Pada 1519, Hernan Cortes dan pasukan penakluknya menginvasi Meksiko, yang pada masa itu masih menjadi dunia manusia yang terisolasi. Aztec, demikian orang-orang yang hidup di sana menyebut diri mereka, segera tahu bahwa orang asing menunjukkan minat luar biasa pada logam kuning tertentu. Faktanya, mereka tampak tidak pernah berhenti membicarakannya. Kaum pribumi tidak mengenal emas—sangat indah dan mudah dikerjakan sehingga mereka menggunakannya untuk membuat perhiasan dan patung-patung, dan mereka terkadang menggunakan serbuk emas sebagai alat tukar: Namun, ketika orang Aztec ingin membeli sesuatu, mereka biasanya membayar dengan biji kakao atau gulungan kain. Oleh karena itu, obsesi orang Spanyol pada emas tampaknya tak bisa dijelaskan. Apa yang membuat emas

begitu penting, logam yang tidak bisa dimakan, diminum, atau dijalin, dan terlalu lunak untuk digunakan sebagai peralatan atau senjata? Ketika kaum pribumi menanyai Cortes mengapa orang-orang Spanyol begitu tergila-gila pada emas, sang penakluk itu menjawab, “Karena saya dan kawan-kawan saya menderita penyakit hati yang hanya bisa diobati dengan emas.”[1]

Di  dunia  Afro-Asia,  tempat  asal  orang-orang  Spanyol itu, obsesi pada emas benar-benar epidemis. Bahkan, permusuhan paling sengit disebabkan oleh logam kuning tak berguna  itu. Tiga abad sebelum penaklukan Meksiko, para leluhur  Cortes dan angkatan perangnya melancarkan perang agama berdarah melawan kerajaan-kerajaan Muslim di Iberia dan Afrika Utara. Para pengikut Kristus dan para pengikut Allah saling bunuh sampai  angka  ribuan,  memorak-porandakan  ladang-ladang  dan perkebunan, dan mengubah kota-kota makmur menjadi reruntuhan yang membara. Semua untuk kemegahan yang lebih besar Kristus atau Allah.

Ketika orang Kristen pelan-pelan di atas angin, mereka menandai kemenangan-kemenangan tidak hanya dengan menghancurkan masjid-masjid dan membangun gereja-gereja, tetapi juga mengeluarkan koin-koin baru emas dan perak dengan lambang salib dan bersyukur kepada Tuhan atas bantuanNya memerangi orang-orang kafir. Namun, bersamaan dengan mata uang baru itu, para pemenang mencetak jenis koin lain, yang disebut millares, yang membawa sebuah pesan agak berbeda. Koin segi empat yang dibuat orang-orang Kristen penakluk itu dihiasi dengan rangkaian tulisan Arab yang menyatakan “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah’’. Bahkan, uskup Katolik Melgueil dan Agde mengeluarkan salinan koin-koin Muslim itu, dan orang-orang Kristen yang takut Tuhan dengan senang hati menggunakannya.[2]

Toleransi juga mekar di balik bukit. Para pedagang  Muslim di Afrika Utara melakukan bisnis dengan menggunakan koin-koin seperti florin Florentine, ducat Venctia, dan gigliato Ncapolit. Bahkan, para penguasa Muslim yang menyerukan jihad melawan kaum kafir Kristen dengan senang menerima pajak dalam bentuk koin-koin yang memampangkan Kristus dan Perawan Maria.[3]

Berapa Harganya?

Para pemburu-penjelajah tak punya uang. Setiap kawanan berburu mengumpulkan dan membuat hampir semua yang dibutuhkan, mulai dari daging sampai obat, dari sandal sampai sihir. Bisa saja satu anggota kawanan punya keahlian untuk tugas yang berbeda dengan anggota lainnya, tetapi mereka berbagi makanan dan layanan dalam suatu model ekonomi gotong royong. Sekerat daging yang diberikan secara gratis membawa asumsi pembalasan—katakanlah bantuan medis gratis. Kawanan independen secara ekonomi; hanya beberapa item langka yang tidak bisa ditemukan secara lokal—kerang laut, pewarna, obsidian, dan sejenisnya—yang harus didapatkan dari orang asing. Ini biasanya dilakukan dengan barter sederhana: “Kami akan beri Anda kerang-kerang laut yang cantik, dan Anda akan memberi kami batu berkualitas tinggi”.

Hal seperti ini tak banyak berubah sampai kedatangan Revolusi Agrikultur. Sebagian besar orang terus hidup dalam komunitas-komunitas kecil yang intim. Banyak kemiripan dengan kawanan pemburu-penjelajah, setiap desa adalah kesatuan ekonomi yang mandiri, dipelihara dengan gotong royong plus sedikit barter dengan pihak luar. Seorang warga desa bisa memiliki keahlian ulung membuat sepatu, yang lainnya mahir melakukan perawatan kesehatan sehingga para penduduk desa tahu ke mana harus pergi ketika tak punya sepatu atau sakit. Namun, desa-desa itu kecil dan ekonomi mereka terbatas sehingga tak mungkin ada pembuat sepatu atau dokter sebagai pekerja tetap.

