Cerita bermula pada tahun 1950, seorang fisikawan terkenal, Enrico Fermi kala itu sedang menikmati makan siang bersama beberapa ilmuwan di sebuah kafetaria di Los Alamos Jet Propulsion Lab sambil membolak-balik halaman majalah “New Yorker”. Sembari ia menikmati sandwich yang menjadi menu makan siangnya, Fermi menunjuk ke sebuah gambar kartun yang menunjukkan para Alien sedang mengeluarkan muatan kargo ke dalam tempat-tempat sampah di New York. Dengan santai sambil mengunyah sandwich nya, Fermi bertanya : “where’s everybody ?”

Apa itu paradox Fermi

Apa yang ia maksudkan sebenarnya ? menurut beberapa rekan-rekannya adalah tentang pertanyaan apakah perjalanan antar-bintang (interstellar travel) itu bisa dilakukan ?. Pada saat itu kita bahkan masih belum mampu untuk pergi meninggalkan atmosfer Bumi, dan pendaratan di Bulan masih 19 tahun lagi baru terjadi, jadi itu merupakan pertanyaan yang cukup adil dan masuk akal, sebenarnya sampai sekarang pun juga sama saja. Mungkin kita suka membicarakan tentang bagaimana mengirim manusia ke Mars dalam beberapa dekade mendatang, namun jika dibandingkan dengan mengunjungi sistem tata surya lain maka misi ke Mars menjadi tak lebih dari sekedar berpergian ke mall?

Dengan menggunakan teknologi roket kita saat ini, kita seharusnya mampu mencapai Mars dalam waktu sekitar 6 bulan. Sebaliknya, bintang terdekat dari system tata surya kita, Proxima Centauri berjarak sekitar 4,25 tahun cahaya. Nampaknya masih ada harapan, kecuali pada bagian tahun cahayanya. Sekalipun kita menekan tombol NOS atau “Turbo Boost” pada roket tercepat kita, kita tetap nampak seperti siput dibandingkan kecepatan cahaya, dan dengan kecepatan tercepat kita pun akan membutuhkan waktu 73.000 tahun untuk sampai di bintang terdekat tetangga kita.

Bagaimanapun juga, itulah yang didapatkan Fermi pada waktu makan siangnya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pertanyaannya pun berevolusi dengan baik ditambah dengan filter dari ide-ide ilmuwan lainnya. Pada tahun 1975, seorang astronom, Michael Hart mengatakan bahwa alasan mengapa tidak ada alien yang menunjukkan batang hidungnya hingga saat ini adalah Karena mereka memang tidak ada. Jika mereka memang ada, maka mereka pasti sudah menghuni galaksi saat ini. Kemudian pada tahun 1977, seorang astrofisikawan bernama David G. Sthepenson berkata bahwa pernyataan dari Michael Hart bisa menjawab pertanyaan Fermi yang kemudian ia sebut sebagai “Fermi Paradox”.

YouTube video

Paradoks Fermi adalah kontradiksi antara perkiraan kemungkinan keberadaan peradaban ekstraterestrial yang tinggi dengan kurangnya bukti dengan peradaban alien cerdas semacam itu. Fermi paradox adalah suatu bentuk hipotesa tentang kehidupan asing di alam semesta dan kemungkinan mereka sudah pernah mampir ke bumi dalam melakukan perjalanan antar bintang.

Fermi Paradoks yang dikenal hingga saat ini adalah : Alam semesta kita bisa saja, sangat memungkinkan memiliki milyaran planet seperti Bumi yang juga memiliki kehidupan kompleks (seperti kita). Jika itu memang benar, mengapa kita tidak pernah mendengar satu pun berita bahwa telah ditemukan adanya kehidupan di luar sana ?

Persamaan Drake

Bahkan sekalipun jika Fermi tidak mempertanyakan hal ini, tetap saja menjadi sesuatu yang menarik, dan ada segudang jawaban yang memungkinkan. Ketika pertanyaan ini ditanyakan, biasanya sesuatu yang disebut “The Drake Equation” atau Persamaan Drake, pun digunakan. Pada tahun 1960’an, seorang astronom Amerika bernama Frank Drake mencetuskan sebuah persamaan yang akan membantu kita menghitung kemungkinan seberapa banyak peradaban alien yang bisa muncul di galaksi kita.

