Secara neurologis jatuh cinta pada pandangan pertama memang ada, tapi ya tidak selalu kedua pihak mengalami hal yang sama pada saat yang sama. Manusia sebenernya jauh lebih mudah ditebak dari yang kita kira. Kalau ada orang yang bilang cinta tidak bisa ditebak, ya karena dia tidak tahu neurologi saja.  

Sepanjang evolusi sebagai sebuah spesies, otak manusia sudah belajar cara memilih pasangan tersehat, yang paling mungkin memberi keturunan, ini awal mula cinta.  Otak manusia akan menuntun kepada pasangan yang memiliki sumber daya dan komitmen yang dapat membantu keturunan kita untuk bertahan hidup.  

Banyak pelajaran yang diperoleh laki-laki dan perempuan di masa purba kemudian sandinya tersimpan di dalam otak modern kita sebagai sirkuit2 cinta neurologis. Sirkuit-sirkuit cinta di otak ini sudah ada sejak manusia lahir, diaktifkan di masa pubertas oleh campuran berbagai neurotransmiter yang bekerja dengan cepat.  

Sirkuit cinta yang sudah tersusun di otak secara evolusioner sangat anggun. Otak kita secara otomatis akan menaksir pasangan yang potensial.  Tentu saja yang disebut pasangan potensional bagi tiap individu pada akhirnya sangat beragam, tapi pada mulanya adalah untuk keberlangsungan hidup.  

Kalau ada si doi yang sesuai dengan “daftar harapan” leluhur kita, kita akan merasakan sengatan kimia yang membuat pusing akibat rasa ketertarikan. Daftar harapan leluhur kita tentang pasangan-pasangan kita, tersimpan rapih di kromosom yang tersembunyi jauh dalam inti setiap sel. Inilah nafas kehidupan.  

Inilah langkah awal dalam cara kuno membentuk ikatan pasangan, dan membuka gerbang-gerbang ke program “percumbuan-perkawinan-pengasuhan” di otak kita.  

Beruntunglah bila ada dua orang yang secara bersama-sama mengalami sengatan neurotransmiter-neurotransmiter cinta sehing tidak bertepuk sebelah tangan, dengan kata lain saling jatuh cinta. Pasangan yang kena sengatan kimia cinta secara bersamaan, mereka akan menghadapi kegelisahan, kekhawatiran, dan kegembiraan yang menumpulkan pikiran.  

Sebetulnya mereka tidak bisa mengendalikan semua itu, karena saat-saat seperti itu, gejala biologislah yang sedang membangun masa depan mereka bersama.  Perlu diingat bahwa manusia menghabiskan lebih dari 99% dari sekian juta tahun (yang diperlukan untuk berevolusi) dengan hidup dalam lingkungan yang primitif.  

Sehingga sebagai akibatnya, sirkuit-sirkuit otak manusia memang berkembang untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi nenek moyang manusia jaman dulu. Tantangan terpenting yang dihadapi nenek moyang kita adalah masalah reproduksi. Jangan heran sampe sekarang dorongan punya anak sebanyak-bayaknya masih ada.  Namun masalah reproduksi bukan hanya masalah punya anak, juga untuk memastikan bahwa anak-anak itu akan hidup cukup lama untuk menyebarkan gen-gen kita.  

Nenek-kakek moyang yang pilihan pasangannya menghasilkan lebih banyak keturunan yang mampu bertahan hidup, berarti berhasil menurunkan gen-gen mereka.   Alhasil, sistem otak mereka, khususnya yang mengembangkan kemampuan untuk “ketertarikan percumbuan” lebih sukses dalam soal reproduksi ini.  

Nenek-kakek moyang dengan langkah reproduksi yang salah, tidak meninggalkan jejak di masa depan spesies. Mereka punah ditengah perjalanan evolusi.  Akibatnya, struktur otak para leluhur dengan konsep reproduksi dari jaman purba itulah yang jadi struktur standart bagi manusia modern. 

Nah, aktifitas “sirkuit percumbuan” dalam otak kita inilah yang sekarang dikenal sebagai ‘jatuh cinta’. Yang tentu saja ada di luar jangkauan kesadaran. Sirkuit percumbuan dalam otak yang terbentuk sepanjang jutaan tahun ini mendasari kecenderungan memilih pasangan. Tiap individu unik. Hal ini juga yang mendasari kenapa seseorang mempunyai pilihan tipe-tipe tertentu yang berbeda. Tiap orang punya kecenderungan berbeda.  

