Daylight Saving Time” atau Waktu Musim Panas adalah sistem pengaturan waktu yang bertujuan untuk menyimpan cahaya matahari di musim panas. Biasanya waktu resmi di daerah tersebut dimajukan 1 jam lebih awal dari zona waktu yang resmi dan diberlakukan selama musim semi dan musim panas. Hal tersebut bertujuan untuk menyesuaikan jam ketika hari masih terang dengan jam kegiatan kerja dan sekolah. DST biasanya digunakan yang suhunya sedang, karena perbedaan yang cukup besar antara siang dan malam sepanjang musim di daerah tersebut. Ide “Daylight Saving Time” pertama kali dicoba oleh Pemerintah Jerman pada Perang Dunia I pada 30 April dan 1 Oktober 1916.

Bulan Oktober 2015 saat musim gugur di pagi hari dinginnya kota Berlin. Jangan berharap pagi hari akan disambut limpahan sinar matahari dari jendela. Pagi ini menurut laporan display handphone saya, suhu diluar -2 derajat celcius. Langit yang  mendung yang ditutupi awan gelap dan kelam, membut saya lebih memilih tidur di kasur dan seakan-akan tidak mau keluar dari dalam selimut seharian. Artikel ini  saya akan bercerita soal “Daylight Saving Time”.

Berdasarkan pengemumuman dari berita yang saya lihat di internet, “Daylight Saving Time” akan berakhir pada hari ini 25 Oktober 2015. Memang cukup lucu, karena pertama saya datang ke Jerman, sempat bertanya kepada teman, buat apa waktu dirubah-rubah? Bikin bingung saja. Yang sebenarnya waktu di Jakarta dengan Berlin perbedaannya 6 jam, ketika musim semi berubah menjadi 5 jam dan akan berakhir saat musim gugur.

Baca Juga:  Tips liburan ke negara-negara yang memiliki empat musim

Jadi, apa yang di maksud dengan “Daylight Saving Time”? Kenapa dalam setahun waktu di Jerman bisa berubah 2 kali dan apakah cuman Jerman saja yang menerapkannya? Jika tidak di mana saja “Daylight Saving Time” diterapkan? Apakah bermanfaat Jika menerapkan system tersebut? Itulah pertanyaan saja waktu pertama kali sampai di Berlin dan mendengar istilah “Daylight Saving Time”.

Daylight Saving Time” atau Waktu Musim Panas adalah sistem yang dimaksudkan untuk menyimpan cahaya matahari di musim panas. Biasanya waktu resmi di daerah tersebut dimajukan 1 jam lebih awal dari zona waktu yang resmi dan diberlakukan selama musim semi dan musim panas. Hal tersebut bertujuan untuk menyesuaikan jam ketika hari masih terang dengan jam kegiatan kerja dan sekolah. DST biasanya digunakan yang suhunya sedang, karena perbedaan yang cukup besar antara siang dan malam sepanjang musim di daerah tersebut. Ide waktu musim panas pertama kali dicoba oleh Pemerintah Jerman pada Perang Dunia I pada 30 April dan 1 Oktober 1916.

Daylight saving biasanya diterapkan di negara-negara Eropa, wilayah Amerika Serikat, Kanada, dan Selandia Baru serta setahu saya sebagian wilayah Australia, terutama untuk wilayah yang memiliki 4 musim dalam 1 tahun. Di Indonesia dan negara-negara asia seperti Jepang, Korea, China pada umumnya tidak menerapkan “Daylight Saving Time” walaupun mereka berda di kawasan subtropis dan memiliki 4 musim dalam setahun.

Baca Juga:  Kota Paling Bebas Di Dunia
800px-DaylightSaving-World-Subdivisions Warna biru adalah wilayah yang menerapkan DST. Warna orange adalah wilayah yang tidak menerapkan DTS tetapi sebelumnya pernah menerapkan DTS. Warna merah adalah wilayah yang tidak pernah menerapkan DTS.

Jadi misalkan di Berlin, Jerman pada tanggal 29 Maret 2015 setelah pukul 01.59 bukanlah pukul 02.00 melainkan langsung pukul 03.00 (jam dimajukan satu jam) jadi pada tanggal 29 Maret 2015 pukul 02.00 hingga pukul 02.59 tidak pernah ada di Berlin, Jerman dan juga di seluruh Eropa. Sebaliknya juga di Berlin, Jerman misalnya, pada tanggal 28 Oktober 2007, pada saat DST berakhir, setelah pukul 02.59 bukanlah pukul 03.00 melainkan kembali menjadi 02.00! (jam dimundurkan satu jam kembali) Jadi pada tanggal 25 Oktober 2015 di Berlin, Jerman dan juga di seluruh Eropa, pukul 02.00 hingga pukul 02.59 terjadi dua kali.

Biasanya perubahan waktu saat awal berlakunya “Daylight Saving Time” ataupun berakhirnya “Daylight Saving Time” diterapkan pada hari Minggu dini hari agar tidak banyak mengganggu aktivitas masyarakat. Di Amerika Utara dan Eropa “Daylight Saving Time” dimulai pada pukul 2 dini hari (kecuali Inggris, Irlandia dan Portugal yang DST-nya dimulai pada pukul 1 lewat tengah malam). Di Amerika Utara “Daylight Saving Time” dimulai pada hari Minggu ke-2 bulan Maret dan berakhir pada hari Minggu pertama bulan November. Sedangkan di Eropa DST dimulai pada hari Minggu terakhir di bulan Maret dan berakhir pada hari Minggu terakhir di bulan Oktober.

Baca Juga:  Tips liburan sendirian yang bebas dan mengikuti grup tur

Terus Kenapa harus ada “Daylight Saving Time”? Yang saya tahu, kebijakan “Daylight Saving Time”, itu jelas terkait dengan lama waktu matahari terbit sampai terbenam. Sehingga jika lama waktu matahari terbit sampai terbenam (lama waktu siang) berubah-rubah maka harus disesuaikan dengan produktifitas manusia. Contohnya, waktu efektif manusia untuk produktif bekerja. Maksudnya, manusia akan lebih produktif ketika hari terang(siang) maka dari itu, penyesuaian “Daylight Saving Time” adalah bentuk “pengertian” pemerintah akan keterbatasan manusia itu sendiri.

Setiap manusia merasakan hal yang berbeda-beda, namun menurut saya “Daylight Saving Time” jelas sangat membantu orang yang berada di negara yang lama waktu siangnya berubah-ubah setiap musim untuk dapat bekerja dengan maksimal sepanjang tahun. Bayangkan jika tak ada aturan “Daylight Saving Time” dan di musim dingin mereka harus bangun jam 5 pagi untuk bersiap diri menuju kantor padahal suhu masih di bawah nol padahal matahari terbit pukul 9 pagi. Bayangkan pula betapa dinginnya perjalanan pulang, jika mereka harus pulang kerja jam 6 sore saat matahari telah tenggelam dua jam sebelumnya.

Untuk tabel daftar lengkap “Daylight Saving Time” 1015 silahkan kunjungi http://www.timeanddate.com/time/dst/2015.html