Hasil dari persamaan itu bisa bervariasi tergantung dari jumlah angka yang kita masukkan, tapi bahkan dengan estimasi paling skeptis pun, galaksi kita saja kemungkinan memiliki sedikitnya 2 milyar planet yang berada pada “Habitable Zone” atau zona yang memungkinkan kehidupan untuk tumbuh. Zona ini adalah zona di mana semuanya berada pada kondisi yang tepat, PAS. Planet berada pada jarak yang tidak terlalu jauh dari bintang induknya, juga tidak terlalu dekat, pokoknya segala sesuatunya PAS ! berada di tempat yang tepat, suhu yang tepat, tidak lebih juga tidak kurang, layaknya planet Bumi kita.

Tentu saja, hanya karena berada pada zona itu bukan berarti planet-planet itu tidak dihuni. Kehidupan mungkin saja ada, atau mungkin tidak berada pada kondisi yang tepat, kita tetap tidak tahu. Katakanlah memang demikian, katakanlah memang sangat langka. Anggap saja hanya 0,5% dari planet-planet itu yang terdapat kehidupan, tetap saja hasilnya masih ada sekitar 100 juta planet!

Tentu saja, pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa banyak dari planet-planet itu yang memiliki spesies yang mampu mengembangkan teknologi yang diperlukan untuk komunikasi dan melakukan perjalanan ? Ini adalah pertanyaan yang HOT, apakah spesies yang mampu memiliki teknologi adalah hasil dari evolusi yang tak terelakkan ? atau apakah Manusia yang ada di Bumi ini memang satu-satunya yang unik atau istimewa ? Meskipun jika memang hanya ada 1,5% kesempatan bagi kehidupan untuk mengembangkan populasi yang mengerti soal teknologi, itu artinya seharusnya masih ada 500.000 peradaban lain di galaksi kita sendiri. Dan, jika kita mengalikan angka itu dengan jumlah galaksi yang ada di alam semesta yang telah kita ketahui (sekitar 150 milyar), kita akan mendapatkan banyak sekali peradaban alien cerdas. Jadi, seperti yang dikatakan Fermi, “Where’s everybody ?”.

Skala Kardashev

Cara lain untuk membicarakan Fermi Paradoks adalah dengan mengibaratkan jika kita menggunakan ekskavator raksasa untuk menumpuk setiap butiran pasir yang kita temukan di seluruh penjuru planet Bumi dan mengalikannya 10.000 agar mendekati jumlah bintang yang ada di alam semesta. Selanjutnya, faktor usia alam semesta (13,8 Milyar tahun) dan usia planet kita (4,5 milyar tahun), dan mulai nampak sangat tidak mungkin bahwa beberapa peradaban maju belum muncul di sana sini selama ribuan tahun. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, untuk mencapai perjalanan antar-bintang tidak seperti jika kita ingin berjalan-jalan di taman. Sebagai permulaan, kita akan membutuhkan sejumlah energi yang sangat sangat sangat besar.

Baca Juga:  Apa Itu Bintang, Terbentuknya Bintang, Kelahiran Bintang dan Supernova

Seorang astronom Rusia bernama Nicolai Kardashev memiliki gagasan tentang kemungkinan jenis peradaban, dengan dikategorikan berdasarkan penggunaan energi yakni : Tipe 1, 2 dan 3.

YouTube video

Peradaban tipe 1 adalah sebuah peradaban yang cukup maju dan cukup efektif untuk memanfaatkan semua sumber energi yang ada di planetnya seperti gunung berapi, gelombang laut, angin, bahkan gempa bumi.

Dunia astronomi sebenarnya telah dibuat “gelisah” oleh sebuah bintang yang dinamai KIC 8462852 atau yang dikenal dengan nama “Tabby’s Star”[1], terletak di konstelasi Cygnus, berjarak 1.480 tahun cahaya dari planet kita. Bintang itu nampak meredup cukup cepat dan memiliki kemisteriusan selama beberapa tahun. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa ada peradaban alien yang sedang dalam proses membuat sebuah “Dyson Sphere” raksasa di sekeliling bintang, secara perlahan membuatnya meredup dari penglihatan. Jika Dyson Sphere memang benar-benar identik dengan peradaban tipe 2, ini mungkin bisa menjelaskan mengapa kita tidak bisa mendengar mereka, sinyal radio mereka tak pernah berhasil melewati struktur raksasa yang mereka bangun di sekeliling mereka sendiri.

dyson_sphere peradaban

Selanjutnya, adalah peradaban tipe 3 pada skala Kardashev adalah sebuah peradaban yang mampu memanfaatkan energi dari seluruh galaksi. Spesies yang telah mencapai tingkat kecerdasan seperti ini akan membuat kita makhluk Bumi nampak seperti serangga kecil saja. Bentuk komunikasi mereka mungkin 100% tidak bisa kita kenali, yang mana ini juga bisa menjadi jawaban mengapa kita tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka.