Baca Juga:  Fight or Flight, Respon Mekanisme Tubuh Menghadapi Masalah, Stress dan Takut

Nah kerja senyawa2 kimia di otak lah yg menghasilkan sensasi berjuta rasa di saat-saat jatuh cinta, otak emosi meluap otak rasional mandeg. Meski otak laki-laki dan perempuan merespon secara beda, tapi jatuh cinta adalah salah satu perilaku atau keadaan otak yang paling tidak rasional bagi keduanya.   

Otak yang jatuh cinta menjadi ‘tidak logis’ dalam gelora asmara. Akibatnya otak benar-benar buta “kekurangan” si doi. Ini di luar kesadaran.  “Kasmaran gilak” itu sekarang menjadi keadaan otak yang terdokumentasi, yang berbagi sirkuit-sikuit otak dengan keadaan obsesi, mania, mabuk, haus, dan lapar.  

Keadaan yg nggak karu-karuan ini bukan hasil kerja satu macam emosi, tetapi beberapa emosi yang menguat dan beberapa emosi yang lain melemah.  Area jatuh cinta di otak ini sebenarnya merupakan sistem motivasi yang berbeda dengan area dorongan seks, tapi saling bertumpang tindih emosinya.  

Aktivitas otak yg jatuh cinta membara ini dibahanbakari hormon-hormon dan neurotransmiter2 seperti dopamin, estrogen, oksitosin dan testosteron.  Sirkuit2 otak yang diaktifkan saat jatuh cinta sama dengan area2 otak seorang pecandu narkoba yang sedang parah2nya mengharap suntikan2 selanjutnya.

Amigdala (sistem siaga-takut) dan anterior cinguli cortex (sistem khawatir-berfikir kritis) di otak benar2 dimatikan ketika sirkuit cinta aktif.  Mirip org minum ekstasi, kewaspadaan yang normalnya dimiliki manusia terhadap orang tak dikenal justru dimatikan dan semua sirkuit cinta dihidupkan.

Jadi, sebenarnya, jatuh cinta dengan asmara menggebu adalah mabuk ekstasi yang alami. Bagi yang suka obatan “alami” sering2 aja jatuh cinta 

Berbagai gejala klasik saat awal jatuh cinta sama dengan efek awal narkoba seperti: amfetamin, kokain, dan candu seperti heroin dan morfin. Obat2 tadi memicu sirkuit reward (pahala) di otak yang menimbulkan pelepasan dan efek kimiawi yang sama dengan efek jatuh cinta asmara yang membara.

Pendapat bahwa orang bisa ketagihan cinta, tidak salah. Orang kasmaran, khususnya 6 bln pertama, selalu inginkan kegembiraan meluap2 dari kebersamaan.

Jatuh cinta pada 6 bulan pertama juga memunculkan rasa saling bergantung yang kuat. Setelah itu ya mulai turun.

Penelitian2 tentang otak yang jauh cinta, memperlihatkan bahwa keadaan otak kasmaran secara ngawur ini berlangsung selama ±6-8 bulan pertama. Mabok cinta begitu kuatnya sehinga kepentingan, kebahagiaan dan hidup org yg dicintai itu jadi sama pentingnya bahkan melebihi diri sendiri.

Selama fase awal cinta ini, seseorang bisa menghafal setiap detail kekasihnya. Perpisahan setelah pertemuan bagaikan perjuangan hidup-mati. Tersiksa saat perpisahan fisik pada orang jatuh cinta bukan sekedar fantasi. Ini adalah rasa sakit akibat berkurangnya beberapa neurotransmiter.

Banyak orang bahkan tidak menyadari betapa terikatnya atau betapa cintanya sampai2 mereka merasakan sentakan saat kekasih tidak ada di dekatnya. Banyak yang terbiasa menganggap kerinduan orang jatuh cinta bersifat psikologis, sebenarnya bersifat fisik. Seperti kondisi otak kekurangan narkoba.

Selama perpisahan inilah, pada orang yang mabuk cinta, motivasi untuk bersatu lagi bisa mencapai puncaknya di otak. Tapi begitu bertemu kembali, semua komponen dalam ikatan cinta itu dapat dipulihkan oleh membanjirnya dopamin dan oksitosin.  

Aktivitas seperti membelai, mencium, menatap dan memeluk dapat memulihkan ikatan kimia cinta dan kepercayaan di otak

Tindakan mendekap/berpelukan melepaskan oksitosin di otak, khususnya pada perempuan, menimbulkan kecenderungan percaya orang yang memeluk. Saking tidak logisnya, sampai2 lebih percaya rayuan laki2 yang baru dikenal beberapa hari ketimbang nasihat orang tua sendiri.