Munculnya kota-kota dan kerajaan-kerajaan serta perbaikan infrastruktur transportasi membawa peluang-peluang baru spesialisasi. Kota-kota dengan penduduk padat menyediakan pekerjaan tetap bukan hanya bagi pembuat sepatu dan dokter profesional,  melainkan  juga  tukang  kayu,  pendeta,  tentara, dan pengacara. Desa-desa yang mendapatkan reputasi sebagai produsen anggur yang benar-benar baik, minyak zaitun, atau keramik menyadari bahwa mereka layak mengupayakan keahlian di produk itu secara eksklusif dan emperdagangkannya dengan penduduk lain untuk semua barang yang mereka butuhkan. Ini membawa makna yang sangat banyak. Iklim dan tanah berbeda, lalu mengapa pula harus minum anggur yang biasa-biasa saja dari halaman belakang jika kamu bisa membeli varietas yang lebih halus dari tempat yang tanah dan iklimnya jauh lebih  cocok untuk tanaman anggur? Jika tanah liat di halaman belakang bisa dijadikan pot yang lebih kuat dan lebih indah, maka kamu bisa melakukan pertukaran. Lebih dari itu, pekerja tetap spesialis anggur dan pembuat pot, belum lagi dokter dan pengacara, bisa mengasah keahlian mereka demi kepentingan semua. Namun, spesialisasi menciptakan sebuah masalah: bagaimana kamu bisa mengatur pertukaran barang antar spesialis?

Sebuah ekonomi gotong royong tidak bisa berjalan ketika banyak orang yang asing satu sama lain berusaha untuk bekerja sama. Memberi bantuan gratis kepada saudara perempuan atau tetangga adalah satu hal, tetapi merawat orang asing yang mungkin tidak pernah memberikan balasan adalah hal yang sangat berbeda. Orang bisa rugi dalam barter.  Namun,  barter  hanya bisa efektif untuk pertukaran dengan produk terbatas.  Barter  tidak bisa menjadi basis bagi sebuah ekonomi yang kompleks.[4]

Untuk memahami keterbatasan barter, bayangkan Anda memiliki sebuah kebun apel di desa perbukitan yang menghasilkan apel paling renyah, paling manis di seantero provinsi. Anda bekerja begitu keras di kebun sehingga sepatu Anda rusak. Jadi, Anda memacu kereta keledai dan  bertolak  ke  pasar  di  pusat kota di tepi sungai. Tetangga Anda memberi tahu bahwa seorang pembuat sepatu di ujung selatan pasar sudah membuatkannya sepasang sepatu bot yang benar-benar kuat, yang bertahan sampai lima musim. Anda menemukan toko pembuat sepatu itu dan menawarkan barter sebagian apel Anda ditukar dengan sepatu yang Anda butuhkan.

Pembuat sepatu enggan. Berapa banyak apel yang harus dia minta sebagai pembayaran? Setiap hari dia menghadapi puluhan pelanggan, beberapa di antaranya membawa serta beberapa kantung apel, sementara yang lainnya membawa gandum, kambing, atau pakaian—semua dengan kualitas beragam. Ada pula yang menawarkan keahlian dalam mengajukan petisi kepada raja atau mengobati sakit punggung. Terakhir kalinya, pembuat sepatu itu menukar sepatu  dengan apel  3  bulan lalu,  dan saat itu dia meminta 3 kantong apel. Atau, mungkin 4? Namun, pikirkanlah, apel-apel itu apel lembah yang masam, bukan apel bukit yang istimewa. Di sisi lain, pada kejadian sebelumnya, apel-apel itu ditukar dengan sepatu perempuan kecil. Teman ini minta bot ukuran pria. Di samping itu, dalam beberapa pekan terakhir penyakit membinasakan ternak di seluruh kota, dan kulit menjadi jarang. Para penyamak mulai meminta dua kali harga sepatu yang sudah jadi untuk mendapatkan kulit dalam jumlah yang sama. Apakah itu tak boleh dipertimbangkan?

Dalam sebuah ekonomi barter, setiap hari pembuat sepatu dan penanam apel harus belajar lagi dan lagi harga-harga relatif puluhan komoditas. Jika ada 100 komoditas yang berbeda diperdagangkan di pasar, maka para pembeli dan penjual harus tahu 4.950 nilai tukar yang berbeda-beda. Dan, jika ada 1.000 komoditas yang berbeda diperdagangkan, pembeli dan penjual harus mencerna 499.500 nilai tukar yang berbeda!5 Bisakah  Anda bayangkan?

Bahkan, lebih parah. Sekalipun Anda berhasil mengkalkulasi berapa banyak apel yang setara dengan sepasang sepatu, barter tidak selalu bisa dilakukan. Lagi pula, perdagangan memerlukan setiap pihak ingin apa yang ditawarkan oleh pihak lain. Apa yang terjadi jika pembuat sepatu tidak menyukai apel dan, pada saat   itu yang diinginkan adalah perceraian? Benar, petani bisa mencari pengacara yang menyukai apel dan menyusun transaksi tiga-pihak. Namun, bagaimana kalau pengacara itu sudah kebanyakan apel, dan dia benar-benar butuh jasa pangkas rambut?