The Great filter

Sistem tata surya kita bisa dibilang berusia setengah baya, yang mana ini adalah faktor penting dalam hal ini Karena ini artinya banyak sekali system tata surya lain dengan planet seperti Bumi di luar sana yang usianya jauh lebih tua dari kita. Banyak dari mereka berusia lebih dari milyaran tahun. Dengan satu milyar waktu tambahan bagi spesies untuk “membuat peradaban”, kita mungkin berpikiran mereka mungkin saja sudah menguasai pemanfaatan energi galaksi demi memfasilitasi mereka sendiri untuk melakukan perjalanan antar-bintang. Jadi, sekali lagi, di mana mereka?

the great filter teori

Salah satu penjelasan terbaik yang diketahui perihal absennya alien pada bagian ini adalah sesuatu yang dikenal dengan nama “The Great Filter” atau anggap seperti seleksi alam besar dalam skala kosmis. Gagasan ini mengatakan bahwa kemungkinan ada fenomena-fenomena atau bencana kosmis yang tak terelakkan yang terjadi di alam semesta dan mencegah kehidupan untuk tumbuh dan berkembang sampai pada titik di mana mereka bisa berkomunikasi atau melakukan perjalanan antar-bintang.

Kemudian pertanyaannya adalah, pada timeline evolusi bagian mana terjadinya Great Filter itu ? Lebih spesifik lagi dan lebih egois lagi, pada waktu terjadinya itu kita berada di titik timeline mana ? itu sepenuhnya bergantung pada kemisteriusan dari seleksi alam. Jika, contohnya, seleksi itu terjadi sebagai sebuah fitur “auto-destruct” yang membuat sebuah peradaban agar menghancurkan dirinya sendiri sebelum mereka mencapai titik pengembangan teknologi, maka habislah kita.

Melihat pada sudut pandang lain, seleksi itu bisa saja terjadi lebih awal pada timeline tersebut. Pada milyaran tahun pertama munculnya kehidupan adalah terbentuknya sel prokariotik sangat sederhana. Mungkin, lompatan ke sel eukariotik kompleks adalah sebuah bentuk seleksi alam. Ini bisa berarti bahwa ketika masih terdapat banyak sekali kehidupan di luar sana, semuanya hanya sekumpulan sel-sel prokariotik pendiam.

The Great Filter itu bisa jadi sesuatu seperti ledakan sinar gamma, ledakan gelombang elektromagnetik raksasa yang bisa memusnahkan secara berkala semua bentuk kehidupan sebelum mereka mampu tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang menarik. Berdasarkan hipotesis ini, kita cukup beruntung berada pada periode yang relatif stabil secara astronomi yang memungkinkan evolusi jangka panjang bisa terjadi. Dan jika seperti itu kondisinya, kita mungkin saja adalah satu dari banyak spesies yang berevolusi dengan kecepatan yang sama, dan kita semua akan melesat menuju perjalanan antar-bintang dalam waktu yang sama pula (sekitar 200 tahun).

Galau lagi, bisa saja selanjutnya kehidupan tidak akan bisa terjadi, dalam hal ini kita adalah sebuah kebetulan yang terjadi, sebuah kejaiban titik biru terapung-apung di lautan alam semesta yang sangat luas ini. Tentu saja itu berarti kita benar-benar sendirian, selamanya.

Jawaban untuk Paradoks Fermi

Sebagian orang terus bertekad mengirimkan sinyal untuk menunjukkan pada bentuk kehidupan cerdas lain agar tahu bahwa “Hey ! kami di sini lho !”. Mungkin kita seharusnya tetap “low profile” sampai kita benar-benar mendapatkan petunjuk pasti tentang siapa yang ada di luar sana dan apakah mereka sedang dalam perjalanan untuk pemusnahan dan / atau penjarahan. Akan tetapi kita sudah memancarkan sinyal itu secara konstan, jadi kita mungkin juga telah membiarkan alam semesta tahu bahwa kita di sini memiliki pikiran dan kesadaran independen untuk terus mencari tahu tentang identitas kita : Siapa kita sebenarnya dan mengapa kita ada di sini.

