Sunk cost fallacy tidak hanya memperburuk pengambilan keputusan, tetapi juga kehidupan kita. Sayangnya, kita tidak bisa terbebas sepenuhnya dari bias ini bukan karena tidak mampu, tetapi karena itu sudah menjadi hal yang wajar di dalam diri kita. Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk keluar dari bias ini.

Be present! Hidup di waktu sekarang

Kesadaran untuk hidup di satu waktu adalah keahlian yang sulit diterapkan di zaman yang penuh gangguan ini. Fokus kita terganggu oleh dunia luar yang bisa berupa teknologi dan juga dunia dalam yang berupa pikiran. Kita terbiasa untuk menikmati masa lalu yang juga merupakan faktor terbesar mengapa kita sulit keluar dari sunk cost fallacy.

Tugas pertama kita adalah hidup di waktu sekarang, melihat realitas di depan mata dan menimbang konsekuensi yang diberikan. Jika realitas itu memberitahu kita bahwa melanjutkan adalah hal yang percuma atau bahkan salah, berhenti adalah prioritas. Apa pun yang kita pilih akan menentukan kualitas hidup kita. Kita harus memastikan bahwa semua keputusan diambil dengan sadar agar tidak ada ruang untuk mengeluh.

Baca Juga:  Pengertian, fungsi dan jenis-jenis mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism)

Jangan overoptimistic

Optimis itu perlu, tetapi dalam dosis yang sesuai. Jika tidak, kita akan menemukan penyesalan. Kita seringkali meyakinkan diri sendiri dengan mengatakan, “Tahan sebentar lagi, pasti akan berbuah manis.” Pertanyaannya, apakah itu berdasarkan fakta? Atau hanya prasangka?

Kejujuran atas pertanyaan itu adalah salah satu bukti bahwa kita memang mengusahakan kebahagiaan diri. Kejujuran memang tidak selamanya menyenangkan, tetapi di sanalah kita akan disajikan sesuatu yang memang bekerja dan sesuai untuk diri kita. Bagaimana dengan membohongi diri? Mungkin hal itu akan bekerja dalam waktu yang singkat sebelum akhirnya meledak dan membuat diri berantakan.

Menerima Masa Lalu

Kesempurnaan itu tidak akan pernah kita capai. Sekeras apa pun kita berusaha, akan ada kalanya kita masuk ke lubang. Di sanalah kemampuan menerima diri sedang diuji.

Dalam sunk cost fallacy, investasi yang sudah kita keluarkan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Jika kita memfokuskan diri pada hal yang telah berlalu, kita kemungkinan akan melihatnya sebagai kesalahan yang patut dikeluhkan. Padahal, jika kita mau memusatkan perhatian pada masa depan yang menjanjikan kesempatan perbaikan, kita juga mengubah cara pandang kita terhadap masa lalu, kita melihatnya sebagai kebenaran yang harus diterima.

Kehidupan ini kompleks. Ada hal-hal yang memang memaksa beberapa orang untuk bertahan pada sesuatu yang membuat mereka sulit bahagia. Lihat saja orang di sekitarmu yang masih bertahan dalam pekerjaan dengan lingkungan toksiknya. Mereka melakukannya bukan karena mereka mau, tetapi karena keadaan. Ada mereka yang membutuhkan waktu lebih lama sebelum akhirnya keluar. Ada juga mereka yang terus melanjutkannya di sisa hidup mereka.

Kejelasan berpikir sebelum mengambil keputusan adalah hal yang krusial. Jika kesempatan yang menyelamatkan diri itu datang, jangan pernah berpikir dua kali untuk mengambilnya.

Pada akhirnya, apa pun keputusan seseorang, diri mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Terakhir, kita harus selalu ingat bahwa sunk cost fallacy memberikan gambaran jelas bahwa menyerah bisa menjadi pilihan terbaik.