Hipotalamus dan kelenjar hipofisis Anda – keduanya terletak di otak Anda – dapat merasakan jika darah Anda mengandung kadar kortisol yang benar. Jika kadarnya terlalu rendah, otak Anda menyesuaikan jumlah hormon yang dihasilkannya. Kelenjar adrenalin Anda menangkap sinyal-sinyal ini. Kemudian, mereka menyempurnakan jumlah kortisol yang mereka lepaskan.

hormon kortisol

Reseptor kortisol – yang ada di sebagian besar sel dalam tubuh Anda – menerima dan menggunakan hormon dengan berbagai cara. Kebutuhan Anda akan berbeda dari hari ke hari. Misalnya, ketika tubuh Anda dalam keadaan siaga tinggi, kortisol dapat mengubah atau mematikan fungsi yang menghalangi. Ini mungkin termasuk sistem pencernaan atau reproduksi Anda, sistem kekebalan tubuh Anda, atau bahkan proses pertumbuhan Anda.

Apa itu hormon kortisol?

Hormon kortisol atau hormon stres, memiliki peran yang penting pada tubuh. Namun, jika hormon ini berlebihan, efeknya berbahaya.

Hormon kortisol adalah hormon yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres dan dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Hormon kortisol dilepaskan kelenjar tersebut, utamanya saat Anda menghadapi stres dan sering disebut sebagai indikator stres. Hormon kortisol diperlukan tubuh saat menghadapi mekanisme fight of flight response, ketika tubuh menghadapi tantangan secara mental maupun fisik.[1]

Setelah diproduksi, kortisol akan dilepaskan ke dalam darah dan dialirkan ke seluruh tubuh. Kortisol memiliki berbagai efek terhadap sel. Sebab hampir setiap sel memiliki reseptor kortisol yang akan bereaksi sesuai dengan fungsinya ketika dirangsang.

Pengeluaran Hormon Kortisol Dipicu Alarm Tubuh

Saat merasa terancam, bagian dari otak akan menyalakan alarm tubuh. Hal inilah yang kemudian akan memicu kelenjar adrenal mengeluarkan hormon adrenalin bersamaan dengan hormon kortisol. Bedanya, hormon adrenalin akan meningkatkan detak jantung. Sedangkan hormon kortisol akan meningkatkan gula dalam aliran darah sehingga otak dapat bekerja lebih efektif.[2]

Kadar Tertinggi Hormon Kortisol adalah pada Pagi Hari

Dalam kondisi normal, kadar hormon kortisol tertinggi mencapai puncak pada pukul 8 pagi dan setelah itu mulai menurun. Tingkat hormon kortisol paling rendah adalah pada saat menjelang waktu tidur. Namun kondisi sebaliknya bisa terjadi pada orang yang bekerja di malam hari dan tidur di pagi hari.

Baca Juga:  Hormon dopamin, Alasan Orang Bahagia Dan Kecanduan

Dapat Memicu Kenaikan Berat Badan

Berdasarkan sebuah penelitian, gangguan terhadap pengeluaran hormon kortisol pada kondisi normal dapat meningkatkan berat badan sekaligus memengaruhi tempat penyimpanan lemak tubuh. Penelitian lain menunjukkan, lemak dari asupan makanan berlebih tersebut akan lebih banyak disimpan di perut dibandingkan di bagian tubuh lainnya. Hal ini akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.[3]

Fungsi hormon kortisol bagi tubuh

Hormon Kortisol Menyediakan Energi dan Mengendalikan Stres. Inilah fungsi utama hormon kortisol. Mengendalikan stres! Hormon kortisol berfungsi mengendalikan stres yang dapat dipengaruhi oleh kondisi infeksi, cedera, aktivitas berat, serta stres fisik maupun emosional. 

fungsi hormon kortisol

Banyak orang yang salah kaprah tentang hormon kortisol karena hormon ini dihasilkan tubuh saat mengalami stres. Kenyataannya, hormon kortisol memiliki peran yang banyak bagi tubuh, terutama dalam mengendalikan metabolisme. Produksi hormon ini diatur oleh tiga organ sekaligus, yaitu kelenjar pituitari, hipotalamus di otak, dan kelenjar hormonal. Apabila kadar hormon kortisol rendah, maka organ tersebut bekerja sama mencukupi kadarnya.