Tidak ada yang namanya Peradaban Tipe II dan III

Tidak ada yang namanya Peradaban Tipe II dan III, oleh karena itu tidak terdapat tanda-tanda dari makhluk asing. Grup ini menyatakan kemungkinan peradaban tipe I tidak akan sampai ke tipe II – III karena ada sesuatu yang menyebabkan peradaban tipe I tidak akan sampai ke tipe II apalagi tipe III, yang dinamakan hipotesis “The Great Filter“

Penjelasannya, pada suatu kurun waktu, semua peradaban berlomba-lomba berevolusi dari tipe 0 ke tipe diatasnya, sampai suatu saat mereka terbentur tembok yang memfilter sebagian besar dari mereka. yang memungkinkan cuma segelintir saja dari mereka yang bisa terus berevolusi ke tahap berikutnya.

Jika kita menganggap hipotesis ini benar. yang jadi pertanyaannya adalah, bilamana (kapan) The Great Filter ini terjadi ? Kalo kita berkaca ke peradaban manusia sendiri, lalu kita tanya kapan terjadi the great filter, maka jawabannya ada 3 kemungkinan yaitu : we’re rare, we’re first or we’re in trouble.

Baca Juga:  Wawancara Michio Kaku: Peradaban Alien Cerdas Yang Maju

We’re rare. Manusia adalah salah satu peradaban cerdas dari sedikit mahluk yang berhasil melewati The Great Filter

Skenario ini, kita anggap the great filter sudah terjadi, entah itu saat kita melompat keluar kolam sup primordial dari bentuk protein organik yang evolusi ke mahluk hidup bersel tunggal sampai evolusi ke mahluk hidup sel banyak, ketika Hominidae mulai belajar mukul pake tulang, ketika australopithecines mulai berjalan pake dua kaki, atau bahkan event katatrospik yang lewat-lewat.

Berhasil menghindari kepunahan dari kejadian katatrospik yang sudah-sudah di antaranya: tidak punahnya makhluk hidup di bumi karena jatuhnya meteor chicxulub yang cukup besar sehingga dapat memusnahkan dinosaurus, atau tidak terjadinya perang nuklir antara amerika dan uni soviet saat perang dingin silam.

Jika memang demikian ceritanya, kita adalah pemenang. Dengan kemajuan teknologi kita hari ini, dapat dibilang tidak ada lagi yang dapat menahan kita untuk terus berkembang jadi tipe ii dan iii. Hipotesis ini didukung peter ward dalam bukunya rare earth.[2]

We’re rare (Kita salah satu dari sedikit mahluk yang berhasil melewati The Great Filter)

We’re first. Manusia adalah peradaban pertama melewati the great filter

Sama dengan poin 1 diatas, cuma bedanya kali ini ada beberapa peradaban makhluk asing lainnya yang berhasil melompati the great filter. Cuman sayangnya, mereka peradaban dan teknologi mereka di belakang kita. Manusia di bumi tetep jadi pemenang. Breaking the filter bukan sekedar anomali, tapi sebatas probabilitas. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, tapi kita berhasil sebagai yang pertama, itulah sebabnya kita tidak mendengar ataupun dikunjungi makhluk dari planet lain karena manusia menjadi makhluk pertama yang memiliki teknologi paling canggih.

We’re first. (kita yang pertama melewati the great filter)

We’re in trouble. Manusia sebenarnya belum melewati the Great Filter

Pemungkinan paling buruk adalah the great filter bagi mahluk hidup di bumi belum terjadi alias “kiamat” bumi belum datang. Seperti asteroid chicxulub yang memusnahkan dinosaurus itu masih terbilang kecil. Di luar sana ada asteroid yang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya yang sedang menuju bumi, atau bumi yang belum pernah terkena radiasi semburan gamma maupun supernova dari bintang lainnya, atau yang paling ekstrem adalah semua kehidupan dirancang untuk self destruct (hancur dengan sendirinya) entah karena faktor biologis atau faktor ambisius dari kita sendiri yang dapat berperang menggunakan nuklir yang bisa menghancurkan bumi ini sendiri.

