Pada dasarnya manusia merupakan mamalia yang ketika dihadapkan sebuah ancaman otak akan memberikan perintah tiga macam alternatif perintah. Respon alami dari otak tersebut yaitu fight, flight, dan freeze.

Salah satu cara klasik otak limbic untuk memastikan kelangsungan hidup kita sebagai spesies adalah dengan cara memproduksi sejumlah pertanda non verbal dengan meregulasi perilaku kita saat menemui bahaya.[1] Untuk memastikan kelangsungan hidup kita, respons otak terhadap tekanan atau ancaman sangatlah elegan yakni ada tiga bentuk: membeku (freeze), menghindar (flight), dan melawan (fight). otak limbik hewan bekerja dengan sistem 3F tesebut, begitu pula manusia. prinsip 3F ini telah terintegrasi dalam sistem syaraf dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup manusia sebagai spesies.

Fight-or-flight response

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa stress sudah menjadi bagian dalam hidup manusia sejak manusia itu sendiri ada. Pada jaman pra sejarah, manusia harus berhadapan dengan ancaman yang berasal dari hewan-hewan buas, kondisi alam, serta perang antar suku.

Pada jaman modern ini, manusia harus berhadapan dengan kondisi-kondisi seperti kemacetan lalu-lintas, pemenuhan kebutuhan hidup, persaingan kerja, tuntutan hidup, dan lain sebagainya. Walaupun terlihat berbeda, namun kondisi yang dialami oleh manusia pra sejarah dan manusia modern sama-sama dianggap sebagai ancaman oleh tubuh dan tubuh memberikan reaksi yang sama pada ancaman itu baik pada manusia pra sejarah maupun manusia modern. Reaksi yang diberikan oleh tubuh tersebut dikenal dengan Fight or Flight Mechanism / Fight or Flight Response.

Tiga Respon Alami Otak Ketika Dalam Ancaman

Ungkapan respon “fight-or-flight” (lawan atau pergi). Ungkapan ini kerap digunakan untuk menjelaskan cara kita merespon ancaman atau situasi yang berbahaya. Sayangnya, ungkapan ini tidak sepenuhnya sesuai! (ketika anda melihat suatu film yang bergenre action, lalu ada kejadian dimana sang protagonis terdesak dalam situasi yang berbahaya maka mereka sering menggunakan istilah ini) dalam kenyataanya, hewan, termasuk manusia bereaksi terhadap bahaya yang terjadi dengan urutan sebagai berikut: membeku (freeze), menghindar (flight), lawan (fight). Apabila reaksinya hanya “lawan atau pergi”, maka sebagian besar dari kita akan memar-memar, terluka, dan kelelahan. Karena kita telah memiliki dan menggunakan proses ini untuk mengatasi stress serta bahaya dan karena reaksi yang dihasilkan adalah perilaku nonverbal yang membantu kita memahami pikiran, perasaan, serta niat seseorang, maka tak ada salahnya bila kita mempelajari tiap respon dengan agak terperinci.

cara menghadapi stress

Fight or Flight Mechanism adalah suatu proses dimana organisme akan menilai ancaman yang sedang dihadapinya. Apabila ancaman tersebut dinilai kecil dan bisa dihadapi maka organisme akan memberikan perlawanan dan apabila ancaman tersebut dinilai lebih besar dari dirinya dan tidak bisa dihadapi, maka organisme akan lari dari ancaman tersebut. Selain memberikan penilaian, pada kondisi Fight or Flight Mechanism ini juga terjadi proses kimiawi didalam tubuh yang dapat mempengaruhi kesehatan.[2]

Membeku (Freeze)

Strategi untuk membeku, yang merupakan tahap pertama dalam sistem pertahanan otak limbik, digunakan saat menghadapi pemangsa (bagi hewan) atau bahaya lainnya dikarenakan suatu bentuk respon verbal atau umumnya sebuah gerakan dapat menimbulkan perhatian. Dengan diam membeku saat mendeteksi ancaman, otak limbik telah memberikan respon paling efektif untuk memastikan kelangsungan hidup kita (atau spesies hewan lainnya). Sebagian besar hewan, terutama para pemangsa bereaksi dan tertarik pada gerakan oleh karena itu diam membeku saat menghadapi bahaya atau ancaman adalah respon yang sangat sesuai.