Hormon kortisol juga berperan dalam penggunaan gula atau glukosa dan lemak dalam metabolisme tubuh guna menyediakan energi. Tidak hanya itu saja, hormon kortisol juga membantu mempertahankan tekanan darah normal, sekaligus mengendalikan gula darah dengan melepaskan insulin. Manfaat lain hormon kortisol adalah:

  1. Melawan peradangan dalam tubuh.
  2. Memengaruhi pembentukan ingatan.
  3. Mengendalikan keseimbangan garam dan air dalam tubuh.
  4. Menyesuaikan tekanan darah dengan kondisi tubuh.
  5. Membantu perkembangan janin pada ibu hamil.
  6. Mengatur kadar gula darah.

Cara mengendalikan hormon kortisol di tubuh

Karena hormon kortisol yang berlebih dapat berbahaya, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengontrol kadarnya. Mengaktifkan respons relaksasi tubuh menjadi cara pertama yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres, dan pada akhirnya dapat menurunkan kadar hormon kortisol.

Peranan hormon kortisol begitu penting, untuk itu wajib untuk menjaga kadar hormon ini agar tidak kekurangan atau berlebihan. Hal-hal seperti stres dan aktivitas fisik seperti olahraga dapat mempengaruhi kadar hormon kortisol dalam tubuh. Saat olahraga misalnya, kortisol menjalankan fungsinya sebagai pengatur gula darah agar gula bisa diolah menjadi sumber energi. Dengan begitu, tubuh mampu beradaptasi terhadap kebutuhan energi yang meningkat dan kamu bisa lancar berolahraga.

Baca Juga:  Hormon Endorfin, Hormon Bahagia Pereda Rasa Sakit

Beristirahat dengan cukup

Kualitas, durasi, dan jam tidur Anda memengaruhi kadar hormon kortisol di tubuh. Berbagai penelitian telah menemukan, tidur yang cukup di malam hari dan tidak berlebihan akan membantu Anda untuk mengendalikan hormon ini. Insomnia yang membuat Anda sulit tidur, juga berisiko meningkatkan hormon kortisol hingga 24 jam ke depan.Agar Anda mudah terlelap dan mendapatkan tidur yang cukup, bantulah diri dengan berolahraga teratur, tidak mengonsumsi minuman berkafein di sore dan malam hari, serta menghindari distraksi sebelum tidur terutama dari gadget atau barang elektronik lainnya.

Belajar untuk rileks dan mengendalikan pikiran pemicu stres

Latihan relaksasi dapat membantu menurunkan kadar hormon stres. Latihan paling mudah untuk menenangkan pikiran yakni dengan membiasakan bernapas dalam-dalam. Anda bisa menerapkan latihan pernapasan tersebut sebelum tidur. Melakukan yoga dan latihan tai chi juga efektif untuk membantu mengurangi stres. Anda dapat mengambil kelas tai chi dan yoga yang saat ini sudah banyak tersedia.Cara mudah lainnya? Dengarlah musik yang menjadi kesukaan Anda. Studi telah menemukan, mendengarkan musik setidaknya selama 30 menit membantu mengurangi kadar hormon stres.

Bergembira

Cara sederhana yang bisa Anda lakukan untuk mengendalikan hormon kortisol adalah dengan bahagia dan bergembira. Studi telah menemukan bahwa aktivitas positif berkaitan dengan penurunan tekanan darah, jantung yang sehat, sistem imun yang lebih kuat, dan penurunan kadar hormon kortisol.Hobi yang rutin dilakukan dapat membantu penurunan hormon ini. Salah satu hobi yang bisa Anda pilih yaitu berkebun dan bercocok tanam.

Menjaga hubungan personal yang baik

Dinamika hubungan dengan orang lain juga memengaruhi kadar hormon kortisol. Menurut penelitian, anak-anak yang berasal dari keluarga yang stabil memiliki level hormon kortisol yang lebih rendah. Begitu juga dengan dukungan dari orang terkasih yang dapat membantu menurunkan kadar hormon stres tersebut.

Merawat hewan peliharaan

Tak hanya hubungan baik dengan manusia yang memengaruhi kadar hormon kortisol, namun juga merawat hewan peliharaan. Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam Pain Management Nursing, terapi memelihara anjing dapat mengurangi tekanan sekaligus menurunkan hormon kortisol.