Great-Filter-manusia dalam bahaya

Icarus yang terbang terlalu tinggi terbakar matahari, kerajaan yang terlalu megah akan hancur dengan sendirinya (ingat romawi, mayan dan gotham?)

We’re In Trouble. (Kita Sebenarnya Belum Melewati The Great Filter)

Tipe peradaban II dan III ada

Adalah kebalikan dari grup 1, yang menyatakan Tipe peradaban II dan III ada, tapi ada beberapa alasan logis mengapa kita tidak mendengar apa-apa dari mereka. Grup ini tidak menggunakan hipotesis The Great Filter, dan menyatakan evolusi itu terjadi secara ubiquitous (terjadi dimana saja) dan lumrah. Peradaban manapun bisa menjadi tipe I/II/III.

Grup ini mengajukan beberapa kemungkinan antara lain:

Alien super cerdas kemungkinan sudah pernah ke bumi, tapi pada zaman spesies manusia belum ada.

Pertanyaan ini cukup sederhana, berapa lama peradaban manusia cerdas seperti ini baru muncul? paling lama berkisar 100.000 tahun yang jika dibandingkan dengan skala usia alam semesta yang berusia 14.000.000.000 tahun, peradaban manusia ini relatif lebih singkat bahkan diibaratkan seperti tidak ada seujung kuku.

alien super cerdas

Jadi, jika memang kehidupan makhluk asing lain sudah berevolusi milyaran tahun lalu, maka kemungkinan alien cerdas sudah pernah ke bumi dahulu kala saat spesies manusia belum ada. Bisa jadi, ketika mereka mengunjungi bumi, planet ini masih dipenuhi raptor dan t-rex, sehingga mereka pergi kembali karena merasa planet ini hanya dipenuhi oleh makhluk kurang cerdas dan belum berperadaban maju.

Bumi terletak di pinggiran galaxi Bima Sakti.

Analoginya, jika wilayah yang penduduknya padat terletak di jakarta, bumi diibaratkan seperti berada di wilayah boven digoel (papua) yang penduduknya masih jarang. Sebenernya ini sama dengan hipotesis dasar urban planning (perencanaan wilayah dan kota, pwk atau planologi) yang mengatakan sebaran distrik pusat bisnis (central business district, cbd) mengalami aglomerasi (bergumpal) ke tengah kota. dengan kata lain, wilayah yang terletak di pinggir kota akan lebih jarang penduduknya dibandingkan dengan wilayah di tengah kota. hal itu bisa saja benar, mengingat tata surya kita berada di pinggiran galaxi Bima Sakti

bumi ada di pinggiran
Gambar ilustrasi Bumi berada di pinggir galaksi Bima Sakti.

Peradaban tipe III tidak ikut campur urusan peradaban primitif

Kemungkinan lain, alien memang tidak peduli dengan kita. Kita adalah sesuatu yang sangat tidak penting, yang tinggal di planet tidak penting, di sudut galaksi yang tidak penting juga. Fisikawan teoritis seperti Prof. Michio Kaku memiliki gagasan bahwa kita mungkin mirip dengan sarang semut di Peru pada saat Pizzaro sedang dalam perjalan menaklukkan Inca. Dengan kata lain? mungkin saja alien sudah pernah datang, melihat dunia kita dan kemudian memutuskan untuk pergi. Mungkin alien dengan teknologi tercanggih pernah menampakkan diri jutaan tahun lalu, melihat kura-kura, melihat tumbuhan-tumbuhan purba dan kemudian memutuskan untuk pergi.

Coba bayangin, peradaban tipe II atau III yang sudah advance, peradaban tersebut sudah bisa memenuhi semua kebutuhan mereka tanpa harus kemana-mana, untuk apa lagi mengurusi peradaban manusia bumi yang masih primitif dan tidak penting. Atau mungkin bangsa alien cerdas ini telah melampaui kematian dan bahkan melampaui bentuk material-based. Mereka mungkin berada pada dunia yang mana berkomunikasi dengan kita adalah sesuatu yang konyol, membuang-buang waktu, sia-sia dan tak pernah terlintas di pikiran mereka.

Mungkin juga mereka sudah naik level menjadi the elevated one (semacam tujuan semua mahluk hidup) seperti:

  • Sudah tidak tinggal lagi di dimensi fisik
  • Sudah meninggalkan atribut fisik mereka sehingga hanya tersisa kesadaran murni, semacam menjadi dewa yang tidak perlu makan, minum, dan hampir abadi (imortal).