Baca Juga:  Bab 9 Sapiens – Yuval Noah Harari: Anak Panah Sejarah, Bagian Tiga: Penyatuan Manusia

Sebagian masyarakat berusaha mengatasi problem itu  dengan menciptakan sistem barter pusat yang mengumpulkan produk-produk  dari  para  spesialis  petani  dan   manufaktur  dan mendistribusikan produk-produk itu ke mereka yang membutuhkan. Eksperimen yang paling besar dan paling terkenal dilakukan di Uni Soviet, dan gagal merana. “Setiap orang akan bekerja menurut kemampuan mereka, dan menerima menurut kebutuhan mereka” terbukti dalam praktiknya menjadi “setiap orang bekerja sesedikit mungkin yang bisa  mereka  lakukan,  dan menerima sebanyak mungkin yang bisa mereka rengkuh”. Eksperimen yang lebih moderat dan lebih berhasil dilakukan di tempat lain, misalnya di Imperium Inca. Meskipun demikian, sebagian besar masyarakat menemukan cara yang lebih mudah untuk menghubungkan ahli dalam jumlah besar—mereka mengembangkan uang.

Kerang dan Rokok

Uang diciptakan berkali-kali di banyak tempat. Pengembangannya tak membutuhkan terobosan teknologi—ini benar-benar revolusi mental. Yang dibutuhkan adalah penciptaan suatu realitas intersubjektif baru yang muncul semata-mata dalam imajinasi bersama orang-orang. Uang bukanlah fisik koin atau uang kertas. Uang  adalah segala yang orang bersedia menggunakannya untuk merepresentasi secara sistematis nilai benda lain untuk tujuan pertukaran barang dan jasa. Uang memungkinkan orang membandingkan dengan cepat dan mudah nilai komoditas-komoditas yang berbeda (seperti apel, sepatu, dan perceraian), untuk menukar dengan mudah satu benda dengan benda lainnya, dan untuk menyimpan kekayaan dengan nyaman. Ada banyak jenis uang. Yang paling terkenal adalah koin, yakni kepingan standar logam yang dicetak.

Namun, uang ada jauh sebelum penemuan koin, dan budaya- budaya tumbuh makmur dengan menggunakan benda-benda lain sebagai mata uang, seperti kerang, sapi, kulit, garam, biji-bijian, manik-manik, pakaian, dan promes. Kerang kuwuk digunakan sebagai uang selama sekitar 4.000 tahun di seluruh Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, dan Oseania. Pajak masih dibayar dengan kerang-kerang kuwuk di Uganda Inggris pada awal abad ke-20.

Di penjara-penjara dan kamp-kamp penahanan tawanan perang modern, rokok sering menjadi uang. Bahkan, para tahanan yang tidak merokok bersedia menerima rokok sebagai pembayaran, dan mengkalkulasi nilai semua barang dan jasa lain dengan rokok. Satu orang yang selamat dari kamp Auschwitz menggambarkan mata uang rokok digunakan di kamp itu: “Kami punya mata uang sendiri, yang nilainya tak dipertanyakan siapapun: rokok. Harga setiap benda dinyatakan dalam rokok. Padamasa “normal”, yakni ketika para kandidat penghuni kamar gas berdatangan dalam kecepatan normal, selembar roti berharga 12 rokok;  satu paket margarin seberat 3 ons berharga 30 rokok;  jam tangan berharga 80 sampai 200 rokok; seliter alkohol setara dengan 400 rokok!

Faktanya, bahkan pada masa kini dan uang kertas adalah bentuk uang yang terhitung langka. Pada 2006, jumlah total uang di seluruh dunia adalah sekitar $473 triliun, tetapi jumlah total koin dan uang kertas kurang dari $47 triliun.” Lebih dari 90 persen dari semua uang—lebih dari $400 triliun muncul dalam bentuk rekening—hanya ada dalam server-server komputer. Demikian pula, transaksi-transaksi bisnis dieksekusi dengan memindahkan data elektronik dari satu file komputer ke file lain, tanpa pertukaran uang fisik. Hanya seorang kriminal yang membeli rumah, misalnya, dengan menenteng  koper  penuh uang kertas. Sepanjang orang bersedia mendagangkan barang dan jasa dengan pertukaran data elektronik, itu bahkan  lebih baik ketimbang koin-koin mengkilap atau uang-uang kertas yang masih kaku—lebih cerah, tidak lecek, dan lebih mudah dihitung.

Agar sistem-sistem komersial yang kompleks bisa berjalan, keberadaan suatu jenis uang tertentu tak terelakkan. Seorang pembuat sepatu dalam ekonomi uang perlu tahu hanya harga yang diterakan ada beragam sepatu—tak perlu menghafal nilai tukar antara sepatu dan apel atau kambing. Uang juga membebaskan para ahli apel dari kebutuhan mencari  para  pembuat  sepatu  yang sangat butuh apel karena setiap orang menginginkan uang. Inilah mungkin kualitasnya yang paling mendasar. Setiap orang menginginkan uang karena setiap orang lain juga selalu menginginkan uang, yang berarti Anda bisa menukar uang untuk apapun yang Anda inginkan atau butuhkan. Pembuat  sepatu akan selalu senang menerima uang Anda karena tak peduli apa pun yang dia inginkan—apel, kambing, atau  perceraian—dia  bisa mendapatkannya dengan uang.