Baca Juga:  Awas Jatuh Cinta! Apa Yang Terjadi Di Otak Dalam Perspektif Neurobiologi

Dari sebuah penelitian mengenai pelukan, oksitosin secara alami dikeluarkan di otak setelah satu pelukan berdurasi 20 detik. Coba aja! Oksitosin menguatkan ikatan antara orang yang berpelukan itu memicu sejumlah sirkuit kepercayaan di otak.

Jadi, para perempuan, jangan biarkan seorang laki2 memelukmu, kecuali kamu punya rencana mempercayainya. Sentuhan, tatapan, berciuman dan orgasme seksual juga melepaskan oksitosin dalam otak perempuan. Tapi tidak pada laki2.

Estrogen dan progesteron juga memunculkan efek ikatan ini di dalam otak perempuan dengan meningkatkan oksitosin dan dopamin. Lagu2 percintaan itu makin nggak masuk akal makin mudah diingat, lha wong memang jatuh cinta itu bikin otak rasional mogok kerja.

Walaupun sama-sama menimbulkan perilaku irrasional, mekanisme otak laki2 yang jatuh cinta, secara kimiawi berbeda dengan yang terjadi pada otak perempuan. Seks tidak selalu menimbulkan cinta, tapi bagi otak laki2 urusan seks ini menjadi bagian penting dlm proses jatuh cinta.

Respon bioligis otak laki-laki terhadap peluang seks menghasilkan bahan2 kimia yg memunculkan euforia yg menyenangkan, mirip orang mabuk kokain.  Otak laki2 yg jatuh cinta tidak bisa memahami alasannya, dan saat harus berjauhan dengan si dia, laki-lki akan ketagihan kebutuhan biologis yang primitif ini.

Proses jatuh cinta pada otak laki-laki diawali dengan hal yang sama dengan yang terjadi pada perempuan yaitu munculnya “gempa” testosteron. Levelnya melonjak. Seperti gempa bumi, “gempa” testosteron yang mengguncang area ventral tegmentum otak laki-laki berpotensi (tapi tdk selalu) “tsunami” jatuh cinta  

Gempa testosteron di ATV laki-laki, kalau mendapatkan sinyal “iya” dari pasangan, menimbulkan gelombang dopamin, ini yg berpotensi jadi tsunami. ATV yang kebanjiran dopamin, menimbulkan sensasi euforia, selanjutnya hal ini mengaktifkan sirkuit jatuh cinta berikutnya: nucleus accumbens  

Tsunami pada otak laki-laki yang jatuh cinta makin besar ketika dopamin-testosteron-vasopresin bercampur di nucleus acumen. Otak semakin irasional.  

Kalau tsunami di otak laki-laki yang jatuh cinta adalah kombinasi dopamin-testosteron-vasopresin, pada otak perempuan: dopamin-oksitosin- estrogen.

Gelombang tsunami jatuh cinta yang mengamuk di ATV dan nucleus accumbent otak laki-laki ini bener-benar membuat dua area itu kehilangan fungsinya. ATV yang seharusnya berfungsi sebagai pusat motivasi otak terhadap konsep ‘pahala’ dan nucleus accumben sebagai antisipator, jadi kacau.  

Campuran dopamin dan neurotransmiter2 lain ini menghasilkan bahan bakar adiktif dan “beroktan” tinggi yg membuat laki-laki benar2 jatuh cinta. Saat laki-laki yang jatuh cinta berjauhan dengan si doi, otaknya akan tertuju ke pujaannya itu secara terus menerus. Zat kimia adiktif itu sebabnya.  

Tsunami jatuh cinta dengan gelombang adiktifnya membuat otak laki2 tidak bisa berhenti memikirkan, membayangkan dan membicarakan orang yang dicintai. Pernah ada penelitian, ternyata laki-laki yang jatuh cinta menghabiskan lebih dari 85% waktu terjaganya untuk membayangkan kekasihnya. Gilak enggak?

Secara statistik, laki-laki rata2 menginginkan 14 pasangan seksual dalam hidup mereka, sedangkan perempuan rata-rata menginginkan 1-2 pasangan seksual.  

Perbedaan respon antara laki2 dan perempuan tehadap “area bawah pinggang” lawan jenis dipengaruhi perbedaan kimiawi yang mendasar pada otak masing2.  Rendaman testosteron yang terjadi 2x dalam perkembangan otak laki-laki, membuat mrk jauh lebih peka ketika muncul gempa testosteron yang mengguncang minat.  

Dorongan naluri primitif pada otak manusia laki-laki berkeinginan berpasangan sebanyak2nya dihambat oleh gen vasopresin yg muncul belakangan.  