Galaksi dalam perang bintang

Kenapa kita tidak mendengar sinyal apa-apa dari luar sana, bisa jadi karena semua makhluk sedang bersembunyi di planet mereka masing-masing. Hanya ada satu makhluk yakni manusia yang terus menerus mengirim sinyal ke luar angkasa karena bisa jadi tidak mengetahui bahwa sedang terjadi perang antar bintang.

Baca Juga:  Apa itu lubang hitam (black hole)

Stephen hawking sendiri sudah mengingatkan, agar manusia jangan membuat kontak sama sekali dengan makhluk asing, karena hal ini sama aja dengan mengundang maut. Hal ini akan mirip dengan peradaban suku aztec yang hancur karena kedatangan penjajah spanyol. Suku aztec hanya bersenjatakan panah dan tombak, sedangkan spanyol bersenjatakan pistol dan meriam. Nasib yang serupa akan kita hadapi apabila bertemu dengan makhluk asing canggih.

Ada satu peradaban alien super dominan di galaksi

Jadi, satu peradaban ini akan datang menghancurkan semua peradaban yang dianggap mengancam peradaban mereka. Saat ini bumi masih beruntung dan belum sampai tiba gilirannya didatang dan dihancurkan oleh mereka.

ini macam film highlander “There can be only one”, jadi satu peradaban ini bakal dateng ngancurin semua peradaban yang dianggap mengancam kedaulatan mereka. Hancurkan sebelum tumbuh berkembang.

Bahkan malah, semua mahluk hidup di galaxy sengaja dikembang biakkan sama alien yang memiliki peradaban tipe III, untuk suatu saat bakal di jadiin bahan baku makanan, seperti film Jupiter Ascending[3].

Manusia terlalu primitif untuk berkomunikasi.

Ada hipotesa untuk menjawab pertanyaan tentang di mana keberadaan alien-alien itu, ada hipotesa yang mana sering dikatakan mereka ada di sini, kita saja yang tidak menyadari keberadaan mereka. Jika memang benar-benar ada sebuah peradaban alien cerdas di luar sana yang usia perdabannya berusia milyaran tahun lebih tua dari kita, karena kecanggihan teknologi mereka sangat mungkin berada di sekitar kita dan tak terdeteksi. Anggap saja itu hanya karena kita tidak bisa melihat atau mendengar mereka dengan teknologi tercanggih kita, artinya bahwa alien tidak terlihat, sama seperti berdiri di sebuah bukit dengan menggunakan bendera semaphore (pramuka) sementara semua orang di sekitar kita sedang melihat foto yang diambil dengan kamera smartphone. Hanya karena tidak terlihat di foto bahwa ada orang yang melambaikan tangannya ke kita bukan berarti mereka tidak ada. Atau, mungkin saja alien memang melihat kita, tapi mereka melihat kita tanpa menunjukkan keberadaan mereka sendiri. Kita mungkin, bagi alien nampak sebagai sebuah makhluk yang menarik untuk diamati namun tidak untuk diintervensi.

Apakah ada jaminan bahwa makhluk asing di luar sana masih menggunakan teknologi radio yang bisa jadi masih dianggap primitif oleh mereka? bahkan, dalam usianya yang belum ada 200 tahun sejak penemuannya, kita sendiri menganggap teknologi radio ini sudah usang. teknologi radio sudah tergantikan oleh laser, serat optik, gelombang mikro (microwave), dll.

Dalam hal ini, seti (lembaga pencari kehidupan cerdas di luar angkasa) masih menggunakan teknologi radio untuk mencari kehidupan di luar sana. Bisa jadi, makhluk asing sudah menggunakan teknologi subspace atau quantum network dalam berkomunikasi, akan tetapi, masih belum mengetahui bagaimana men-dekode-kan sinyal tersebut. salah satu ilmuwan terkenal, Michio Kaku pernah menganalogikan hal ini seperti: manusia tidak ubahnya semut yang sedang mencari jalan setapak untuk jalan kesarangnya, tapi sama sekali tidak sadar ada jalan layang 10 jalur disamping sarang mereka.