Oleh karena itu, uang adalah medium universal pertukaran yang memungkinkan orang mengubah menukar hampir dengan hal apa pun. Otot ditukar dengan otak ketika seorang tentara yang dipecat menggunakan dana tunjangan  kemiliterannya untuk membiayai kuliah di sekolah tinggi. Tanah ditukar dengan kesetiaan ketika seorang baron menjual properti untuk menggaji para pelayannya. Kesehatan ditukar dengan keadilan ketika seorang dokter menggunakan upahnya untuk membayar seorang pengacara—atau menyuap hakim. Bahkan, dimungkinkan untuk menukar seks dengan penyelamatan, seperti prostitusi abad ke- 15 yang memungkinkan pelacur tidur dengan pria demi uang, yang kemudian digunakan untuk membeli pengampunan dari Gereja Katolik.

Jenis-jenis ideal uang memungkinkan orang tidak semata-mata menukar satu benda dengan benda lain, tetapi juga menyimpan kekayaan. Banyak hal berharga yang tidak bisa disimpan—seperti waktu atau kecantikan. Beberapa benda hanya bisa disimpan untuk jangka waktu pendek, seperti stroberi. Benda lain lebih awet, tetapi perlu banyak ruang  dan  membutuhkan  fasilitas  dan perawatan mahal. Biji-bijian, misalnya, bisa disimpan selama bertahun-tahun, tetapi untuk melakukannya Anda perlu membangun gudang besar dan menjaganya dari  tikus,  jamur, air, kebakaran, dan pencuri. Uang, entah itu kertas atau bit komputer atau kerang kuwuk, mengatasi problem-problem ini. Kerang-kerang kuwuk tidak membusuk, tak mempan tikus, bisa tahan dari kebakaran, dan cukup ringkas untuk disimpan di tempat yang aman.

Untuk bisa menggunakan kekayaan tidak cukup hanya dengan menyimpannya. Sering, ada keharusan untuk mengangkutnya  dari satu tempat ke tempat lain. Sebagian bentuk kekayaan,  seperti realestat, tidak bisa diangkut sama sekali. Komoditas- komoditas seperti gandum dan beras bisa diangkut dengan susah payah. Bayangkan seorang petani kaya yang hidup di sebuah wilayah tanpa uang, yang bermigrasi ke sebuah provinsi yang jauh. Kekayaannya berisi terutama rumah dan beras. Petani itu tidak bisa membawa serta rumah atau padinya. Dia mungkin menukarnya dengan berton-ton beras, tetapi akan sangat memberatkan dan mahal untuk mengangkut berasnya. Uang mengatasi problem ini. Petani bisa menjual propertinya dengan satu sak kerang kuwuk, yang bisa dengan mudah dia bawa ke mana pun pergi.

Karena bisa menukar, menyimpan, dan mengangkut harta dengan mudah dan murah, maka uang memberi kontribusi bagi munculnya jaringan komersial yang kompleks dan pasar-pasar yang dinamis. Tanpa uang, jaringan-jaringan komersial dan pasar hanya akan tetap dengan ukuran, kompleksitas, dan dinamikanya yang terbatas.

Bagaimana Cara Kerja Uang?

Kerang-kerang kuwuk dan dolar hanya memiliki nilai dalam imajinasi bersama kita. Nilainya tidak inheren dalam struktur kimiawi kerang dan kertas, baik warna maupun bentuknya.

Dengan kata lain, uang bukanlah realitas material, melainkan sebuah konstruk psikologis. Ia bekerja dengan mengubah materi menjadi pikiran. Namun, mengapa bisa berhasil? Mengapa orang bersedia menukar padi yang subur untuk segenggam kerang kuwuk yang tidak berharga? Mengapa Anda mau membolak-balik hamburger, menjual asuransi kesehatan, atau mengasuh 3 anak yang menjengkelkan demi beberapa lembar kertas berwarna? Orang bersedia melakukan hal semacam itu ketika mereka percaya pada omong kosong imajinasi kolektif mereka. Kepercayaan adalah bahan baku dari semua jenis uang yang dicetak. Ketika seorang petani kaya menjual harta bendanya untuk satu sak  kerang kuwuk dan pergi membawanya ke provinsi lain, dia percaya bahwa sesampainya di tujuan, orang lain akan bersedia menjual kepadanya beras, rumah, dan ladang, ditukar dengan kerang-kerang itu. Dengan demikian, uang adalah sebuah sistem saling percaya, dan bukan sembarang sistem saling percaya: uang adalah sistem saling percaya yang paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan.