Salah satu cara klasik otak limbic untuk memastikan kelangsungan hidup kita sebagai spesies adalah dengan cara memproduksi sejumlah pertanda non verbal dengan meregulasi perilaku kita saat menemui bahaya. untuk memastikan kelangsungan hidup kita, respons otak terhadap tekanan atau ancaman sangatlah elegan yakni ada tiga bentuk: membeku (freeze), menghindar (flight), dan melawan (fight). otak limbik hewan bekerja dengan sistem 3F tesebut, begitu pula manusia. prinsip 3F ini telah terintegrasi dalam sistem syaraf dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup manusia sebagai spesies.

Makhluk pemakan daging, terutama hewan pemangsa besar yang merupakan jenis pemangsa besar dan merupakan jenis pemangsa utama di jama purba, selalu mencari mangsa yang bergerak. mereka bertindak berdasarkan mekanisme “kejar-tangkap-gigit”. Banyak hewan yang bereaksi dengan diam membeku, namun ada juga yang pura-pura tewas saat berhadapan dengan para pemangsa, ini adalah strategi yang digunakan oleh tupai. Dengan demikian, respons membeku telah diteruskan dari jaman manusia primitif hingga jaman manusia moderen dan bertahan hingga saat ini sebagai lapis pertama pertahanan untuk menghadapi ancaman atau bahaya.

Salah satu contoh yang nyata mengenai gerak respon ini adalah ketika kita semua sedang melihat pertunjukkan sirkus, dimana dalam pertunjukkan tersebut ada yang menampilkan harimau ataupun singa. saat singa atau harimau masuk dan berputar di arena pertunjukkan, para penonton yang duduk di baris pertama tidak akan melakukan gerakan yang tidak perlu, mereka akan duduk diam (bahkan sebagian ada yang menahan napas ketika hewan tersebut lewat di depannya). Padahal para penonton tersebut tidak diberi peringatan untuk membeku sebelumnya, betul tidak?. hanya saja para penonton tersebut melakukannya karena otak limbik telah mempersiapkan manusia untuk bertindak dengan cara tertentu saat ada bahaya.

Baca Juga:  Penjelasan Ilmiah Kesurupan dan Penyebab Kesurupan

Di lingkungan moderen, respon membeku dilakukan dengan lebih halus dalam kehidupan sehari-hari. Anda dapat melihatnya saat seseorang ketahuan berbohong atau mencuri, atau saat mereka mengatakan sesuatu yang tidak relevan. Saat seseorang merasa terancam, mereka bereaksi seperti yang dilakukan para leluhur kita jutaan tahun lalu, mereka membeku.

Tak hanya manusia yang belajar untuk membeku saat ada bahaya, namun orang-orang disekitar kita belajar mencontoh perilaku kita dan turut membeku, bahkan tanpa melihat keberadaan bahaya secara langsung. Aksi membeku kadang disebut juga dengan efek “Deer in the Headlight“, Saat terjebak dalam kondisi yang berbahaya, kita langsung membeku sebelum melakukan aksi apapun. Dalam Kehidupan sehari-hari, respon ini dimanifestasikan dalam peristiwa sederhana, seperti saat seseorang sedang berjalan di trotoar lalu tiba-tiba berhenti, memegang keningnya, sebelum berbalik pulang dan mematikan kompor.

Kadang stres terlalu besar dan tak memiliki sumber daya untuk dapat menghadapinya, terkadang lalu apa yang dirasakan tidak dapat didefinisikan, hilang rasa (numb), dan sesaat orang bisa menjadi “bukan dirinya”. Sebagai mekanisme alami untuk menjaga diri dari kerusakan yang lebih besar. Gejala Freeze terlihat saat tiba-tiba kita diam membeku dan shock saat mendengar kabar yang sangat menakutkan seperti informasi tidak utuh dan memancing respons emosi, sementara daya pikir kritis kita tidak berfungsi. Misalnya informasi “bahwa semua orang yang terkena virus corona pasti akan meninggal.”

“Kita perlu diam sekejap agar otak kita bisa melakukan penilaian cepat, apakah ada bahaya yang datang ataukah ada sesuatu yang baru kita ingat. Yang mana pun dari hal itu, kita harus seiap menghadapi kemungkinan bahaya.”[3]

Menghindar (Flight)

Salah satu tujuan utama dari menghindar adalah menjauh dari deteksi pemangsa di situasi yang berbahaya. Tujuan kedua, untuk memberi kesempatan bagi subjek yang terancam untuk menganalisis situasi dan menentukan aksi terbaik yang harus dilakukan.[4] Kalau membeku tidak cukup untuk menghilangkan bahaya (misalnya, sumber bahaya terlalu dekat), respon limbik kedua adalah dengan menghindari bahaya atau pergi menjauh. Tentunya, tujuan respon ini adalah menyelamatkan diri. Berlari pun bisa menjadi pilihan yang berguna sebagai mekanisme untuk menyelamatkan nyawa. Selama berabad-abad otak kita mengarahkan tubuh untuk mengadopsi taktik ini guna menyelamatkan diri dari bahaya.