The Prime Directive

Film Star Trek tampaknya mengadopsi pola pikir ini. Hipotesa ini menyatakan bahwa: semua makhluk asing cerdas di planet lain sana sudah bekerjasama satu sama lain, dan membentuk federasi. Kemudian, untuk melindungi keragaman kultural, mereka menerapkan sebuah peraturan ketat untuk tidak melakukan kontak kepada peradaban di bawah tipe II. Alasannya bisa bermacam-macam, selain keragaman kultural itu sendiri, hal lainnya adalah karena ketidaksiapan peradaban primitif itu ketemu peradaban alien canggih tipe II dan III.

Secara sederhana, jika tidak terdapat prime directive ini, peradaban makhluk asing yang lebih tinggi dapat seenaknya menjajah dan menghancurkan peradaban makhluk asing lainnya yang lebih rendah (diibaratkan seperti angkatan laut amerika serikat (navy seal) dengan persenjataan lengkap, melawan suku terasing di sungai amazon yang masih menggunakan tombak), maka bisahabislah peradaban lebih rendah di galaksi ini. Hal ini yang ingin dijaga oleh federasi.

Manusia Berada dalam simulasi komputer

Kemungkinan lain dari skenario keseluruhan di atas adalah bahwa kita dan dunia yang kita tempati berikut seluruh alam semesta ini tak lebih dari sebuah simulasi hologram(Simulation hypothesis)[4], atau kemungkinan adalah sebuah desain game yang dibuat oleh sebuah bentuk kehidupan super cerdas yang saat ini terus tertawa terbahak-bahak melihat kelemahan dan keterbatasan kita, atau bisa jadi mereka telah bosan dengan game nya dan pergi entah ke mana, membiarkan game simulasi nya terus berjalan, hanya masalah waktu saja sebelum akhirnya tombol shut-down atau habisnya baterai akan mengakhiri simulasi itu. Mungkin juga pernah ada bentuk kehidupan cerdas dalam game itu, tapi spesies lain mengetahuinya dan kemudian melenyapkannya, dan menjadi jawaban soal kesendirian kita di kosmos.

Hipotesa ini terkesan sangat fantastis dan tidak masuk akal. Meskipun demikian, hipotesa ini benar-benar ada dan dimuat dalam jurnal ilmiah. Hipotesis ini ditulis oleh filsuf Nick Bostrom, alumni Oxford University[5]. Menurut Nick, sebenarnya ada entitas super cerdas di sebuah alam semesta yang sedang membuat simulasi alam semesta, yaitu alam semesta yang kita tinggali sekarang. Nah sayangnya entitas super cerdas ini baru memprogram manusia dan mahluk di Bumi saja, belum ada makhluk asing lainnya di planet lainnya. Manusia dan makhluk hidup lainnya di Bumi ini diibaratkan seperti karakter disebuah game, sedangkan luasnya alam semesta hanya berupa hologram saja.

If you assume any rate of improvement at all, games will eventually be indistinguishable from reality” before concluding “that it’s most likely we’re in a simulation.

Elon Musk

I wish I could summon a strong argument against it (the simulation hypothesis), but I can find none.

Neil Degrasse Tyson

Menurut hipotesis ini sebenarnya alam semesta ini cuman simulasi terbatas. Semacam game atau film Matrix gitu. Nah entitas super cerdas ini bisa dianggap tuhan atau alien yg sudah mencapai taraf terlepas dari dimensi ruang-waktu, mereka mungkin membuat simulasi manusia dan mahluk di bumi cuman untuk iseng atau untuk bahan percobaan mengamati mahluk material doang. How knows?

Akan tetapi, yang jauh lebih penting bagi mereka bukan menjawab ada atau tidak adanya alien, melainkan bagaimana menghadapi risiko kepunahan peradaban manusia yang akan terjadi dalam waktu dekat. Terlepas dari segala kesimpulan mengenai “Paradoks Fermi”, pada dasarnya hipotesa tersebut mengajarkan manusia semacam kearifan universal untuk dapat terbuka terhadap setiap kemungkinan. Termasuk kemungkinan yang tidak terbayangkan sekalipun.

Referensi:
  1. https://www.jpl.nasa.gov/news/mysterious-dimming-of-tabbys-star-may-be-caused-by-dust[]
  2. https://www.springer.com/gp/book/9780387952895[]
  3. https://en.wikipedia.org/wiki/Jupiter_Ascending[]
  4. https://en.wikipedia.org/wiki/Simulation_hypothesis[]
  5. Bostrom, Nick (2003). “Are You Living in a Computer Simulation?”Philosophical Quarterly53 (211): 243–255[]