Yang menciptakan kepercayaan ini adalah suatu jalinan relasi-relasi politik, sosial, dan ekonomi yang sangat rumit dan jangka panjang. Mengapa saya mempercayai kerang kuwuk, koin emas, atau kertas dolar? Karena para tetangga  saya  mempercayainya juga. Dan, para tetangga saya mempercayainya karena saya mempercayainya. Dan, kami semua mempercayainya karena raja saya mempercayainya dan memintanya sebagai pajak, dan karena pendeta kami mempercayainya dan memintanya sebagai sedekah. Ambillah selembar kertas dolar dan perhatikan baik-baik. Anda akan melihat bahwa ia hanyalah selembar kertas berwarna dengan tanda tangan Menteri Keuangan Amerika  Serikat  di  satu  sisi, dan slogan “In God We Trust” di sisi lainnya. Kita menerima  dolar sebagai pembayaran karena kita percaya ada Tuhan dan Menteri Keuangan Amerika Serikat. Peran krusial kepercayaan menjelaskan mengapa sistem keuangan kita juga sangat erat terkait dengan sistem politik, sosial, dan ideologi kita, mengapa krisis finansial sering dipicu oleh perkembangan politik, dan mengapa pasar saham bisa naik atau turun bergantung pada bagaimana perasaan pedagang pada pagi hari.

Baca Juga:  Bab 7 Sapiens – Yuval Noah Harari: Memori Kelebihan Muatan, Bagian Dua: Revolusi Agrikultur

Pada mulanya, ketika versi-versi pertama uang diciptakan, orang tidak memiliki bentuk kepercayaan seperti ini sehingga diperlukan  untuk  mendefinisikan  sesuatu  sebagai  “uang”  yang memiliki nilai intrinsik riil. Uang pertama yang dikenal sejarah—uang jelai Sumeria—adalah contoh yang bagus. Uang itu muncul di Sumeria sekitar 3000 SM, pada saat dan tempat yang sama, dan dalam keadaan yang sama, ketika tulisan muncul. Sebagaimana berkembangnya tulisan untuk menjawab kebutuhan dari intensifnya aktivitas-aktivitas administratif, begitu pula uang jelai berkembang untuk menjawab kebutuhan dari intensifnya aktivitas-aktivitas ekonomi.

Uang jelai hanyalah jelai—jumlah tertentu biji-bijian jelai yang digunakan sebagai ukuran universal untuk menilai dan menukar barang lain dan jasa. Pengukuran yang paling umum adalah sila, setara kira-kira satu liter. Mangkuk-mangkuk standar, yang bisa menampung satu sila, diproduksi massal sehingga kapan pun orang perlu membeli atau menjual sesuatu, mudah untuk mengukur jumlah jelai yang diperlukan.  Gaji,  juga,  diatur dan dibayar dalam ukuran sila jelai. Seorang buruh laki- laki mendapatkan 60 sila sebulan, seorang buruh perempuan menerima 30 sila. Seorang mandor bisa menerima antara 1.200 sampai 5.000 sila. Seorang mandor yang paling rakus pun tidak mungkin bisa menghabiskan 5.000 liter  jelai  sebulan,  tetapi  dia bisa menggunakan sila-sila yang tidak dimakan untuk membeli semua jenis komoditas lain—minyak kambing, budak, dan makanan apa pun selain jelai.[5]

Meskipun jelai memiliki nilai intrinsik, tidak mudah meyakin­kan orang untuk menggunakannya sebagai uang dibandingkan komoditas lain. Untuk memahami mengapa demikian, coba pikirkan apa yang terjadi jika Anda membawa satu sak penuh jelai ke pusat belanja setempat, dan berusaha  membeli  baju  atau piza. Pedagang mungkin memanggil petugas sekuriti. Toh, tetap lebih mudah membangun kepercayaan pada jelai sebagai jenis uang pertama karena jelai memiliki nilai biologis inheren. Manusia bisa memakannya. Di sisi lain, sulit untuk menyimpan dan mengangkut jelai. Terobosan riil dalam sejarah moneter terjadi ketika orang mendapatkan kepercayaan pada uang yang tidak memiliki nilai inheren, tetapi lebih mudah untuk disimpan dan diangkut. Uang seperti itu muncul di Mesopotamia kuno pada pertengahan milenium ke-3 SM. Ia adalah shekel perak.

Shekel perak bukan koin, tetapi perak seberat 8.33 gram. Ketika Undang-Undang Hammurabi mendeklarasikan bahwa seorang laki-laki kalangan atas yang membunuh seorang budak perempuan harus membayar pemiliknya 20 shekel perak, itu berarti dia harus membayar 166 gram perak, bukan 20 koin. Sebagian besar istilah moneter dalam Perjanjian Lama disebutkan dalam ukuran perak, bukan koin. Para saudara Joseph menjualnya ke orang Ismailiyah seharga 20 shekel perak, atau 166 gram perak (harga yang sama dengan budak perempuan—padahal dia waktu itu seorang pemuda).

Tak seperti sila jelai, shekel perak tak punya nilai inheren. Anda tidak bisa memakannya, meminumnya, atau mengenakan pakaian perak, dan perak terlalu lunak untuk dibuat alat yang berguna—mata bajak atau pedang perak tak ubahnya aluminium foil yang langsung mengkerut kalau digunakan untuk keperluan semacam itu. Ketika digunakan untuk kebutuhan  lain,  perak  dan emas bisa jadi perhiasan, mahkota, dan simbol-simbol status lain—barang-barang mewah yang digunakan kalangan tertentu untuk mengidentifikasi status tinggi. Nilainya murni kultural.