Namun di dunia moderen, kita hidup di kota dan bukan di alam liar, sehingga susah untuk melarikan diri dari ancaman. Maka dari itu kita mengadopsi respon “pergi” agar sesuai dengan kebutuhan modern. Perilakunya nampak jelas, namun ditujukan untuk kebutuhan yang sama yaitu memisahkan atau menjauhkan diri kita dari keberadaan individu atau benda yang tidak kita inginkan.

Apabila anda mengingat interaksi sosial yang terjadi di sekitar anda (maupun yang anda jalani), anda mungkin ingat saat-saat dimana anda menjauhkan diri dari perhatian atau orang yang tidak diinginkan. Seperti halnya dengan anak yang berusaha menjauhi makanan yang tidak disukainya, seperti mengalihkan muka ke kiri atau kanan menjauhi sendok yang sedang anda suapkan ke mulut anak. Tindakan “memblokir” dilakukan dengan cara menutup mata, menggosok kelopak mata atau menutup wajah dengant tangan.

Seseorang juga dapat menjauhkan dirinya dari orang yang tidak di inginkan (orang yang dimaksud disini  bersifat subjektif tergantung dari individu masing-masing) dengan cara bersandar menjauhi orang tersebut, menaruh barang (dompet) di paha, atau mengarahkan kakinya ke pintu keluar terdekat. Semua perilaku ini diatur oleh otak limbik dan mengindikasikan bahwa seseorang ingin menjauhkan diri dari sesuatu, seseorang, atau bahaya yang ada pada lingkungannya.

Melawan (Fight)

Respon Melawan adalah taktik terakhir otak limbik untuk bertahan hidup dengan cara menyerang. Saat seseorang menghadapi bahya dan tak dapat menghindari deteksi dengan cara membeku atau menyelamatkan diri dengan cara berlari (pergi) menjauh, satu-satunya alternatif adalah bertarung. Dalam evolusi kita sebagai spesies, kita dan mamalia lainnya, membangun strategi untuk mengubah rasa takut menjadi perlawanan untuk mengalahkan si penyerang (Panksepp, 1998, hal. 208). Karena upaya kita untuk mengungkapkan kemarahan kadang menjadi tidak praktis ataupun legal di dunia modern, maka otak limbik membangun strategi lain, selain respon perlawanan yang primitif.

Salah satu bentuk agresi di jaman moderen ini adalah argumen. Meskipun kata argumen awalnya berkaitan dengan debat dan diskusi, kata ini kemudian digunakan untuk menjelaskan pertengkaran verbal. Argumen yang memanas pada dasarnya adalah “perkelahian” tanpa kontak fisik. Hinaan, kata-kata yang menghakimi, tuduhan, kesangsian terhadap suatu integritas, provokasi, dan kata-kata sinis adalah persamaan perkelahian di jaman moderen, karena itu semua adalah bentuk agresi secara verbal.

Apabila anda memikirkannya, perkara hukum dapat disamakan sebagai jenis hukuman sosial di jaman moderen atau agresi dimana kedua belah pihak yang bertikai saling mengungkapkan pandangan masing-masing. Walaupun saat ini manusia semakin jarang terlibat dalam perkelahian fisik, perkelahian masih menjadi senjata sistem limbik kita.

Meskipun beberapa orang memiliki kecenderungan untuk lebih banyak terlibat dalam kejahatan dari yang lain, respon limbik kita muncul dalam berbagai bentuk selain menonjok, menendang, dan menggigit. Anda dapat menjadi agresif tanpa terlibat kontak fisik, contohnya, dengan menggunakan postur atau sorot mata anda, dengan membusungkan dada, atau dengan mengganggu “ruang” orang lain. Ancaman pada ruang personal mendorong respon limbik pada level individu.