Mengonsumsi makanan sehat

Ternyata, makanan yang Anda konsumsi pun memengaruhi kadar hormon kortisol. Contoh makanan yang dapat menaikkan hormon stres ini yaitu makanan atau minuman bergula.Untuk mengendalikan hormon kortisol, Anda bisa mengonsumsi cokelat hitam murni tanpa gula, berbagai buah-buahan (seperti pir dan pisang), teh hijau atau teh hitam, yogurt, dan air putih.[4]

Baca Juga:  Fungsi payudara dari sudut pandang evolusi

Dampak hormon kortisol tidak seimbang

Walau hormon kortisol memainkan fungsi penting untuk tubuh, kadarnya yang terlalu tinggi karena merespons stres dapat berbahaya untuk Anda. Beberapa gejala yang muncul jika kadar hormon kortisol tinggi, yaitu:

  1. Kenaikan berat badan
  2. Wajah yang membulat (moon face)
  3. Jerawat
  4. Penipisan kulit
  5. Mudah memar
  6. Wajah memerah
  7. Otot melemah
  8. Rasa lelah yang berlebihan
  9. Lekas marah
  10. Sulit berkonsentrasi
  11. Tekanan darah tinggi
  12. Sakit kepala

Hormon kortisol yang tak terkendali meningkatkan tekanan darah serta kadar glukosa darah, yang kemudian memicu diabetes. Kondisi seseorang yang mengalami kelebihan hormon kortisol di tubuhnya dalam dunia medis disebut sebagai sindrom Cushing.

Sindrom Cushing adalah kondisi saat tubuh memiliki hormon kortisol yang tinggi. Kondisi ini juga dikenal sebagai hiperkortisolisme. Gejala yang ditunjukkan pada mereka yang terserang sindrom ini antara lain:

  1. Lengan dan kaki tampak ramping, tetapi bagian tengah tubuh mengalami timbunan lemak. Jaringan lemak yang meningkat di area pinggang, punggung atas, antara bahu dan wajah sehingga wajah tampak bulat.
  2. Pipi bengkak dan terdapat bercak merah.
  3. Stretch mark merah atau ungu yang umumnya ditemukan pada perut, dekat ketiak atau di sekitar payudara dan paha.
  4. Jerawat.
  5. Kulit tipis yang mudah memar.
  6. Pada wanita siklus menstruasi menjadi tidak teratur serta mengalami rambut wajah dan tubuh yang lebih tebal dari biasanya. Sementara pria mengalami penurunan libido dan menurunnya kesuburan.

Jika tubuh Anda tidak menghasilkan cukup hormon ini, Anda memiliki kondisi yang disebut dokter sebagai penyakit Addison, gejalanya muncul seiring waktu. Gejala kekurangan hormon kortisol

  1. Perubahan pada kulit Anda, seperti menggelapnya bekas luka dan lipatan kulit
  2. Menjadi lelah sepanjang waktu
  3. Kelemahan otot yang bertambah parah
  4. Diare, mual, dan muntah
  5. Kehilangan nafsu makan dan berat badan
  6. Tekanan darah rendah
Referensi:
  1. Stephen Nussey; Saffron Whitehead (2001). Endocrinology: An Integrated ApproachSt. George’s Hospital Medical School, London, UK. BIOS Scientific Publishers Ltd. []
  2. Goldstein DS. Adrenal responses to stressCell Mol Neurobiol. 2010;30(8):1433–1440. doi:10.1007/s10571-010-9606-9[]
  3. Kiecolt-Glaser JK, Habash DL, Fagundes CP, Andridge R, Peng J, Malarkey WB & Belury MA. Daily stressors, past depression, and metabolic responses to high-fat meals: A novel path to obesityBiol Psychiatry. 2015; 77(7):653–660. doi:10.1016/j.biopsych.2014.05.018[]
  4. Daubenmier J, Kristeller J, Hecht FM, et al. Mindfulness intervention for stress eating to reduce cortisol and abdominal fat among overweight and obese women: An exploratory randomized controlled study. J Obes. 2011;2011:651936. doi:10.1155/2011/651936[]