Penetapan bobot logam mulia akhirnya melahirkan koin. Koin pertama dalam sejarah muncul sekitar 640  SM,  dibuat oleh Raja Alyartes dari Lydia, di bagian barat Anatolia. Koin- koin ini memiliki bobot standar emas atau perak, dan dicetak dengan lambang identifikasi. Lambang itu menjadi saksi  dua hal. Pertama, ia mengindikasikan seberapa tinggi nilai logam mulia yang terdapat pada koin itu. Kedua, ia mengidentifikasi otoritas yang mengeluarkan koin dan yang menjamin isinya. Hampir semua koin yang digunakan sekarang adalah keturunan dari koin-koin Lydia.

Koin memiliki dua keunggulan penting dibandingkan benda- benda logam tak bertera. Pertama, yang disebut belakangan harus ditimbang setiap transaksi. Kedua, penetapan bobot logam tidaklah cukup. Bagaimana pembuat sepatu tahu bahwa perak yang saya serahkan untuk membeli bot benar-benar perak murni, dan

bukan timah yang dilapisi bagian luarnya dengan perak? Koin membantu mengatasi problem ini. Lambang yang dicetak pada koin menjamin nilai yang sesungguhnya sehingga pembuat sepatu tak perlu membawa alat pengukur dalam proses pembayarannya. Lebih penting lagi, lambang pada koin adalah penanda otoritas politik yang menjamin nilai koin itu.

Bentuk dan ukuran lambang sangat bervariasi sepanjang sejarah, tetapi pesannya selalu sama: “Saya, Raja Agung Anu bin Fulan, memberi jaminan pribadi bahwa lempengan logam ini berisi persis 5 gram emas. Jika ada orang  yang  berani  memalsukan koin ini, itu berarti dia  memalsukan  tanda  tangan  saya,  yang bisa menodai reputasi saya. Saya akan menghukum kejahatan semacam itu dengan pembalasan paling keras.” Itu sebabnya pemalsuan uang selalu dianggap kejahatan yang jauh lebih serius ketimbang perbuatan penipuan lain. Pemalsuan bukan hanya menipu—ia melanggar kedaulatan, sebuah tindakan subversi melawan kekuasaan, hak-hak istimewa dan sosok raja. Istilah legalnya adalah lese-majesty (melanggar martabat), dan biasanya dihukum dengan penyiksaan dan hukuman mati. Sepanjang orang mempercayai kekuasaan dan integritas raja, mereka mempercayai koin-koinnya. Orang-orang yang benar-benar asing bisa dengan mudah menyetujui nilai satu koin denarius Romawi karena mereka mempercayai kekuasaan dan integritas kaisar  Romawi, yang nama dan gambarnya tertera di dalamnya.

Pada gilirannya, kekuasaan kaisar berada pada denarius. Bayangkan betapa sulitnya mempertahankan Imperium Romawi tanpa koin—jika kaisar harus menaikkan pajak dan membayar gaji dengan jelai dan gandum. Tentu tidak mungkin mengumpulkan pajak jelai di Suriah, mengangkut dana-dana itu ke pusat perbendaharaan di Roma, dan mengangkutnya lagi ke Inggris untuk membayar legiun-Legiun disana. Betapa sama sulitnya mempertahankan imperium jika para penduduk Roma sendiri memercayai koin emas, tetapi orang Gauls, Yunani, Mesir, dan Suriah menolak mempercayai itu, dan lebih mempercayai kerang-kerang kuwuk, manik-manik gading, atau lembar-lembar pakaian.

Aroma Uang

Salah satu koin paling awal dalam sejarah, dari Lydia pada abad ke-17 SM.
Salah satu koin paling awal dalam sejarah, dari Lydia pada abad ke-17 SM.

Kepercayaan pada koin-koin Romawi begitu kuat sehingga bahkan di luar batas-batas imperium orang-orang dengan senang menerima pembayaran dalam denarius. Pada abad ke-1 M, koin- koin Romawi diterima sebagai alat tukar di pasar-pasar India, sekalipun legiun terdekat Romawi berada ribuan kilometer dari sana. Orang India memiliki kepercayaan yang begitu kuat pada denarius dan citra kaisar sehingga ketika penguasa setempat membuat koin sendiri, mereka meniru denarius, sampai ke potret kaisar Romawi! Nama “denarius’” pun menjadi nama generik untuk koin. Para khalifah Muslim meng-Arab-kan  nama  itu  dan mengeluarkan “dinar”. Dinar masih menjadi nama resmi mata uang di Yordania, Irak, Serbia, Makedonia, Tunisia, dan beberapa negara lain.

Ketika model koin Lydia menyebar dari Mediterania sampai ke Samudra Hindia, China mengembangkan sistem moneter yang agak berbeda, berbasis koin-koin perunggu dan perak serta emas tak bertera. Meskipun demikian, kedua sistem moneter itu memiliki cukup banyak kesamaan (terutama kepercayaan pada emas dan perak) sehingga relasi moneter dan komersial yang erat terjalin antara zona China dan zona Lydia. Para pedagang serta penakluk Muslim dan Eropa pelan-pelan menyebarkan sistem Lydia dan Injil Emas jauh ke sudut-sudut Bumi. Sampai dengan era modern, seluruh dunia merupakan satu zona moneter tunggal, yang mula-mula bertumpu pada emas dan  perak,  kemudian pada beberapa mata uang terpercaya seperti pound Inggris dan dolar Amerika.