Baca Juga:  Pengertian Denial Dan Penyebab Manusia Denial

Umumnya, respon ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada saat awal pengambilan keputusan, karena respon “perlawanan” adalah pilihan terakhir saat menghadapi ancaman, maka gunakan hanya setelah respon membeku atau menghindar tak berhasil. Karena pada dasarnya (pada jaman sekarang)  kebanyakan hal yang dapat menimbulkan bahaya adalah dari manusia itu sendiri. maka dari itu tindakan agresif dari respon “perlawanan” baik itu secara verbal maupun fisik sangat tidak dianjurkan. terlepas dari alasan legal ataupun fisik ketika melakukan agresi dapat menimbulkan gangguan emosi yang membuat kita susah untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih mengenai situasi yang terjadi, pada akhirnya solusi yang ditempuh tidak akan baik atau memuaskan.

Bagaimana mekanisme fight or flight terjadi?

Fight or flight dimulai di amigdala, bagian otak yang berperan dalam mengenali rasa takut.[5] Saat adanya bahaya, amigdala akan meresponsnya dengan mengirim sinyal ke hipotalamus. Hipotalamus kemudian akan merangsang sistem saraf otonom. Sistem saraf otonom terdiri atas sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis. Sistem saraf simpatis bertugas dalam respons fight or flight. Sementara itu, sistem saraf parasimpatis bertugas dalam pengendalian respons freeze. Hasil reaksi yang keluar nantinya akan bergantung pada sistem mana yang mendominasi saat adanya bahaya. Saat adanya rangsangan terhadap sistem saraf otonom, tubuh akan melepas hormon kortisol dan hormon adrenalin.[6]

Pada saat menghadapi ancaman, baik menilai akan menghadapi (Fight) atau melarikan diri (Flight), manusia membutuhkan energi. Sehingga tubuh mulai melepas hormon-hormon yang dibutuhkan untuk mendapatkan energi. Saat ancaman terjadi, stimulus ditangkap oleh panca indera dan kemudian diteruskan ke otak. Di otak, informasi yang masuk akan diproses dan pada saat dianggap sebagai ancaman, otak akan mengkalkulasi besar-kecilnya ancaman tersebut dan memutuskan apakah akan melawan atau lari.

Kemudian bagian dari otak yaitu Hypothalamus akan mengeluarkan hormone yang disebut Corticotropin-Releasing Hormone yang kemudian diterima oleh kelenjar Pituitary. Kemudian kelenjar Pituitary akan melepas Adrenocorticotropic Hormone yang akan diterima oleh Adrenal Cortex dan menyebabkan Adrenal Cortex melepas Cortisol. Pada saat yang bersamaan, Hypothalamus juga mempengaruhi Adrenal Modulla untuk melepas Adrenalin.

Adrenalin dibutuhkan untuk membuat tubuh berada dalam kondisi siaga dan siap untuk menjalankan respon dari otak. Hal ini ditandai dengan detak jantung semakin cepat, otot-otot mengeras, ritme nafas menjadi cepat. Tentunya tubuh yang telah dalam kondisi siaga juga membutuhkan “bahan bakar” untuk dapat memberikan reaksi atas ancaman yang terjadi. Untuk itu Cortisol akan berfungsi sebagai “kendaraan” untuk mengangkut “bahan bakar tersebut”. “Bahan bakar” yang diperlukan dalam proses ini antara lain adalah glukosa. Sehingga tubuh mengurangi produksi insulin agar kadar glukosa dalam tubuh meningkat. Selain insulin, tubuh juga mengurangi produksi sejumlah hormone seperti Serotonin dan system imun.

Pada manusia pra sejarah, “bahanbakar” tersebut langsung digunakan baik untuk melawan ataupun lari dari ancaman yang ada. Dan seiring dengan berlalunya ancaman tersebut, tubuh mulai menjadi seimbang kembali, otak akan mengurangi produksi adrenalin dan cortisol, disaat yang bersamaan, insulin, serotonin dan system imun kembali ke level normal. Sayangnya, pada manusia modern, mekanisme tersebut sering tidak berjalan. Karena tuntutan hidup, seringkali manusia modern menghadapi ancaman yang terus-menerus.

Stress yang terjadi secara terus menerus inilah yang menyebabkan ketidak seimbangan dalam tubuh. Adrenalin dan cortisol terus diproduksi yang menyebabkan detak jantung menjadi tidak normal dan pada akhirnya bisa menyebabkan gangguan pada jantung. Tekanan darah juga menjadi tinggi dalam kondisi ini, sehingga bila dibiarkan, dapat memicu terjadinya serangan stroke.