Baca Juga:  Sunk Cost Fallacy Dalam Wujud Toxic Relationship dan Cara Mengakhiri Hubungan Toxic

Makin panjang gen vasopresin seorang laki2, makin besar kecenderungan mereka untuk bermonogami. Gen ini juga berhubungan dengan altruisme. Keinginan didorong oleh naluri sedangkan keputusan dihasilkan oleh kerja otak emosi dan otak rasional. Resultantenya menjadi sikap.  

Hanya diperlukan waktu 5 menit untuk berinteraksi secara santai dengan perempuan yang menarik sehingga meningkatkan testosteron dalam otak laki-laki.

Otak laki-laki hanya memerlukan waktu 1/5 detik untuk mengelompokkan seorang perempuan terlihat menarik secara seksual atau tidak.

Baik laki2 maupun perempuan mempunyai otak bawah pinggang (naluri seksual) nya masing2. Dan pada laki-laki pusatnya adalah ‘penis’  

Semua laki2 tahu, bahwa penis memiliki keinginannya dan bisa menegang sendiri tanpa perintah apapun dari otaknya. Siapa yg nggak setuju?   

Ereksi ‘reflektif’ ini berbeda dengan rangsangan seksual yang sebenarnya, karena berasal dari tanda yang tidak disadari dari jaringan saraf dari otak. Ereksi reflektif bukan berasal dari hasrat yang disadari laki2 untuk berhubungan seksual.  

Reseptor testostron yang ada di jaringan saraf, testikel, penis dan otaklah yg mengaktifkan seluruh jaringan seksual seorang laki-laki.  Perempuan mungkin terkejut karena penis itu bisa bergerak secara otomatis, lebih terkejut lagi karena laki2 tidak mengetahui kapan mereka mengalami ereksi  

Rangsangan yang sesungguhnya bagi laki2 biasanya berawal karena reaksi di dalam otak, dengan pemikiran atau bayangan tentang erotika.  Selama laki2 mempunyai pasokan testosteron yang memadai, melihat hal yg erotis secara otomatis akan mengaktifkan sirkuit seksual di otak mereka.  

Secara neurobiologis diketahui, pengejaran-seksual otak laki2 dan sirkuit2 rangsangan untuk beraksi dipersiapkan oleh testosteron agar berfungsi.  Hormon testosteron ini meningkatkan minat seksual laki2 dan meningkatkan kekuatan otot dan penis supaya bisa berfungsi dg baik 

Jadi, sebelum usia 55 tahun, sekedar ‘melihat’ seringkali adalah hal yang diperlukan bagi banyak laki2 untuk benar-benar ereksi.  Setelah usia itu, frekwensi pengerasan secara instan berkurang, dan laki2 sering kali perlu stimulasi fisik untuk ereksi yang cukup untuk penetrasi  

Ketika seorang laki2 melihat lekukan tubuh perempuan yang menarik minatnya, visual cortex di otaknya mengirim sinyal ke hypothalamus nya. Kemudian, Hipotalamus akan memulai mesin hormonal untuk ereksi. Menyalakan pusat antisipasi-kesenangan yaitu nukcleus accumben.  

Selanjutnya, Nucleus accumben akan memberikan adanya harapan pahala/ imbalan seksual pada tahapan berikutnya.  Nah, rangsangan seksual mulai terjadi di otak, hal ini akan diperkuat oleh kontak fisik.

Jadi jangan heran kalau sulit dibedakan antara seorang laki2 yang jatuh cinta dan yang diamuk birahi, sirkuitnya overlaping!  

Bagi otak laki2, jatuh cinta pada dasarnya adalah “masa percumbuan”, yaitu masa yg berakhir pada hubungan seksual yang pertama. Dorongan primitif laki2 untuk menebar benih sebanyak2nya secara evolusioner dikontrol dan dihambat oleh gen vasopresin yang muncul belakangan.  

Jatuh cinta pada laki2 berdurasi lebih pendek ketimbang perempuan, sehingga pada hubungan selanjutnya fungsi orbitofrontal cortex lebih diperlukan.

OFC yang juga dikenal sebagai tempat sirkuit altruisme, membuat laki2 rela secara sadar berbagi tanggung jawab saat masa jatuh cinta usai. Bagi perempuan jaman sekarang, perlu mengetahui seberapa dominan OFC laki2, sehingga tahu seberapa tanggung jawab orang itu.   

Makin dominan OFC seorang laki2, makin tinggi kecenderungannya untuk setia kepada pasangannya. Meskipun masa percumbuan sudah berlalu.