Baca Juga:  Bab 4 Sapiens – Yuval Noah Harari: Banjir, Bagian Satu: Revolusi Kognitif

Munculnya zona moneter tunggal transnasional dan transkultural ini meletakkan pondasi unifikasi Afro-Asia,  dan akhir ke seluruh muka Bumi, menjadi satu bidang tunggal ekonomi dan politik. Orang terus berbicara dengan bahasa yang saling tidak bisa dimengerti, mematuhi penguasa-penguasa yang berbeda dan menyembah Tuhan-Tuhan yang berbeda, tetapi semua memercayai emas, perak, dan koin emas serta koin perak. Tanpa kesamaan kepercayaan ini, jaringan perdagangan global tentu tidak mungkin ada. Emas dan perak yang ditemukan pada abad ke-16 oleh para penakluk Spanyol di Amerika memungkinkan para pedagang Eropa membeli sutra, porselen, dan cabe di Asia Timur; sehingga menggerakkan roda-roda pertumbuhan ekonomi di Eropa maupun Asia Timur. Sebagian besar emas dan perak yang ditambang di Meksiko dan Andes ini menyelinap melalui jemari Eropa untuk menemukan rumahnya yang nyaman di dompet-dompet para pembuat sutra dan porselen  China.  Apa yang terjadi pada ekonomi global seandainya China tidak menderita “penyakit hati” yang sama yang mendera Cortes beserta rombongannya—dan menolak menerima pembayaran dalam emas dan perak?

Akan tetapi, mengapa orang China, India, Spanyol, dan kaum Muslim—yang kulturnya sangat berbeda, yang gagal menyepakati banyak hal—harus sama-sama memercayai emas? Mengapa tidak terjadi bahwa orang Spanyol meyakini emas, sedangkan Muslim memercayai jelai, orang India memercayai kerang kuwuk, dan orang China meyakini lembaran sutra? Para ekonom sudah punya jawabannya. Begitu perdagangan menghubungkan dua wilayah, kekuatan penawaran dan permintaan cenderung menyetarakan harga barang-barang yang bisa diangkut. Untuk memahami mengapa bisa demikian, pikirkan sebuah kasus hipotesis. Asumsikan bahwa ketika perdagangan reguler terbuka antara India dan Mediterania, orang-orang India tidak tertarik pada emas sehingga nilainya hampir tidak ada. Namun, di Mediterania, emas adalah sebuah lambang status idaman, dan karena itu nilainya tinggi. Apa yang terjadi kemudian?

Para pedagang antara India dan Mediterania akan melihat perbedaan dalam nilai emas. Untuk mendapatkan keuntungan, mereka membeli emas yang murah di India dan menjualnya dengan harga tinggi di Mediterania. Akibatnya, permintaan akan emas di India meroket, dan begitu juga nilainya. Pada saat yang sama Mediterania akan mengalami aliran emas, yang karena itu nilainya pun turun. Dalam waktu singkat nilai emas di India    dan Mediterania akan setara. Hanya dengan fakta bahwa orang Mediterania memercayai emas akan menyebabkan orang India mulai mempercayainya juga. Sekalipun bila emas tak ada gunanya yang riil bagi orang India, fakta bahwa orang Mediterania menginginkannya saja sudah cukup untuk membuat orang India menghargainya.

Demikian pula, fakta bahwa orang lain memercayai kerang kuwuk, dolar, atau data elektronik, itu sudah cukup untuk memperkuat keyakinan kita padanya, sekalipun jika orang itu dibenci, diremehkan, atau diolok-olok oleh kita. Orang Kristen dan Muslim yang tidak bisa menyepakati keyakinan religius tetap bisa menyepakati keyakinan moneter karena walaupun agama meminta kita mempercayai sesuatu, uang meminta kita mempercayai sesuatu yang dipercayai orang lain.

Selama ribuan tahun, para filsuf, pemikir, dan nabi mencela uang dan menyebutnya akar dari semua kejahatan. Boleh setuju boleh tidak, uang juga adalah puncak toleransi manusia. Uang lebih berpikiran terbuka ketimbang bahasa, hukum negara, norma budaya, keyakinan religius, dan kebiasaan-kebiasaan sosial. Uang adalah satu-satunya sistem kepercayaan yang diciptakan manusia yang bisa menjembatani hampir setiap jurang kultural, dan yang tidak mendiskriminasi berdasarkan agama, gender, ras,  usia,  atau orientasi seksual. Berkat uang, bahkan orang yang tidak saling kenal dan tidak saling percaya tetap bisa bekerja sama secara efektif.

Harga Uang

Uang didasarkan pada dua prinsip universal:

  1. Konvertibilitas universal: dengan uang sebagai sebuah alkemis, Anda bisa mengubah ranah menjadi kesetiaan, keadilan menjadi kesehatan, dan kekerasan menjadi pengetahuan.
  2. Kepercayaan universal: dengan uang sebagai perantara, setiap ada dua orang bisa bekerja pada proyek apa pun.