Sementara itu, karena produksi insulin menjadi tidak seimbang, kadar glukosa dalam darah juga meningkat. Yang bila dibiarkan, dapat memicu terjadinya diabetes. Belum lagi ditambah dengan cara “lari” dari stressor dengan cara yang salah. Seperti mengkonsumsi alkohol yang dapat mempengaruhi tingkat kesadaran dan dalam kadar tertentu dapat merusak ginjal, makan berlebihan yang dapat memicu terjadinya obesitas dengan penyakit-penyakit yang menyertainya, merokok berlebihan yang dapat merusak paru-paru, dan lain sebagainya.

Pelepasan hormon tersebut akan menimbulkan perubahan fisiologis saat kita dihadapkan dengan bahaya.[4] Perubahan tersebut, misalnya:

  1. Perubahan denyut jantung. Jantung akan berdetak lebih cepat untuk membawa oksigen ke otot utama tubuh. Dalam kondisi freeze, detak jantung dapat meningkat maupun melambat.
  2. Laju pernapasan. Pernapasan menjadi meningkat untuk mengirimkan lebih banyak oksigen ke darah. Dalam respons freeze, kita cenderung akan menahan napas atau membatasi pernapasan.
  3. Penglihatan. Penglihatan perifer akan meningkat sehingga kita dapat memerhatikan benda-benda di sekeliling. Pupil juga akan membesar dan membiarkan cahaya lebih banyak masuk – sehingga membantu kita melihat lebih jelas.
  4. Pendengaran. Kemampuan pendengaran akan meningkat.
  5. Darah. Darah akan mengental dan meningkatkan elemen tubuh yang berperan dalam pembekuan. Kondisi ini mempersiapkan tubuh apabila terjadi cedera.
  6. Kulit. Kulit akan mengeluarkan lebih banyak keringat atau mungkin menjadi dingin. Kita juga mungkin akan terlihat pucat atau merinding.
  7. Tangan dan kaki. Saat aliran darah meningkat ke otot utama, tangan dan kaki akan menjadi dingin.
  8. Persepsi nyeriFight or flight membuat tubuh mengurangi persepsi terhadap rasa sakit.
Baca Juga:  Stockholm Sindrom, Ketika Korban Mencintai Pelaku Kekerasan

Saat fight or flight perlu dikendalikan

Fight or flight sejatinya sudah ada di diri manusia sejak zaman dahulu kala. Mekanisme ini krusial saat kita menghadapi ancaman dan bahaya yang mengancam keselamatan, seperti gigitan hewan buas. Hanya saja, respons fight or flight saat ini bisa muncul saat kita menghadapi hal yang tidak ‘mengancam nyawa’, seperti pada orang yang mengalami fobia tertentu atau ‘sesederhana’ stres yang melanda saat berangkat bekerja dan berangkat ke sekolah pada beberapa individu.Stres individual seperti ini bisa disebabkan oleh trauma di masa lalu atau memiliki gangguan kecemasan. Trauma yang memantik rasa stres dan fight or flight tersebut juga dapat beragam, seperti kekerasan di masa kecil, kecelakaan dalam berkendara, atau pelecehan seksual dan pemerkosaan. Agar stres tak sampai mengganggu aktivitas Anda, diperlukan beberapa strategi untuk bisa pulih dan mengendalikannya. Beberapa cara untuk meringankan stress yang bisa dicoba, yaitu:

  1. Melakukan teknik relaksasi, seperti meditasi, yoga, tai chi, dan menerapkan teknik pernapasan dalam
  2. Beraktivitas fisik untuk mengendalikan hormon stres dan meningkatkan hormon kebahagiaan seperti endorfin
  3. Menjaga hubungan baik dengan sahabat dan anggota keluarga

Jika kita terbiasa melatih diri untuk memiliki berbagai tools untuk menghadapi masalah dengan tepat, pikiran kita tidak akan mudah dibajak oleh emosi dan selalu merespons dalam bentuk tindakan emergensi. Pikiran kritis biasanya berkawan juga dengan perasaan tenang dan keadaan fokus, sadar menghadapi situasi lingkungan yang berbahaya. Oleh karenanya, tindakan kita bisa lebih terkendali, terstruktur dan adaptif dalam menyelesaikan masalah atau ancaman yang dihadapi.

Langkah-langkah dalam menghadapi masalah

  1. Pendefinisian dan memperjelas masalahnya. Duduklah dengan tenang, pikirkan dan bila perlu tuliskan dan pahami keadaan yang terjadi. Apakah hanya kita saja yang menghadapi masalah ini, siapa yang terlibat, bagaimana masalah ini tepatnya.
  2. Apa sumber daya yang dimiliki untuk menghadapinya? Jika diibaratkan sebagai seorang pembuat bangunan, tidak mungkin ada satu palu untuk membangun rumah, kita pasti punya berbagai alat lain di gudang tempat pertukangan kita. Kita hanya perlu mencarinya dan memilih alat yang tepat. Apa yang sudah dilakukan selama ini untuk menyelesaikan masalah tersebut? Carilah berbagai strategi dan cara-cara lain dalam mengatasi masalah.
  3. Terkadang perlu dipertimbangkan daya tolak dan daya dukung lingkungan terhadap masalah yang dihadapi. Maka, pilihan tindakan akan sangat berbeda bila situasi lingkungan berbeda. Sebagai contoh, bila sang anjing gila itu diikat lehernya dan tersangkut di tiang, maka kita tak perlu lari pontang panting. Kalau lari kita lebih cepat dari anjing dan kita juga mudah untuk berlindung di tempat kita berada, kita tidak akan terlalu panik dengan kabur tanpa mempertimbangkan jalan yang kita lalui sehingga terjerembab pada lubang dan bukannya selamat dari anjing, tetapi justru malah celaka lebih parah. Maka berpikirlah sebelum bertindak.
  4. Pahami emosi yang muncul yang menyertai pikiran-pikiran negatif atau yang ditimbulkan dari masalah tersebut. Memahami emosi dan memberikan respons yang tepat akan membuat hidup lebih bahagia, merasa percaya diri dan aman. Sebaliknya, pengabaian emosi atau pengalihan kebutuhan emosi yang tampak sesaat malah menimbulkan masalah baru bagi kesehatan tubuh, seperti ketergantungan pada obat, gangguan sakit, somatisasi, dsb. Seringkali kita tidak biasa mengekspresikan emosi atau tidak tahu bagaimana caranya. Untuk itu, kadangkala terapi dibutuhkan untuk mengelola emosi dengan baik.
  5. Mungkin diperlukan teknik healing tertentu untuk dapat menenangkan diri dan melatih emosi stabil, tetapi belum tentu sudah menyelesaikan masalahnya itu sendiri. Saat kita bisa kabur dari anjing gila dengan meloncat ke pagar misalnya, tidak serta merta anjing gila tidak lagi bahaya. Bahayanya masih tetap ada, hanya saja Anda sementara aman di atas pagar.
  6. Menyelesaikan masalah memang memerlukan keberanian untuk mengambil tanggung jawab, namun hal itu bertentangan dengan keinginan kita manusia yang cenderung mengambil pilihan yang lebih mudah dan menyenangkan. Karena itu sering kali kita ingin menyerah namun tidak mau menerima konsekuensinya. Atau kadang mendapatkan keuntungan dari menyerah tanpa menyadarinya, seperti menjadi mengundang belas kasihan orang lain atau terhindar dari suatu tugas tertentu yang lebih berat.
  7. Minta bantuan, dukungan atau konsultasi dengan ahlinya. Bisa saja masalahnya tidak bisa dipahami, suatu peristiwa pemicunya sudah masuk ke bawah sadar. Mungkin memang terlalu sedikit daya dukung lingkungan sehingga berulang-ulang masalah ini muncul dan sumber daya pribadi menjadi tidak lagi mampu untuk menghadapinya sendirian. Jangan takut untuk meminta bantuan, baik dalam forum seperti ini atau praktik profesional.
Referensi:
  1. Schmidt, A; Thews, G (1989). “Autonomic Nervous System”. In Janig, W (ed.). Human Physiology (2 ed.). New York, NY: Springer-Verlag. pp. 333–370.[]
  2. Bartlett, D. (1998). Stress: Perspectives and processes. Philadelphia, USA: Open University Press[]
  3. Navarro, J., Karlins, M. (2008). What Everybody is Saying.[]
  4. Henry Gleitman, Alan J. Fridlund and Daniel Reisberg (2004). Psychology (6 ed.). W. W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-97767-7.[][]
  5. Margioris, Andrew; Tsatsanis, Christos (April 2011). “ACTH Action on the Adrenal”. Endotext.org. []
  6. Kwon, Diana. “Fight or Flight May Be in Our Bones”Scientific American[]