Prinsip-prinsip ini memungkinkan jutaan orang asing bekerja sama secara efektif dalam perdagangan dan industri. Namun, prinsip-prinsip yang tampak ramah ini memiliki sisi gelap. Ketika segalanya bisa dikonversi, dan ketika kepercayaan bergantung pada koin-koin anonim dan kerang-kerang kuwuk, ia mengeroposkan tradisi-tradisi, hubungan-hubungan intim, dan nilai-nilai lokal manusia, mengganti semua itu dengan hukum dingin penawaran dan permintaan.

Komunitas-komunitas dan keluarga-keluarga manusia selalu didasarkan pada keyakinan hal-hal yang “tak ternilaikan”, seperti kehormatan, loyalitas, moralitas, dan cinta. Hal-hal ini berada di luar domain pasar, dan tak akan dibeli atau dijual dengan uang. Sekalipun pasar menawarkan harga yang bagus, hal-hal tertentu tak bisa dijual. Orangtua pasti tidak akan menjual anak mereka ke perbudakan; seorang pemeluk Kristen taat pasti tidak mau melakukan dosa besar; seorang kesatria yang loyal pasti tidak pernah mengkhianati tuannya; dan tanah-tanah leluhur suku tidak akan pernah dijual kepada orang asing.

Uang selalu berusaha menerobos hambatan-hambatan ini, seperti air menyusup melalui celah-celah bendungan. Orangtua terdesak menjual sebagian anaknya ke perbudakan demi membeli makanan bagi yang lain. Pemeluk Kristen taat membunuh, mencuri, dan menipu—dan belakangan menggunakan hasilnya untuk membeli pengampunan dari gereja. Para kesatria ambisius melelang kesetiaannya pada penawar tertinggi, dengan tetap menjaga kesetiaan para pengikutnya dengan pembayaran uang.

Tanah-tanah suku dijual ke orang asing dari sisi lain dunia dalam rangka membeli tiket masuk ke ekonomi global. Uang punya sisi yang lebih gelap lagi. Meskipun uang membangun kepercayaan universal di antara orang-orang yang asing satu sama lain, kepercayaan itu sesungguhnya diinvestasikan tidak pada manusia, masyarakat, atau nilai-nilai sakral, tetapi pada uang itu sendiri dan pada sistem impersonal yang menopangnya.

Kita tidak mempercayai orang asing, atau tetangga sebelah rumah, kita mempercayai koin yang mereka pegang. Jika mereka kehabisan koin, kita kehabisan kepercayaan. Saat uang meruntuhkan bendungan kemanusiaan, agama, dan negara, dunia berada di ambang bahaya menjadi sebuah pasar besar tanpa hati.

Oleh karena itu, sejarah ekonomi umat manusia adalah sebuah tarian yang pelik. Orang bergantung pada uang untuk memfasilitasi kerja sama antar orang asing, tetapi mereka takut uang akan mengorupsi nilai-nilai dan relasi-relasi intim manusia. Dengan satu tangan orang bersedia menghancurkan bendungan komunal yang menjauhkan gerakan uang dan komersial begitu lama. Namun, dengan tangan lain mereka membangun sebuah dam-dam baru untuk melindungi masyarakat, agama, bahkan lingkungan dari penghambaan kepada kekuatan pasar.

Kini lazim mempercayai bahwa pasar selalu menang, dan bahwa dam-dam yang didirikan oleh para raja, pendeta, dan masyarakat tidak bisa bertahan lama melawan gelombang uang. Ini naif. Para petarung brutal, kaum fanatik keagamaan, dan warga negara yang peduli sudah berulang-ulang berhasil menghantam para pedagang yang penuh perhitungan, dan bahkan membentuk ulang ekonomi.

Oleh karena itu, tidak mungkin memahami unifikasi manusia sebagai sebuah proses yang murni ekonomi. Untuk memahami bagaimana ribuan kultur yang terisolasi mendekat dari waktu    ke waktu untuk membentuk desa global masa kini, kita harus mempertimbangkan peran emas dan perak, tetapi kita tidak bisa mengabaikan peran krusial yang sama dari baja.

Referensi:
  1. Francisco Lopez de Gomara, Historia de la Conquista de Mexico, vol. 1, cd. D. JoaquinRamircz Cabancs (Mexico City: Editorial Pedro Robredo, 1943), 106.[]
  2. Andrew M. Watson, ‘Back to Gold –  and  Silver’,  Economic  History  Review  20:1 (1967),! 1-12; Jasim Alubudi, Repertorio Bibliografico del Islam (Madrid: Vision Libros, 2003), 194.[]
  3. Watson, ‘Back to Gold – and Silver’, 17-18. David Graeber, Delft: The First 5,000 Years (Brooklyn, NY: Melville House, 2011).[]
  4. Glyn Davies, A History of Money: From Ancient Times to the Present Day (Cardiff: Univcrsityof Wales Press, 1994), 15.[]
  5. Szymon Laks, Music of Another World, trans. Chester A. Kisiel (Evanston, III.: Northwestern University Press, 1989), 88-9. ‘Pasar’ Auschwitz dibatasi pada kelas- kelas tertentu tawanan dan kondisi-kondisi berubah secara dramatis seiring waktu.[]